Connect with us

Cerpen

SAKIT GIGI

Published

on

Sakit Gigi

Sakit Gigi

SAKIT GIGI

Oleh: Muhamad Pauji

Seorang dokter gigi tenpa gelar, Aryo Miftah (biasa dipanggil Dokter Aryo) sudah membuka ruang praktek di depan rumahnya sejak Pk. 07.00 pagi hari. Dia mengambil beberapa gigi palsu, yang terpasang dalam cetakan plester dari wadah kaca, lalu menaruhnya di atas meja bersama beberapa peralatan yang telah disusun rapi. Dia mengenakan kemeja kotak-kotak tanpa kerah, dirapatkan pada lehernya dengan sebuah kancing keemasan, dan celana yang ditarik dengan tali sandang elastis. Dia terlihat kaku dan tirus, dengan tatapan mata yang serba awas dan waspada, tetapi pendengarannya agak tuli dan terbatas.

Ketika selesai mengatur semuanya, dia mengambil bor gigi ke arah kursi prakteknya dan duduk untuk memoles gigi palsu. Setelah jam delapan, dia berhenti sebentar untuk melihat ke arah langit dari jendela, dan dia melihat dua merpati hinggap di atas bubungan rumah tetangga sambil mengeringkan tubuh mereka di bawah sinar matahari.

Tak berapa lama, tiba-tiba seorang anaknya masuk. Ia seorang gadis berusia empatbelas tahun, menghampirinya dengan suara berbisik, “Pak… Bapak!”

“Kenapa? Ada apa?” tanyanya kaget.

“Ada Pak Lurah di luar.”

“Siapa?”

“Pak Lurah! Dia sedang menunggu.”

“Oo Pak Lurah? Bilang saja Bapak nggak ada, sedang keluar.”

Setelah menutup pintu pelan-pelan, ia membersihkan sebuah gigi emas dengan hati-hati. Digenggamnya gigi itu, diperhatikannya lekat-lekat sambil memicingkan matanya. Dari ruang tunggu anak gadisnya masuk lagi ke dalam, dan katanya, “Pak, katanya dia tahu kalau Bapak ada. Tadi dia melihat dari luar jendela. Dia juga mendengar suara Bapak.”

“Sialan! Suruh dia masuk!”

Dia mengamati mesin bor, mengambil beberapa potong pegangan gigi palsu dari kotak kardus. Ketika dia sedang memoles gigi emas, tiba-tiba terdengar ketukan dan ucapan salam.

Baca Juga:  DPR Apresiasi Penerima KB Meningkat di Kabupaten Bekasi

“Wa’alaikum salam, silakan masuk!”

Lurah Desa Jombang itu muncul dari balik pintu. Mukanya pucat dan merah. Dia hanya mencukur sisi kiri wajahnya, tetapi sisi lainnya yang bengkak dibiarkan tumbuh janggut berusia seminggu. Dokter gigi bisa membayangkan malam-malam penderitaan dan keputusasaan pada mata Pak Lurah. Dia menutup laci dengan ujung jarinya dan berkata lembut, “Silakan duduk, Pak Lurah.”

“Terimakasih, Dok.”

Sementara alat-alat dipanaskan, Pak Lurah menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi dan merasa agak nyaman. Napasnya naik-turun. Ia melirik ke arah pedal bor serta wadah kaca dengan botol-botol keramik. Di seberang kursi ada jendela dengan tirai kain setinggi bahu.

Ketika merasakan dokter gigi mendekat, Pak Lurah menguatkan tumit dan berkata tegas, “Tolong cabut saja gigi saya ini, Dok!”

Sang Dokter menoleh ke arah lampu dan menyuruh Pak Lurah membuka mulutnya. Setelah memeriksa gigi yang terinfeksi, ia menutup rahang Pak Lurah dengan tekanan hati-hati.

“Ini tak bisa dibius, Pak,” katanya kemudian.

“Kenapa?” tanya Pak Lurah.

“Karena gusinya bengkak. Ada infeksi. Jadi, tak bisa dibius.”

Pak Lurah menatap mata Dokter. Tiba-tiba suaranya mengiba, “Tolonglah Dok, perlakukan saya dengan baik-baik. Sebab bagaimana saya bisa melayani masyarakat Jombang kalau gigi saya sakit seperti ini…”

“Baiklah Pak Lurah, saya akan coba melakukan yang terbaik untuk Pak Lurah,” katnya basa-basi.

Pak Lurah mencoba untuk tersenyum, meski sang Dokter tak sempat membalasnya dengan senyuman. Dia membawa sebaskom peralatan yang sudah disterilkan ke atas meja kerja dan mengeluarkannya dari air dengan forsep dingin. Lalu, dia mendorong tempolong dengan ujung sepatunya, dan bergerak untuk mencuci tangannya di wastafel. Dia melakukan semua itu tanpa memandang Pak Lurah, meski pandangan Pak Lurah tetap terpancang kepadanya.

Baca Juga:  Kemendagri Fasilitasi Pemda Selesaikan Batas Daerah Agar Tak Hambat Investasi

Sesaat kemudian, sang Dokter merentangkan kakinya dan menggenggam gigi itu dengan forsep panas. Pak Lurah mencengkeram lengan kursi, menjejakkan kakinya dengan segenap kekuatan, dan merasakan kekosongan sedingin es di perutnya, tetapi ia tidak bersuara.

Pak Lurah merasakan gemeretak tulang di rahangnya, dan matanya berkaca-kaca. Tapi dia tidak bernapas sampai dia merasakan gigi itu tanggal. Kemudian dia melihat gigi itu melalui ujung matanya. Rasa sakit itu begitu asing baginya, sehingga dia tak mempedulikan lagi penderitaannya selama satu minggu itu. Kemudian, dia membungkuk di atas tempolong, berkeringat dan terengah-engah. Dia membuka kancing tuniknya dan meraih saputangan dari dalam saku celananya. Dokter gigi memberinya kain bersih.

“Keringkan air mata Bapak,” katanya agak kesal.

Pak Lurah mengelap pipi kiri dan kanannya. Sang dokter menyuruhnya agar berkumur dengan air garam. Sambil mencuci tangan dan mengelapnya, sang Dokter memberikan beberapa jenis obat agar diminum tiga kali sehari.

Pak Lurah kemudian berdiri, sambil membisiki Dokter agar mencatatkan tagihannya. Setelah itu, ia pamit dan mengucap salam. Dokter itu menyambut kepergiannya dari ambang pintu, sambil bertanya, “Ini tagihan untuk Pak Lurah atau untuk kantor desa?”

Ia memoncongkan mulutnya ke telinga Dokter sambil berbisik sekali lagi, “Tagihan buat saya atau kantor desa, itu sama saja.”

“Yang sakit gigi kan Bapak, bukan kantor desa?”

“Pokoknya sama saja, Dokter Edan!!” []

*Penulis: Muhamad Pauji, esais dan cerpenis generasi milenial, juga pagiat organisasi kepamudaan OI (Orang Indonesia)

 

 

Loading...

Terpopuler