Connect with us

Ekonomi

Oxfam International Sebut Kesenjangan Si Kaya dan Si Miskin di Dunia Semakin Menggila

Published

on

(ILUSTRASI): Kesenjangan sosial-ekonomi. Foto: Blog Unnews

(ILUSTRASI): Kesenjangan sosial-ekonomi. Foto: Blog Unnews

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Perjuangan melawan kemiskinan semakin berat. Oxfam International mengeluarkan sebuah laporan terbaru pada Senin (21/1) menyebutkan bahwa miliarder naik 12 persen tahun 2018. Kekayaan yang diperoleh orang kaya mencapai 2,5 miliar dolar per hari. Sehingga, total penduduk miskin di dunia kini mencapai angka 3,8 miliar. Dengan kata lain, separuh dari penduduk dunia masih berada di bawah garis kemiskinan dari sekitar 7 miliar populasi dunia.

Direktur Eksekutif Oxfam International, Winnie Byanyima mengingatkan, kesenjangan yang sangat lebar antara orang kaya dan orang miskin berpotensi memicu kemarahan publik global. Sistem perpajakan yang membenani masyarakat miskin telah memperlebar kesenjangan antara si kaya dan si miskin. Dengan kata lain, sektor pelayanan publik tidak cukup anggaran dalam menjalankan tugas dan kewajibannya kepada masyarakat.

Kekayaan publik dan kekayaan pribadi, kata Winnie, merusak perjuangan melawan kemiskinan, merusak ekonomi dan bisa memicu kemarahan publik di seluruh dunia. Buruknya pelayanan publik seperti perawatan kesehatan dan pendidikan, yang berlangsung di pemerintahan di seluruh dunia memperburuk fakta ketidaksetaraan tersebut. Perempuan dan anak-anak menjadi pihak yang paling terpukul oleh fakta ketidaksetaraan ekonomi ini.

“Ukuran rekening bank anda seharusnya tidak menentukan berapa tahun yang dihabiskan anak-anak Anda di sekolah, atau berapa lama anda hidup – namun ini adalah kenyataan terlalu mencolok negara di seluruh dunia. Sementara perusahaan dan orang super kaya menikmati tagihan pajak yang rendah, jutaan anak perempuan tidak mendapat pendidikan yang layak dan perempuan sekarat karena kurangnya perawatan kehamilan,” ujar Winnie dikutip dari laman Oxfam International, Senin (21/1/2019).

Laporan Oxfam International mengungkapkan, jumlah miliarder meningkat 12 persen pada 2018. Sementara 3,8 miliar orang miskin di dunia harus menyaksikan aset mereka mengalami penurunan sebesar 500 juta setiap hari. “Orang miskin menderita dua kali lipat karena harus kehilangan layanan dasar dan harus membayar pajak lebih tinggi,” kata Winnie dikutip Reuters.

Sejak krisis keuangan, tahun 2017 dan 2018 justru meningkat hampir dua kali lipat. Miliarder baru bermunculan setiap dua hari sepanjang 2017-2018. Orang-orang kaya baik individu maupun perusahaan membayar pajak lebih rendah.

Selain itu, tarif pajak untuk individu kaya dan perusahaan juga telah dipotong secara dramatis. Misalnya, tingkat tertinggi pajak penghasilan pribadi di negara-negara kaya turun dari 62 persen pada tahun 1970 menjadi hanya 38 persen pada tahun 2013. Tingkat rata-rata di negara-negara miskin hanya 28 persen. “Di beberapa negara, seperti Brasil, 10 persen masyarakat termiskin sekarang membayar proporsi yang lebih tinggi dari pendapatan mereka dalam pajak daripada 10 persen yang terkaya,” laporan Oxfam International.

Pada saat yang sama, layanan publik menderita kekurangan dana kronis. Layanan pendidikan dan kesehatan mewah di banyak negara hanya bisa diakses dan dinikmati orang-orang kaya. Ironisnya, setiap hari 10.000 orang meninggal karena orang miskin tidak memiliki akses terjangkau pada layanan kesehatan.

Oxfam International menyebutkan di negara-negara berkembang, seorang anak dari keluarga miskin dua kali lebih mungkin meninggal sebelum berusia lima tahun daripada seorang anak dari keluarga kaya. Di negara-negara seperti Kenya, seorang anak dari keluarga kaya akan menghabiskan dua kali lebih lama dalam pendidikan daripada anak dari keluarga miskin.

“Orang-orang di seluruh dunia marah dan frustrasi. Pemerintah sekarang harus memberikan perubahan nyata dengan memastikan perusahaan dan individu kaya membayar pajak yang adil dan menginvestasikan uang ini dalam layanan kesehatan dan pendidikan gratis yang memenuhi kebutuhan semua orang, termasuk perempuan dan anak perempuan yang kebutuhannya sering diabaikan. Pemerintah dapat membangun masa depan yang lebih cerah bagi semua orang, bukan hanya segelintir orang yang memiliki hak istimewa,” urai Winnie.

(eda/gdn)

Editor: Gendon WIbisono

Terpopuler