Connect with us

Cerpen

Pelacur Negeri (Bagian 2: II) – Novelet Yan Zavin Aundjand

Published

on

Lukisan Pablo Picasso "Les Femmes D'Alger" atau "Women of Algiers"/Foto: waow-nesia.blogspot.co.id
Lukisan Pablo Picasso "Les Femmes D'Alger" atau "Women of Algiers"/Foto: waow-nesia.blogspot.co.id

NUSANTARANEWS.CO – Aku tidak bisa mengambil keputusan demi istriku andai dia datang menemuiku saat ini. Istriku pasti marah besar bila sampai dia tahu bahwa aku sedang bersenang-senang dengan perempuan lain, perempuan masa lalu. Sebab selama ini, aku tidak pernah selingkuh di belakang dia. Iya, betapa terpukul batinya, betapa berkeping-keping hatinya. Tapi, kubiarkan saja, yang penting aku selamat dari pantauannya, pikirku menenangkan diri. Aku jujur dengan istriku dengan alasan licikku, oleh karena rinduku dengan teman lamaku, pujaan hati, kekasih dulu yang tak sampai terjadi. Aku adalah suami yang jujur pada istri selama tidak menyelewengkan perasaanku darinya.

Sesampainya di hotel, aku rangkul dia keluar dari taksi menuju kamar meski berjalan sambil seleweran. Aku rebahkan dia di ranjang. Ia masih menikmati tubuhnya yang lelah. Aku kembali mengelus keningnya berharap dia sadar dan terbangun.

“Kita udah di mana?” Tanyanya.

“Udah di hotel.”

“O… kalau kamu mau minum lagi, itu ada minuman di lemari. Tadi aku beli sebelum kita keluar.”

Loading...

“Nggak. Aku nggak mau minum lagi.”

“Yadi… kalau kamu mau minum, minum aja nggak apa-apa,” ucapnya lagi sambil matanya merem.

“Nggak. Kamu istirahat aja.”

“Kenapa?”

“Nggak. Aku udah banyak minum.”

“Minum sana.”

Aku beranjak dari ranjang, dia menarik tanganku. Aku kembali duduk, tangan dipeganginya erat, seakan tidak mau melepas aku pergi. Aku diam saja tanpa berbuat apa-apa.

“Yadi…” panggilnya. “Yadi, mau ke mana?”

“Mau duduk-duduk di loby.”

“Kamu nggak mau nyoba sesuatu, minum…?” Aku dengarkan saja apa yang dia ucapkan. “Kamu benaran nggak mau?”

“Mau apa, Mila…? Aku udah banyak minum.”

“Bukan itu. Kamu…”

Aku mulai tak menghiraukan. Aku tak mengerti apa yang dia maksud. Lama kami diam. Tanganku tetap dia pegang erat. Aku coba membuka tanganku pelan. Pelan-pelan beranjak keluar dari kamar. Perlahan kubuka pintu. Namun, dia memelukku dari belakang. Seketika aku kaget, dan aku benar-benar kaget.

“Mau ke mana?” Tanyanya kemudian.

“Nggak mau ke mana-mana, Mila.”

“Ya udah, di sini aja.”

Baca Juga:  Tentang Hujan dan Pekerjaanku yang Terkesan Haram

Tangannya semakin erat memelukku.

Jumailah menarikku ke ranjang. Dia menunggangi tubuhku sambil dipeluknya erat. Aku tak bisa berbuat apa-apa kecuali aku hanya bisa heran. Kubiarkan dia di atasku meski hati sebenarnya ingin menepis keadaan. Iya, sejujurnya, aku tidak punya maksud melakukan hal yang pernah aku lakukan dengan istriku. Benar aku mencintai Jumailah, tapi hati kecilku tak bisa kubohongi bahwa perasaanku masih takut dengan istriku. Sebenarnya aku tidak mau menodai kesucian malam pertamaku dengan orang lain meski itu cinta pertamaku, oleh karena aku sudah melakukannya dengan istriku.

Di dalam kamar yang hanya ada aku dan dia, aku seperti tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali aku hanya bisa diam. Dia menelusuri bibir dan leherku dengan bibirnya. Tangannya sambil mengelus-ngelus bagian tubuhnya yang banal. Aku jadi tidak ingat istriku lagi. Aku jadi hilang akal. Pikiranku melayang-layang.

Nafasku keluar seolah terbatak-batak. Kenapa dia jadi ganas seperti ini? Apa dia juga pernah melakukan ini dengan lelaki lain? Masih sempat-sempatnya pikiranku bertanya-tanya. Setahu aku waktu dulu masih bersama, kami berdua masih saling menjaga satu sama lain. Aku pun heran, heran yang kubiarkan berlalu menikmati suasana.

“Kenapa kamu mau pergi? Kamu nggak tahu aku kangen!” Ucapnya kemudian.

Aku diam saja tak mau menjawab pertanyaannya. Dia terus sibuk bermain dengan tubuhku yang sudah berkeringat. Aku benar-benar seperti hilang dalam kamar, meski kutahu sinar lampu menyapa kaca di jendela. Aku pun membalas permainannya yang liar tanpa ragu, memperlakukan dia seperti aku memperlakukan istriku. Jeritannya sama seperti jeritan istriku. Nafasnya terus menderu gelombang dada masing-masing, sesekali saling melumat bibir yang ranum, tubuh saling menumpahkan keringat yang telah lama merindu.

Aku tidak menyangka sebelumnya akan menjadi seperti ini. Semoga istriku tidak menungguku di ranjang penganti malam pertama. Aku masih mencintainya. Tapi keadaan ini memaksaku melakukan hal yang sama yang pernah aku lakukan dengan istriku di malam pertama; malam yang penuh keliaran dan kenakalan nafsu.

