Connect with us

Kesehatan

Seorang Peneliti Berhasil Ungkap Lima Jenis Diabetes yang Berbeda

Published

on

Diabetes (Foto Istimewa)

NUSANTARANEWS.CO – Selama bertahun-tahun, kasus mengenai diabetes oleh sebagian orang hanya diklasifikasikan menjadi tipe 1 dan tipe 2. Tetapi sebuah penelitian terbaru dikutip dati Time.com menunjukkan bahwa sebenarnya ada lima tipe penyakit diabetes yang berbeda, yang dinilai lebih berbahaya daripada yang lain.

Penelitian tersebut diterbitkan di The Lancet: Diabetes & Endocrinology. Dalam pemaparannya, para peniliti mengaku bahwa klasifikasi diabetes terbaru memang perlu dilakukan untuk disampaikan ke masyarakat. Alasannya selama lebih dari 20 tahun terakhir, belum banyak perbaruan.

“Sedikit sekali upaya yang dilakukan untuk mengeksplorasi heterogenitas diabetes tipe 2, walaupun ada panggilan dari kelompok ahli selama bertahun-tahun untuk dilakukan,” kata mereka.

Baca Juga:
Kaya Serat, Ubi Makanan Manis Yang Baik Bagi Penderita Diabetes
Mengenal Lebih Dekat Diabetes Mellitus (DM) dan Cara Mencegahnya

Sebaliknya, penelitian sebelumnya hanya melihat diabetes sebagai penyakit yang paling cepat meningkat di seluruh dunia, dan perawatan yang ada tidak mampu menghentikan arus atau mencegah perkembangan komplikasi kronis pada pasien. Satu penjelasan, adalah bahwa diagnosis diabetes hanya berdasarkan satu pengukuran. Yakni bagaimana tubuh memetabolisme glukosa? Sementara penyakit ini sebenarnya jauh lebih kompleks.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem klasifikasi baru dapat membantu mengidentifikasi orang yang berisiko tinggi mengalami komplikasi. Sekaligus memberi panduan kepada dokter pilihan mereka mengenai perawatan. Para peneliti saat ini mengerjakan alat berbasis web yang bisa memberi pasien pada kelompok tertentu.

Secara khusus, para peneliti menulis, SIDD dan SIRD adalah dua bentuk penyakit baru yang parah yang sebelumnya tertutupi diabetes tipe 2. Mereka menemukan bahwa risiko komplikasi ginjal meningkat secara berkala pada pasien dengan SIRD. “Maka masuk akal untuk menargetkan individu dalam kelompok ini dengan perlakuan intensif,” tulis mereka.

Para peneliti mengatakan bahwa sistem klasifikasi mereka dapat membantu kedua pasien yang baru didiagnosis dan juga mereka yang memiliki diabetes tipe 2 selama bertahun-tahun. Namun, belum jelas apakah pasien dapat berpindah antar kelompok dari waktu ke waktu, dan pengarang mengatakan bahwa mereka belum dapat mengklaim bahwa metode pengelompokan mereka adalah sistem klasifikasi terbaik untuk subtipe diabetes.

Mereka juga menegaskan, studi yang lebih besar, yang mencakup variabel tambahan dan populasi yang lebih beragam, masih dibutuhkan. (*)

Pewarta: Alya Karen
Editor: Romadhon

Advertisement

Terpopuler