Connect with us

Berita Utama

People Power Kalahkan Ahok? Catatan Harian Seorang Konsultan Politik Bag I

Published

on

Ilustrasi Aksi 411 di Jakarta/Foto: Dok. Okezone
Ilustrasi Aksi di Jakarta/Foto: Dok. Okezone/Nusantaranews

Oleh: Denny JA*

NUSANTARANEWS.COThe power in people is much stronger than the people in power. Ketika rakyat menyatu, digerakkan oleh passion mencari keadilan, melawan tirani, maka tembok paling kuat dari kekuasaanpun roboh!

Tak heran negara paling super power di dunia saat itu, Uni Sovyet, bubar. Hitler, yang hampir menguasai dunia, tumbang. Tak ada kekuatan yang lebih kuat dibandingkan rakyat yang sudah menyatu dan ikhlas mengambil semua resiko.

Itu yang kemudian dikenal dengan nama people power. Dalam pilkada Jakarta, versi lain dari people power itu, sekali lagi versi yang berbeda dari people power itu bekerja.

Mengapa dalam pilkada Jakarta disebut versi lain dari people power? Itu karena dalam pilkada bertarung kandidat yang sama sah dan legal. Mereka sama sama tokoh baik dan tokoh pujaan di mata pendukung masing-masing. Ini bukan good versus evil. Ini Baik versus Baik di mata penyokong masing-masing.

Loading...

Banyak pihak berperan mengalahkan Ahok. Namun peran paling besar adalah spirit yang menggerakan people power. Ahok dikalahkan oleh sebuah momen yang tidak direkayasa oleh satu-dua orang, tapi sinerji aneka variabel baik yang dirancang, ataupun yang datang tak terduga.

Itulah kesimpulan akhir saya selaku konsultan politik. Saya memegang data sebelas kali survei di Jakarta sejak Maret 2016 hingga April 2017. Saya bekerja dengan rencana dan strategi. Namun harus saya akui banyak yang masih tak terjelaskan yang akhirnya Ahok dikalahkan secara telak.

Sejak Maret 2016, saya mengekspresikan opini soal pilkada Jakarta. Tak terduga total yang sudah saya publikasi sebanyak Lima pulih satu tulisan. Mayoritas tulisan itu analisis survei, yang merekam opini, harapan, kemarahan, kekecewaan pemilih Jakarta. Banyak pula tulisan berupa puisi.

Baca Juga:  Ini Peringkat Kemendikbud Saat Ahok Sindir Anies di Debat Pilkada DKI II

Sejak awal saya sudah memposting aneka tulisan itu dalam project web Inspirasi.co. Bahkan sejak awal saya sudah memilih judulnya.  Sudah ditulis sebagai nama project buku itu: People Power Kalahkan Ahok. Padahal ketika tulisan pertama dibuat di April 2016, Ahok masih sangat perkasa, seolah mustahil dikalahkan.

Bagi yang rindu ingin membuka kembali dokumen pilkada Jakarta 2017 sejak awal; bagi yang mulai ingin menganalisa Pilkada Jakarta lebih serius secara akademik; bagi yang ingin merasakan passion dan dinamika sebuah momen pilkada, terimalah hidangan ini. Anggaplah ini catatan harian seorang konsultan politik. Ini buku penuh data riset. Banyak analisis. Tapi tak kurang hadir pula perspektif dan passion.

***

Ketika menjadi aktivis mahasiswa di tahun 1980-an, saya cukup intens mengunjungi Sutan Takdir Alisyahbana. Ia budayawan, sastrawan, juga seorang entrepreneur. Banyak renungan yang saya dapat darinya.

Satu kutipan yang saya ingat hingga kini, ia menggambarkan tentang sosok pemikir besar. Ujarnya, pemikir besar itu seperti ayam yang berkokok. Sebelum matahari terbit, sebelum orang banyak sadar fajar segera menyingsing, ayam tahu terlebih dahulu dan berkokok. Akibat kokok ayam itu, masyarakat tahu pagi segera datang.

Pemikir besar adalah mereka yang melampaui pengetahuan zamannya. Ia lantang dan berani berkokok, tak peduli apapun resikonya.

Saya tidak mengklaim dan bukan pemikir besar. Tapi memang untuk pilkada Jakarta, saya sudah melihat dan menuliskan apa yang orang banyak, bahkan pada peneliti belum lihat.

Di bulan Febuari- Maret 2016, setahun sebelum pilkada putaran pertama dimulai, semua survei mengenai pilkada DKI menunjukkan data yang sama. Siapapun calon yang dilawankan ke Ahok, dalam pertanyaan untuk 5- 10 calon gubernur, Ahok sendirian didukung oleh pemilih sebesar di atas 55 persen.

Baca Juga:  Penggiringan Opini Publik Dibalik Teror Novel Baswedan

Survei LSI Denny JA sendiri di bulan Maret 2016, menunjukkan elektabilitas Ahok sekitar 59 persen. Semua calon lain bahkan digabung menjadi satu, totalnya tak sampai 35 persen. Sisa pemilih tak menjawab.

Aneka lembaga survei dan publik luas nyaris sepakat saat itu bahwa Ahok bukan saja akan terpilih kembali. Tapi Ahok akan menang satu putaran saja.

Tanggal 1 April 2016, saya sudah membuat tulisan yang dimuat Inspirasi.co. Tulisan itu cukup meluas dan dibaca para elit. Judulnya justru kebalikannya dengan opini saat itu: Ahok Kuat, tapi Bisa Dikalahkan.

Berbeda dengan keyakinan orang banyak, saya berkeyakinan Ahok memang kuat saat itu, tapi ia akan dikalahkan. Saya tak punya kemampuan paranormal, atau indra keenam. Tapi mengapa saya begitu yakin dengan kesimpulan yang melawan “conventional wisdom,” melawan arus besar era itu?

Jawabnya, analisis data dan jam terbang saya selaku konsultan politik. Saya dianggap founding father profesi konsultan politik Indonesia yang bersandar pada survei opini publik. Sejak pemilu presiden langsung yang pertama di 2004, dan pilkada langsung pertama di 2005 saya sudah terlibat intens menjadi konsultan politik. Saat itu profesi tersebut belum dikenal.

Di tanggal 1 April 2016 itu, saya sudah ikut memenangkan tiga kali pemilu presiden, tiga puluh pilkada gubernur dan lebih dari 70 pilkada kabupaten dan kota madya. Saya sudah mendalami ratusan survei opini publik dan belajar memahami data.

Dari data dan jam terbang itu, saya melawan arus opini di era tersebut. Saya membaca tanda, melihat sinyal yang tersembunyi dalam data. Tak dipungkiri, data menunjukkan Ahok kuat. Bahkan sangat, sangat kuat. Tapi sinyal data juga menyatakan Ahok bisa dikalahkan.

Baca Juga:  Sampaikan Aspirasi Ulama, DPR Bakal Surati Presiden

Saya seperti ayam jago juga berkokok. Tapi publik luas lebih banyak yang tak yakin, bahwa kokok ayam saya itu mengabarkan datangnya fajar.

19 April 2017, setahun kemudian, apa yang saya tulis itu terbukti. Ahok kalah. Saya terlibat aktif ikut mengalahkannya sejak 1 April 2016. Mengapa Ahok kalah? Data, perspektif dan analisa dapat dibaca dalam aneka tulisan bersandar pada riset di buku ini.

Bersambung…

*Denny JA, Pemilik Lingkaran Survei Indonesia (LSI) dan Konsultan Politik Indonesia.
Editor: Romandhon

Loading...

Terpopuler