Connect with us

Hankam

Perlombaan Senjata Nuklir di Asia Timur dan Asia Tenggara Ditandai Tiga Kejadian Penting

Published

on

Sistem Pertahahan THAAD

Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) tiba di Seongju, Korea Selatan, 7 September 2017. (Foto: Lee Jong-hyeon/News1 via Reuters)

NUSANTARANEWS.CO, JakartaGlobal Future Institute mengungkapkan potensi meningkatnya perlombaan senjata nuklir di Asia Timur dan Asia Tenggara ditandai oleh tiga kejadian penting.

Pertama, penempatan dan pemasangan Terminal Altitude Area Defense (THAAD) di Korea Selatan. Para pakar studi strategi-keamanan memandang langkah ini merupakan upaya AS untuk meningkatkan postur militernya secara lebih agresif.

Kedua, AS dengan dalih untuk latihan militer bersama dengan negara-negara sekutunya telah mengirim pesawat pembom B-52 dan B-52H, yang bermuatan senjata nuklir ke atas perairan Laut Cina Selatan di kawasan Asia Tenggara.

Ketiga, semakin agresifnya AS mendukung dan memfasilitasi negara-negara Asia yang termasuk sekutu strategisnya, termasuk peningkatan dan pengembangan senjata nuklirnya seperti Jepang, Taiwan dan Korea Selatan.

Pada saat yang sama, dirilisnya The US National Security Document pada akhir 2016 lalu yang mana pemerintahan Presiden Donald Trump menetapkan Cina, Rusia, Iran dan Korea Utara sebagai musuh utama dalam persaingan global saat ini kiranya juga harus menjadi fokus perhatian Indonesia dan negara-negara di kawasa Asia Tenggara (ASEAN).

Aspek lainnya ialah soal adanya campur tangan kepentingan bisnis yang ditengarai akan semakin memainkan pengaruh besar dalam memicu dan meningkatnya perlombaan senjata nuklir di berbagai kawasan, tak terkecuali Asia Tenggara.

Bagaimana pun, politik luar negeri AS melalui Indo Pasifik merupakan manuver untuk membangun aliansi keamanan. Dan secara tersirat, tujuannya ialah membendung kekuatan Tiongkok yang kini tengah gencar membangun program ambisius Belt and Road Initiatives.

(eda)

Editor: Eriec Dieda

Loading...

Terpopuler