Connect with us

Budaya / Seni

Milad Saul Bellow Novelis AS Peraih Nobel Sastra

Published

on

Saul Bellow. (FOTO: Vanity Fair)

Saul Bellow. (FOTO: Vanity Fair)

NUSANTARANEWS.CO – Salah satu sastrawan Amerika Serikat yang mendapat penghargaan paling bergensi di dunia adalah Saul Bellow. Pada tanggal 10 Juni 1915 (sesuai hari ulang tahun), Saul Bellow lahir di Lachine, Quebec (kini bagian Montreal), Kanada dengan nama Solomon (julukan ‘Sollie’) Bellows dan meninggal pada 5 April 2005 dalam usia 90 tahun.

Pada usia 8 tahun, tulis The New York Time (6/4/2005), Saul Bellow menderita penyakit infeksi saluran pernapasan. Masa sakit ini mengajarkannya kepercayaan diri (ia adalah orang yang tegar meski kutu buku) dan menyediakan kesempatan untuk memuaskan kehausan Bellow untuk membaca: diceritakan ia memutuskan menjadi penulis saat pertama kali membaca Pondok Paman Tom karya Harriet Elizabeth Beecher Stowe.

“Keluarga itu pindah ke daerah pinggiran Chicago, kota yang akan membentuk latar sebagian besar novelnya, saat berusia 9. Ayah Bellow, Abram, adalah importir bawang. Ia juga bekerja di toko roti, mengantarkan batu bara dan sebagai penyelundup Miras,” tulis The New York Times.

Disebutkan The New York Times bahwa, Ibu Bellow yang amat religius, Liza, menginginkan putra bungsunya, Saul, menjadi rabbi atau violinis konser. Namun ia memberontak terhadap apa yang kemudian disebutnya “keortodoksan yang mencekik” dari asuhan religiusnya, dan ia mulai menulis di usia muda.

Kendati demikian, Bellow sudah memiliki kecintaan terhadap Alkibat sejak ia berusia 4 tahun, saat ia belajar bahasa Ibrani. Bellow juga membaca William Shakespeare dan para novelis Rusia abad ke-19 waktu itu. Seorang mahasiswa Universitas Chicago, John Podhoretz berkata bahwa Bellow dan sahabat dekatnya Allan Bloom (lihat Ravelstein), ‘menghirup buku dan gagasan seperti sisa kita menghirup udara’.

Bettina Drew dalam bukunya “Nelson Algren, A Life on the Wild Side,” (Austin: University of Texas Press, 1991) sebagaimana dilansir The New York Time menyebutkan, pada tahun 1930-an, Bellow adalah bagian cabang Chicago WPA Writer’s Project, yang memasukkan para bintang sastra Chicago seperti Richard Wright dan Nelson Algren. Sebagian besar penulis itu radikal: jika mereka bukan anggota Partai Komunis, mereka adalah simpatisan komunisme.

Baca Juga:  Jaga Keutuhan NKRI, Dandim 0808 Deklarasikan Blitar Cinta Papua

“Banyak orang seperti Richard Wright, juga ikut serta dalam cabang John Reed Clubs yang dipimpin Partai Komunis. Ada juga para Stalinis, yang hanya membaca buku yang diakui partai itu, dan para Trotskyis, yang membacakan daftar yang diakui. Bellow adalah seorang Trotskyis dan membaca daftar yang diakui itu. Karena banyaknya jumlah penulis Stalinis, Bellow harus menderitai ejekan mereka,” kata Bettina Drew.

Selama PD II, lanjut Bettina Drew, Bellow bergabung dengan armada niaga dan selama tugasnya ia menyelesaikan novel pertamanya “Dangling Man” (1944). Buku itu berkisah tentang seorang pemuda Chicago yang menunggu ikut perang.

Karir Saul Bellow bermula sebagai pengajar di Universitas Minnesota, New York, Princeton, Chicago, Bard College dan Universitas Boston, di mana ia juga mengajar bersama James Wood. Untuk mengambil atas penunjukannya di Boston, Bellow pindah dari Chicago ke Brookline, Massachusetts pada tahun 1993, di mana ia meninggal pada tanggal 5 April 2005, pada usia 89. Ia dimakamkan di pemakanan Yahudi Shir he harim di Brattleboro, Vermont.

