Puisi-puisi Karya Moh. Zainur Rozy

Puisi-puisi Kary Moh. Zainur Rozy
Puisi-puisi Kary Moh. Zainur Rozy

 

Menunggu

Ada kalanya ikatan akan putus

Menemukan titik semu: luka

Dari berbagai kenangn yang terombang-ambing angan

Dan segala doa yang selama ini terpanjatkan

Semua fana, sirna seperti sumpah terkulai

Dalam benak yang kini sudah buyar

Menunggu waktu terulang kembali

Akh..memang waktunya terluka

Relung hati pedih menjelma perih

Menjelma runcing pisau

Yang menari dalam angan

 

Lupakan luka, lupakan kenangan

Saatnya belajar berlayar tanpa pengibar

Tanpa mesin yang menggelegar

Terombang-ambing, menunggu sampai kandas

Di dermaga luka

Untuk mengdau siapakah yang setia

Annuqayah, 31 oktober 2021

 

 

 

Salammu perempuan

Salammu perempuan

Memikat sejuta sunyi yang mulai jenuh

Menari seperti kunang-kunang

Untuk menghapus gelap keresahan

Kutitipkan salam kepada angin

Dan teruntuk anganku yang kini terkapar

Melihat realita yang telah tersebar

Kurasakan angin berbisik kepada hati yang terusik

Dengan adanya bintik-bintik gemintang

Deru nafasmu terasa bagai angin

Menjalar ke seluruh tubuh, berbisik aku merindumu

Benarkah itu wahai perempuanku ?

Annuqayah, 31 oktober 2021

 

 

 

Kamu

Melihat cakrawala indah

Di pelabuhan matamu

Mengalir seperti sunset sore hari

Dan tak bosan kutafsiri

Membakar sejuta arti

Dibalik pohon angker penuh misteri

Tersenyum bahagia

Menatap mimpi dalam realita

Ketukan pintu menemani sunyi

Di jalan setapak kau titip rindu ini

Dan semoga dirimu tetap meneani

Annuqayah 03 november 2021

 

 

 

Malam Ini

Malam begitu riang

Dengan suara sunyi menyendiri

Menampakkan gemintang yang mulai tertutup awan

Petanda bahwa akan turun hujan

Memadu rasa denganku yang gundah

Mengkoyak tubuh yang mulai resah

Membakar pepohonan seperti api kecemburuan.

 

Matamu ranum dan indah

Baca Juga:  Puisi-puisi Intan Hafidah Nur Hansah

Menari-nari didalam bunga mawar

Menyerbak aroma kasturi

Yang lama terpantri

 

Semoga kau melihat awan

Yang indah menggelora, gemuruh

Untuk menghujam dada dengan hujan.

Sebab, hati yang selama ini bungkam

Lihatlah disana kasih!

Itulah aku lelaki fana

Memompa darah yang hampir pecah

Memahat rasa, memadu cinta

Terbakar api kerinduan

Terkapar kesedihan.

 

Angin terasa dingin

Menerpa diri ini yang nahas

Mencipta perihal luka

Terjatuh, terinjak, terkikis waktu

Menjadi debu

Annuqayah, 01 november 2021

Tahun Ke Tahun Yang Akan Dilewati

“Suatu saat nanti, yang termaktub akan terjadi

Dari alkisah menjadi peristiwa”

Pohon-pohon rimbun menjadi kebun

Dari ladang menjadi bangunan

Akan tetapi embun telah menyayat

Pada tubuh ini yang terlelap

Annuqayah, 02 November 2021

 

 

 

Surat Kecil Buat Adikku

Adikku

Kenapa kau meracau pada angin

Berbisik kepada angan

Dan mendengarkan debur ombak berpadu lagu

Akannkah menenangkanmu? adikku

 

Sungai mengalir dari hilir

Menjelajahi akar pepohonan

Tersaring menjadi pemandangan

Yang indah bersama senyuman

Menantimu disetiap kecupan

 

Supaya bintik-bintik rindu

Berpadu menjadi satu

Melesat indah di gelapnya malam

Merajut aksara menjadi doa

Ku menengadah, mengadu kepada tuhan

Bahwa aku sedang merindumu, adikku

Anuuqayah, 02 November 2021

 

 

 

Senja

Kelopak matamu

Melukis sanubari rindu

Pada kegelapan malam

yang indah nan syahdu

menyusuri jalan setapak lekuk wajahmu

dihimpit pelipis mata dan pipi merona

yang selalu kau suguhkan untukku

 

samar-samar, ayu wajahmu mengintip di kendela

berupaya masuk untuk hidup bersama

namun, sejengkal demi sejengkal kau berubah

menghindar dan hilang untuk sekian kalinya

kaulah senja penghantar rindu

untuk menghapus ingatan yang lalu

Baca Juga:  Pemuda, Asmarakita, Musim Bahagia, Puisi-puisi Hari Alfiyah

annuqayah, 04 November 2021

 

*Lelaki yang lahir dengan deraian syukur 23 Mei 2003, menginjakkan kaki pertama kali di tanjung, Gedang-gedang, Batuputih, Sumenep. Mencari jati diri di PP. Annuqayah Lubangsa, mengabdi sebagai santri yang bergiat di kepengurusan Ikatan Santri Batuputih (Iksbat). Mengikuti alur kehidupan bersama Liur Pena Sastra (Lipensa), Sanggar Pangeran, Istana Pers Jancukers (IPJ). Mendidik diri sebagai OSIS dan Siswa MA Tahfidh Annuqayah, bisa menjalin silaturrahim lewat E-mail [email protected] dan Ig Gelenk_Gelenk.