PII Sesalkan Tidak Aktifnya Pusat Sains dan IPTEK di Sejumlah Daerah

Presiden Direktur PT Cirebon Power Heru Dewanto. (FOTO: NUSANTARANEWS.CO/Dok. Pribadi)
Presiden Direktur PT Cirebon Power Heru Dewanto. (FOTO: NUSANTARANEWS.CO/Dok. Pribadi)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Persatuan Insinyur Indonesia (PII) menyesalkan tidak aktifnya sebagian besar pusat sains dan IPTEK di sejumlah daerah di Indonesia. Bahkan, beberapa dari pusat sains itu ditutup oleh Pemerintah Daerah setempat. Padahal, pusat sains dan IPTEK seharusnya bisa menjadi sarana bagi masyarakat luas untuk lebih mengenal sains dan IPTEK, sekaligus mendorong generasi muda untuk lebih mencintai sains dan melakukan berbagai eksperimen ilmiah.

Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua Umum PII Heru Dewanto, menanggapi laporan bahwa 15 dari 24 pusat sains dan IPTEK di beberapa daerah yang tidak aktif atau ditutup karena terkendala anggaran dana, kurangnya tenaga kerja, serta perubahan kebijakan dari Pemda setempat.

Baca Juga:

“Kami menyesalkan sikap Pemerintah Daerah yang tidak memberikan perhatian pada perkembangan sains dan IPTEK bagi masyarakatnya. Penonaktifan atau bahkan penutupan pusat sains dan IPTEK ini secara tidak langsung akan menghambat inovasi dalam negeri. Ketika inovasi itu berhenti, maka bangsa ini selamanya hanya akan menjadi bangsa pengikut atau follower dan sulit menjadi pemimpin dunia,” tegas Heru Dewanto.

Di dalam buku yang ditulisnya berjudul INOVASI, Heru menjelaskan bahwa penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Kemajuan Teknologi merupakan tolok ukur kemajuan dan peradaban bangsa. Kemajuan peradaban manusia hingga hari ini utamanya dihasilkan dari inovasi dan temuan teknologi. Karena itu, hanya negara-negara yang menguasai IPTEK dan karenanya mampu berinovasi yang mampu menjadi pemimpin di dunia.

Keberadaan pusat sains dan IPTEK di Indonesia juga dinilai bisa membuat masyarakat, terutama generasi muda Indonesia, untuk dapat megenal sains lebih dekat dan dengan cara yang menarik. Pengenalan terhadap sains, eksperimen dan teknologi juga bisa menarik lebih banyak calon mahasiswa untuk mendalami ilmu teknik di perguruan tinggi.
Data dari PII menyebutkan, saat ini jumlah mahasiswa yang belajar teknik hanya 14% dari jumlah seluruh mahasiswa di Indonesia. Tapi, hanya 50% lulusannya di sektor keinsinyuran.

Baca Juga:  Meriam Caesar Jadi Primadona Warga Madiun di Pameran Alutsista

Data dari Asosiasi Science Center Indonesia menyebutkan, ada beberapa pusat sains yang tidak aktif atau tutup sementara dengan tidak menerima kunjungan dari para siswa sekolah.

Ada pula pusat sains yang “mati suri” dengan tidak mengembangkan alat peraga yang ada di dalamnya karena minimnya anggaran dana. Beberapa pusat sains tersebut antara lain Pusat Sains Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Science Center Sawahlunto dan Graha Teknologi Palembang. Beberapa pusat sains tidak aktif, seperti di Sulawesi Tenggara dan Cilacap, karena adanya pengalihan pengelolaan akibat restrukturisasi kelembagaan di Pemerintah Daerah.

Pewarta: M. Yahya Suprabana
Editor: Achmad S.