Menurut sumber The New York Time, Bellow memulai studi prasarjanan di University of Chicago namun meninggalkannya untuk menyelesaikan studinya yang bukan dalam bahasa Inggris namun antropologi di Universitas Northwestern. Diperkirakan studi antropologi inilah yang memengaruhi gaya sastranya

Sebelum memulai kariernya sebagai penulis, Bellow menulis ulasan buku untuk masing-masing 10 dolar. Karya awalnya mereputasikannya sebagai salah satu novelis terkemuka abad ke-20, dan di saat kematiannya ia dianggap beberapa pihak sebagai novelis hidup terbesar dalam bahasa Inggris. Ia adalah novelis pertama yang memenangkan National Book Award 3 kali.

The New York Time juga menyebutkan, Bellow nuga menerima dua anugerah sastra paling mahal yakni Hadiah Nobel Sastra 1976 dan National Medal of Arts 1988. Dua penghargaan tersebut diberikan kepada Saul Bellow, salah satunya lantaran Saul secara intens dan konsisten menyuaran isu-isu isolasi, disosiasi spiritual, dan kemungkinan kesadaran manusia, serta menonjolkan darah Yahudinya di dalam novel-novelnya.

Baca Juga:  Aplikasi Indonesia Pintar Sebagai Langkah Kemajuan Pendidikan Indonesia Dalam Rangka Digitalisasi Pendidikan di Era New Normal*

Hal tersebut juga yang menjadikan ciri tersendiri terhadap popularitas Saul Bellow di kancah kesusastraan Amerika dan dunia. Inspirasi itu, ia dapat dari Chicago, kota adopsinya, dan sebagian besar karya-karyanya berlatar di sana.

Karya-karya dia menunjukkan budaya tinggi dan rendah, dan tokoh-tokoh fiktifnya juga campuran pemimpi intelektual dan orang-orang yang percaya diri. Selama dalam beasiswa Guggenheim di Paris, ia menulis sebagian besar novel terkenalnya, The Adventures of Augie March (1953).

Bellow merupakan penulis produktif. Tulisan-tulisannya yang telah dipublikasi meliputi karya fiksi dan non fiksi. Karangan fiksinya, tulis wikipedia, antara lain Dangling Man (1944), The Victim (1947), The Adventures of Augie March (1953), Seize the Day (1956), Henderson the Rain King (1959), Herzog (1964), Mosby’s Memoirs (cerpennya juga tersedia di Collected Stories) (1968), Mr. Sammler’s Planet (1970), Humboldt’s Gift (1975), memenangkan Penghargaan Pulitzer untuk Karya Fiksi 1976, The Dean’s December (1982), Him with His Foot in His Mouth (cerpennya juga tersedia di Collected Stories) (1984), More Die of Heartbreak(1987), A Theft (1989), The Bellarosa Connection (1989), Something to Remember Me By: Three Tales (kumpulan cerita pendek, A Theft and The Bellarosa Connection) (1991), The Actual (1997), Ravelstein (2000), Collected Stories (2001).

Adapun karya non fiksinya yang berupa esai yakni To Jerusalem and Back (1976), It All Adds Up (1994), dan Graven Images (1997). Untuk tulisan dalam bentuk editorial terdiri dari News from the Republic of Letters (from 1997), Editors (Publisher’s information), ANON, The Noble Savage.

Untuk mengetahui tentang sosok dan karya Bellow bisa dibaca dalam beberapa buku yang mengulas tentang Saul Bellow seperti Saul Bellow, Tony Tanner (1965) (lihat juga City of Words (1971), Saul Bellow, Malcolm Bradbury (1982), Saul Bellow: Modern Critical Views, Harold Bloom (Ed.) (1986), Handsome Is: Adventures with Saul Bellow, Harriet Wasserman (1997), Bellow: A Biography, James Atlas (2000), ‘Even Later’ dan ‘The American Eagle’ in Martin Amis, The War Against Cliché (2001). Esai yang terakhir juga ditemukan di edisi Everyman’s Library Augie March, ‘Saul Bellow’s comic style’: James Wood, The Irresponsible Self (2004).(Online extract),

Baca Juga:  KPK Didesak Periksa Irwan Nasir

Tidak hanya dalam bentuk buku, Bellow juga mendapat persembahan dari penggemarnya dalam bentuk musik. Sufjan Stevens pada tahun 2006 merilis album “The Avalanche” yang didalamnya terdapat lagu yang dipersembahkah untuk “Saul Bellow”. Selain itu, kata The New York Time, One passage dalam novel “Henderson, The Rain King” mengilhami Joni Mitchell menulis lagu “Both Sides Now” in 1967. Bahkan, Band rock Australia terkenal Augie March, menamai bandnya menurut tokoh protagonis dalam novel Saul Bellow, The Adventures of Augie March.

 

Penulis: Achmad S.

Editor: M. Yahya Suprabana

Loading...

Terpopuler