Connect with us

Ekonomi

Sri Mulyani Angkat Suara Terkait Besaran PPN Avtur

Published

on

sri mulyani, menteri keuangan, inflasi, inflasi november, inflasi november 2018, nusantaranews, laporan bps, inflasi month to month, indeks harga konsumen

Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani. (Foto: Istimewa)

NUSANTARANEWS.CO, JakartaMenteri Keuangan Sri Mulyani mengaku akan mengkaji besaran Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas avtur agar setara dengan negara-negara lainnya. Menurutnya, masalah tersebut dituding menjadi penyebab tingginya harga tiket pesawat di Indonesia.

“Kalau penerapan PPN itu sama, kita akan berlakukan sama. Jadi, kita lihat supaya tidak ada kompetisi tidak sehat antara Indonesia dengan yang lainnya,” kata Sri Mulyani seperti dikutip laman Setkab, Jakarta, Selasa (12/2/2019).

Lebih lanjut Sri Mulyani mengungkapkan pemerintah akan membandingkan PPN avtur di Indonesia dengan tarif negara-negara lain.

Baca juga: Jokowi Dinilai Salah Alamat Tuding Pertamina di Balik Mahalnya Harga Tiket Pesawat

Sri Mulyani menjelaskan, bila tarif PPN sifatnya adalah level of playing field, maka pihaknya akan bersedia untuk membandingkan dengan negara-negara lain seperti Singapura dan Malaysia.

“Kalau itu sifatnya adalah level of playing field, kita bersedia untuk membandingkan dengan negara-negara lain, dengan Singapura, Malaysia,” kata Sri Mulyani.

Dia menambahkan, tarif PPN transaksi avtur untuk keperluan angkutan udara di tanah air mencapai angka 10 persen.

“Tarif tersebut sudah dibebankan sejak 2003. Sementara, tarif PPN atas penyerahan avtur di negara-negara tetangga di Asia Tenggara, masih berkisar satu digit,” katanya.

Sebelumnya, Presiden Jokowi menuding Pertamina memonopoli penjualan avtur. Pernyataan tersebut disampaikan Jokowi saat menghadiri gala dinner HUT ke-50 PHRI di Hotel Grand Sahid, Jakarta Pusat, Senin (11/2).

Baca juga: Presiden Jokowi Diduga Tak Paham Soal Penjualan Avtur

Tudingan Jokowi menuai kritik dari pengamat ekonomi, Defiyan Cori. “Menuding Pertamina sebagai biang keladi dari kenaikan harga tiket pesawat pada 3 bulan terakhir ini adalah tidak tepat sasaran,” kata Defiyan.

Menurut Defiyan, tidak tepat secara konstitusional Presiden mengarahkan sasaran adanya kenaikan harga tiket pesawat yang terjadi pada akhir tahun 2018 dan awal tahun 2019 dengan meminta Pertamina meninjau harga avtur yang berlaku. Sebagai perbandingan, harga avtur Pertamina yang berlaku masih lebih murah dibandingkan dengan harga avtur di negara-negara lain di kawasan Asia Pasifik.

Berdasarkan data WFS Shell dan China National Aviation Fuel (CNAF) dan Blue Sky yang selalu diterbitkan secara periodik, harga avtur Pertamina di Soekarno Hatta 42,3 sen per liter. Harga tersebut lebih murah dibandingkan dengan beberapa harga avtur di bandara internasional lainnya, seperti Changi, Singapura sebagai salah satu bandara tersibuk di dunia yang mencapai 56,8 sen per liter dan bandara INLAND di China yang sebesar 46,13 sen per liternya.

Bahkan harga avtur Pertamina ini perbandingannya dua kali lipat lebih murah dibanding bandara SYD Kingsford di Australia dengan harga 103,11 sen per liter.

(gdn/wbn)

Editor: Gendon Wibisono

Terpopuler