Puisi  

Menunggu Jawabanmu, Harapanku yang Hilang

falsafah rindu, hikayat najwa, puisi karya, bj akid, kumpulan puisi, puisi indonesia, nusantaranews
Menunggu jawaban. (Foto: Istimewa)

Menunggu Jawabanmu, Harapanku yang Hilang
Puisi-puisi Aang MZ

 

 

Menunggu Jawabanmu
;Putri raja

Sudah lama menahan rindu
Yang usang terpendam
Pada rembulanmu yang indah bagiku

Hitam manis kulitmu membuatku jadi pecandu
Pada tubuhmu yang sahdu
Segala resah hilang begitu dalam
Menjelma banyangan
Gairahku bertunas darimu
Sehingga terlena-lena dengan kebijakanmu

Jika rindu di ranting tubuhku bisa di timbang akan ku lakukan
Biar kau tau padamu aku merindu
Senyum ranum di bibirmu terkatung-katung di mahkotaku
Yang semakin membara hingga menjadi pelipur lara

Wahai rembulanku
Di sinilah aku ingin mengatakan cinta lewat sajakku
Sebab mencintaimu adalah sufi
Bisakah engkau menjadi kekasihku?
Kini aku hanya mengharap jawabanmu
Yang selaras dengan sajakku
serta menanti seluruh tubuhmu berpolitik pada tubuhku
:sekarang aku sekat kamrat dalam kemarau yang mananti hujan darimu.

Annuqaya , 2019.

 

Bolehkah Aku Mengenalmu

Wahai wanita bercadar
Aku ingin bertaaruf deganmu, lewat puisiku yang setengah bisu
Kalimat pertama hanya ini untukmu:
Siapa namamu?
Sebab pertemuan kita yang sama-sama menatap kelopak mata
Di perahu yang sebadan
Hanya menyisahkan bayangan
Sebab kita tak bisa mengulangi kejadian yang semula

Aku masih ingatdengan pakaianmu
Yang berwarna sehati-hatiku
Warna biru-merah kalau gak salah

Setelah sampai di ambang pintu dermaga
Di situlah perpisahan di mulai
Hanya bayanganmu bersama di asaku
Sampai ketangkai pekarangan

Sore telah tiba
Bayanganmu semakin membara
Di saat senja ingin tengkurup
Menjadi kunang-kunang
Di situlah wajahmu ialah buih keindahan
Hingga menjadi beribu-ribu penasaran
Karena kita tak saling mengenal.

2019.

 

Harapanku yang Hilang

Aku begitu kagum padamu
Ketika batinku bersungguh-sungguh yang kerap membangun
Istana surga di palung dadamu
Entah kenapa engkau membantah dengan cara berlari
Sehingga aku tak dapat melihatmu lagi
Yang merangkul pelangi
Di tenda purnama yang kau miliki

Baca Juga:  Dahnil Sebut Saat Ini Bukan Waktunya Lagi Mengaku Paling Pancasila

Mengapa engkau menjalani perihal itu?
:biar tau penyebab ke pergianmu.

2019.

 

Menunggu Kedatanganmu

Melihat kota pada kidul
Tak bisa di pandang
Kerlap-kerlip suluh bintang
Pada sudut perumahan
Yang bisa di pandang di malam petang
Di ambang batas dermaga yang jadi saksi bisu
Pada perihal itu

Desir angin terasa dingin
Pada tubuh yang kaku
Sebab sinarrnu tak menyinari kegelapan

Namun hanyalah bayangan rembulanmu
Datang menyeruap ketidak pastian
Hingga menjadi resah-gelisah

Asa bisa melintas sekejap mata
Membawamu kesamudra mahkota
Tapi sanubari tak bisa melintas sedemikian rupa
Melainkan hari-perhari ingin bersua
Jika sanubari sekejap mata melintas seperti asa
Maka takkan ada kerinduan di pelupuk batinku yang baka

Kasih, kembalilah pada satu saat kebenihmu
Sebab aku sudah menanti pada kehadiranmu
Akan kutunggu kedatanganmu di dermaga layu
Dengan diam bukan berart bisu
Tapi kedatanganmu akan menjadi kebahagiaanku
Yang hakiki saban waktu.

