Connect with us

Politik

Sebanyak 39,50 Persen Responden Median Menjawab, Aksi Jokowi di Afghanistan Pencitraan Belaka

Published

on

Presiden Joko Widodo melawan ke Afghanistan, Senin (29/1). (Foto: Twitter Setkab Pramono Anung)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Hasil survei Media Survei Nasional (Median) 1-9 Februari 2018, mengungkapkan ada sejumlah alasan mengapa elektabilitas Joko Widodo terus menurun dari waktu ke waktu. Survei Median menunjukkan angka elektabilitas eks gubernur DKI Jakarta menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Saat ini, elektabilitas Joko Widodo tersisa 35,0 persen, turun dari sebelumnya masih di angka 36 persen. Menariknya, kunjungan dan aksi Jokowi di Afghanistan dijadikan bahan pertanyaan dalam survei Median.

Salah satu faktor yang menyebabkan elektabilitas Jokowi menurun adalah kekecewaan masyarakat terhadap kondisi perekonomian. Survei Median pada Oktober tahun lalu menyebut 36,2 persen masyarakat Indonesia menganggap Jokowi tidak mampu mengatasi permasalahan ekonomi Indonesia. Angka ini kemudian naik pada Februari 2018 menjadi 37,9 persen.

Baca juga: Al-Qaeda dan 16 Tahun Perang Afghanistan

Sementara itu, 15,6 persen masyarakat merasa resah dengan masalah perekonomian Indonesia di era kepemimpinan eks walikota Solo itu. Diikuti masalah harga kebutuhan pokok (13,1%), masalah korupsi (10,1%) dan tarif listrik (9,7%).

Faktor lain yang menyebabkan tingkat keterpilihan Jokowi menurun ialah ketidakyakinan masyarakat terhadap Jokowi untuk membawa negara ini ke arah yang benar.

Median mengajukan sebuah pertanyaan kepada respondennya. Apa menurut anda negara kita sudah menuju ke arah yang benar atau tidak?

Survei Oktober 2017, sebanyak 29,4 persen responden menjawab tidak benar. Kemudian, pertanyaan serupa diajukan di survei setelahnya yakni Februari 2018 dan sebanyak 32,6 persen responden menjawab tidak benar.

Baca juga: Strategi Baru Amerika Serikat di Afghanistan

Indikator lain adalah soal kunjungan Jokowi ke Afghanistan yang disebut sejumlah media sebagai kunjungan paling herois yang dilakukan Presiden Jokowi. Ia disebut-sebut presiden Indonesia paling berani mengunjungi Afghanistan yang tengah dilanda perang dalam 16 tahun terakhir, bahkan enggan mengenakan rompi anti-peluru. Sikap Jokowi ini dipoles sedemikian rupa sehingga muncul opini publik bahwa presiden adalah sosok yang berani dan heroik.

Sayang, menurut survei Median, aksi Jokowi di Afghanistan tak cukup mampu menjadi alat persuasif yang efektif terhadap pemilih.

Median mengajukan sebuah pertanyaan kepada repondennya terkait aksi Jokowi tersebut. Bagaimana anda memandang kunjungan Jokowi ke negara Afghanistan beberapa waktu lalu? Apakah murni tugas kemanusiaan, ataukah murni tugas negara, ataukah menjadi sarana pencitraan juga?

Sebanyak 39,50 persen responden menjawab, pencitraan belaka. Tugas kemanusiaan (17,50%), Tugas Negara (19,80%) dan Tidak Jawab (23,20%).

Baca juga: Shaista Waiz, Pilot Sipil Wanita Pertama Afghanistan

Selanjutnya soal penangkapan terhadap sejumlah aktivis Islam di era kepemimpinan Jokowi. Sebanyak 46,26 persen responden menjawab bahwa aksi penangkapan yang digencarkan oleh pemerintahan Jokowi Tidak Tepat. Tepat (22,46%) dan Tidak Jawab (31,28%).

Pewarta: Alya Karen
Editor: Eriec Dieda

Terpopuler