Jumailah, cintaku yang pertama. Dia sungguh pandai bermain ranjang seperti sudah lama berpengalaman. Dia sama sekali tanpa ragu dan kaku melakukannya. Dia lebih pandai bermain dari istriku. Dia lebih aktraktif, kalau istriku biasanya hanya diam saja. Dia hanya menunggu perintahku saja. Aku jadi terkalahkan dengan liarnya yang membuat pikiranku hilang segala hingga akhirnya tertidur pulas dengan tubuh saling dekap.

Baca Juga:  Pengakuan - Cerpen Sabaruddin Firdaus

Pagi, bangun dari tidur meski mata belum sempurna menatap langit-langit kamar. Jumailah mengajakku kembali bermain seperti yang tadi malam kami lakukan. Kami melakukan sambil berkeramas di kamar mandi. Aku jadi tidak bisa pulang ke rumah. Keadaan ini sungguh membuatku tak tahu, kesadaran hilang begitu saja dari ingatan.

Aku yakin bahwa semua ini tidak hanya semata-mata ketidak tahuanku, tapi keadaan terlalu menuntutku melakukan hal serupa yang pernah aku lakukan dengan istriku.

Selesai keramas, aku duduk santai di kursi di luar kamar. Jumailah sudah selesai berdandan rapi.

“Bagus, nggak?” Tanyanya dengan senyum sambi memperlihatkan penampilannya di depanku. Senyumnya membuatku semakin lupa akan jalan pulang—akan tanggung jawabku pada istri dan anakku. Masa lalu yang benar-benar telah merenggut jiwaku.

“Kita sarapan dulu di bawah,” ajakku.

Kami sarapan di restoran hotel kami menginap. Ada banyak perbincangan, apa pun yang kami ingat di masa lalu, cerita-cerita hiburan, kenakalan, kekonyolan yang membuat kami tertawa mengenangnya. Tapi aku belum bisa menceritakan bahwa aku sudah berkeluarga, pun aku juga tidak bertanya apakah Jumailah sudah pernah berkeluarga atau tidak.

“Yadi,” panggil Mila. “Kamu mau, nggak, ikut aku?”

“Ikut ke mana, Mila?”

“Ikut aku ke Jakarta.”

“Terus aku mau tinggal di mana? Mau kerja apa?”

“Kerjaan, mah, gampang. Pikirkan nanti di Jakarta. Di sini juga nggak kerja, kan?”

“Boleh. Tapi aku harus pulang dulu.”

“Boleh aku ikut?”

“Nggak usah. Mila tunggu di sini aja. Nggak lama, kok.”

“Iya. Biar aku sambil pesan tiket ke Jakartanya, ya.”

Tak lama setelah sarapan pagi itu, aku pulang ke rumah. Meski batin merasa berdosa, aku mencoba tenang seolah tidak terjadi apa-apa. Aku harus ke Jakarta, aku harus bekerja meski harus kutinggal sementara waktu anak dan istriku di rumah. Bukan karena tidak ada lapangan pekerjaan di Surabaya, masalah pekerjaan sangat banyak dan masih terbuka lebar di kota ini.

Baca Juga:  Satu Titik, Cerpen Ali Mukoddas

Tapi entahlah, selama aku keluar dari kerjaanku beberapa bulan lalu, aku jadi malas bekerja lagi. Dan saat ini, aku ingin mencoba kerja di Jakarta. Barangkali di sana aku bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari sebelumnya. Semoga.

“Kenapa nggak cari kerjaan di sini aja, Mas. Kan, biar nggak jauh-jauh dari keluarga.” Kata Istriku, Herlina.

“Iya. Mas ngerti. Tapi mas coba dulu ke Jakarta. Nanti kalau sudah mas dapat kerjaan, kalian mas jemput.”

“Kalau itu sudah niat baik mas, nggak apa-apa. Semoga segera dapat pekerjaan yang lebih baik.”

Aku tak tahu apakah karena seorang Jumailah atau karena ajakannya yang menjanjikan buat hidup lebih baik di Jakarta. Di jalan-jalan menuju hotel tempat kami menginap, pikiran terus bertanya-tanya, tapi aku tetap ingin ke Jakarta bersama Jumailah. Sebagai seorang lawyer, Jumailah pasti punya banyak kenalan pengusaha, pejabat dan orang-orang hebat di Jakarta, dan tak akan sulit untuk mencarikan aku pekerjaan di sana.

“Syukur-syukur aku bisa diberi modal untuk buka usaha sendiri di Jakarta. Entah buka usaha kuliner, warung, atau apalah yang menghasilkan,” pikirku. Jumailah, apakah kepergianku ini karenamu?

(Bersambung…. Baca cerita sebelumnya: Pelacur Negeri (Bagian 2: I) – Novelet Yan Zavin Aundjand)

Yan Zavin Aundjand

Yan Zavin Aundjand

*Yan Zavin Aundjand, Sastrawan asal Madura. Karya-karyanya yang sudah terbit antara lain Labuk Dhellika (Antologi Puisi), Jejak Tuhan (Novel), Tarian di Ranjang Kyai (Novel), Sejarah Agama-agama Besar Dunia (Sejarah), Pinangan Buat Najwa (Antologi Puisi), Kupu-kupu di Jalan Simpang (Antologi Puisi), Bangkai dan Cerita-cerita Kepulangan (Kumpulan Cerpen), Garuda Matahari (Buku), dll. Mukim di Jakarta.

_____________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi karya baik berupa puisi, cerpen, dan esai dapat dikirim langsung ke email: redaksi@nusantaranews.co atau selendang14@gmail.com.

Loading...

Terpopuler