2019.

 

Ke Batavia, Menangis Darah

Berlayarlah aku
Ke Batavia untuk mencapai hakikat rindu
Dalam kebahagiaanku “kata ibu”

Aku jalani perintah ibu
Meski angin,badai dan panas menampar batin yang ambigu
Di situlah aku tabah di samudra biru
Untuk sampai pada perintah ibu

Namun kian sampai kemuara
Aku hengkang di pelabuhan karang
Yang penuh caci maki oleh orang

Di sanalah aku menangis darah
Yang menjadikan perintah ibu tak searah.

2019.

 

Doaku
;Adinda

Aku menjamu seorang wanita lewat doa
Bersetubuh bersama tuhan yang maha esa
Untuk menyatukan perasaan cinta
Bersama Adinda namanya

Debur ombak riuh-bergemuruh
Terdengar pada tubuh
Yang menjadikanku angkuh
Di atas sejadah-membaca doa beristijabah

Harapanku hanya satu
Ialah satukan perasaan Adinda pada batinku
Karena aku ingin membawa-menuju surga yang satu bersamanya

Baca Juga:  Korban Tewas Kerusuhan Wamena 26 Orang, Pemicunya Diklaim Berita Hoaks

Di bibir pantai aku di saksikan
Oleh penduduk samudra yang berkeringatan
Meskipun sudah di selimuti oleh kebasahaan
Sebab dia tak sanggup mendengar doa
Yang lahir di firman tuhan

:Kabul kanlah permintaanku pada satu titik
Biar tidak berletik-letik.

2019.

 

Saling Mengenal, Menyapa Lewat Senyuman
;Adinda

Padahal kita saling mengenal nama dan makna
Antara 3th-2th kita mengenal
Namun ketika kita berpapasan pada kelopa mata
Dua mataku hingga menjadi empat mata
Di antara kita tak saling menyapa

Apakah kita sungkan unthk menyapa
Atau punya perasaan yang tidak bisa di ungkapkan,
Jujur saja batih ini yang ingin berevolusi kerap untuk menyapa
Apalah daya lisanku tak bekuasa,
Karena takut tak ada respon dari lisanumu

Meskipun kamu tak menyapa
Namun engkau memberikan sesungging senyum manismu padaku
Membuatku tak jemu
Sebab senyum ranum bibirmu bermuara dari istana surga
Hingga tercipta ayat-ayat suci di rahim puisi.

2019.

 

Di Pantai

Malam semakin rembulan
Aku di bibir pantai
Bersama perahu lumpuh,
Semilir angin mengajakku
Bedansa dengan riak gelombang yang riuh dan gemuruh
Sehingga akupun berteduh
Pada kegigilan yang berseduh.

2019.

 

Perjalananku

Dari sumber mengalir
Hingga jadi hilir
Namun di pertengahan hilir
Ada keindahan yang tersumbat ke kolapak mata yang sayu
Hingga seketika membeku

Setelah lindap
Akhirnya mengalir lagi
Bersama sisa ke kelopak mata
Sampai ke pekarangan samudra.

2019.

 

 

 

Penulis: AANG M,Z adalah nama dari pena ACH ATIKUL ANSORI. Lahir di pulau Gili Raja Sumenep.Alumni Nurul Huda II, dan sekarang nyantri di PP. Annuqayah daerah Lubangsa Selatan. Antologi puisinya adalah Rahasiarasa (2019), Penantian (2019), Penaartas (2019). Kini aktif di Sanggar Basmalah.

Baca Juga:  Sempat Terhambat Pembiayaan, DPR RI Pastikan Awal Tahun 2019 Anggaran JLS Cair