Connect with us

Budaya / Seni

Suluk Langit dan Doa Air Mata

Published

on

Sebait Doa Kekasih (Foto: dream)

Sebait Doa Kekasih (Foto: dream)

Puisi Faris Al Faisal

Suluk Langit

Angin gurun menerobos celah shafa dan marwah. Menyapu
dinding-dinding batu kabah. Malam terbentang di langit mawar
menurunkan ruhul qudus.

Di baitul haram perjumpaannya dengan baginda membawa
misi suci. Dalam kecepatan cahaya buraq diberangkatkan
menuju baitul maqdis.

Salat yang didirikan menjadi isyarat, tentang derajat
kenabian. Lalu sebuah tangga menghubungkan maqdis
ke sidratul muntaha.

Pada yang demikian para nabi menyampaikan selawat
di saban lapisan. Mengucap keselamatan atas terberkatinya
manusia yang maha indah.

Baginda ditampakkan ilustrasi pembalasan. Segala rupa
orang-orang menerima keadilan. Tiada yang luput
sekalipun tersembunyi di dalam hati.

Pada ritus perjumpaan di suluk langit. Lima waktu
diturunkan sehari semalam. Berjatuhan hujan rahmat
daripada memelihara khusyuknya.

Indramayu, 2018

Rukun Puisi

kata-kata ditegakkan dari rasa,
ungkapan yang terserak di dada,
pada bahasa sembunyikan makna.

baris-baris membusai gerimis,
indah lariknya pelangi berlapis,
persamaan ujungnya demikian manis.

setiap bait mengalirkan irama diksi,
menggumuli alam keindahan imajinasi,
memeluk kenangan yang tiada terperi.

Indramayu, 2018

Buah Kurma

Keberkahan dalam matahari tenggelam
hanyalah sebutir buah kurma yang kukenyam
pemberianmu semalam

Doaku memanjat pohon kurma ke langit
meraba-raba pada titian celah yang sempit
kau tersenyum di atas bukit

Di sini bulan bercahaya pada malam seribu bulan
menerangi kegelapan dengan cahaya alquran
meregas kepura-puraan

Dalam keajaiban pohon-pohon yang merunduk
langit terbentang pada alam yang takluk
dan aku kian tertunduk

Kini setiap kali aku berbuka puasa
buah-buah kurma terhidang di meja
menegur kapan kita bersua

Indramayu, 2018

Doa Air Mata

Terlalu lama aku tak mengeja asma-asma
yang berbilang ganjil itu. Azan hanya terdengar
dalam lubang kubur menunggu jasadku
tersungkur. Lalu kembang-kembang ditebar
memberi keharuman. Seolah ingin menutupi
kebusukan bekas lakuku. Pahatan nisan
kayu yang masih basah. Kubaca namaku
terukir bersama ayahku. Aku menjadi rindu
ibu yang selalu membusai rambutku. Doa air mata
mengalir membasah tanah merah. Orang-orang
berjalan meninggalkan jejaknya. Asap kendaraan
pias tak berbekas. Hanya pohon kamboja
berdiri. Diam setia tak kemana-mana.

Indramayu, 2018

Faris Al Faisal lahir dan tinggal di Indramayu, Jawa Barat, Indonesia. Bergiat di Dewan Kesenian Indramayu. Karya fiksinya adalah novel Bunga Narsis Mazaya Publishing House(2017), Antologi Puisi Bunga Kata Karyapedia Publisher (2017), Kumpulan Cerpen Bunga Rampai Senja di Taman Tjimanoek Karyapedia Publisher (2017), dan Novelet Bingkai Perjalanan LovRinz Publishing (2018) sedangkan karya non fiksinya yaitu Mengenal Rancang Bangun Rumah Adat di Indonesia Penerbit Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2017). Puisi, cerma, cernak, cerpen dan resensinya tersiar berbagai media cetak dan online seperti Kompas, Tempo, Media Indonesia, Republika, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, Lampung Post, Padang Ekspres, Rakyat Sumbar, Radar Cirebon, Radar Surabaya, Radar Sulbar, Radar Banyuwangi, Radar Bromo, Media Jatim, Merapi, Minggu Pagi, Banjarmasin Post, Bali Post, Bangka Pos, Magelang Ekspres, Malang Post, Solopos, Suara NTB, Joglosemar, Tribun Jabar, Tribun Bali, Bhirawa, Koran Pantura, Riau Pos, Tanjungpinang Pos, Fajar Makasar, Serambi Indonesia, Majalah Simalaba, Majalah Hadila, Majalah Suara Muhammadiyah, Tabloid Nova, IDN Times, Sportourism.id, Puan.co, Nyontong.Com, takanta.id, Simalaba.Net, Jurnal Asia, dan Utusan Borneo Malaysia.

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: redaksi@nusantaranews.co atau selendang14@gmail.com

Komentar

Advertisement

Terpopuler