Connect with us

Puisi

Membentang Kenangan Bumi yang Damai – Puisi Jose Rizal Manua

Published

on

BUMI YANG DAMAI

Bumi yang damai
Adalah bumi
Di mana anak-anak
Bebas mengembangkan diri
Mengembangkan bakat
Dengan segala kemampuannya.

Seperti putik menjelang mekar
Seperti bunga menjelang kembang.
Demikian akar yang sehat
Merawat dahan, ranting dan daun.
Demikian hendaknya
Tentang hak bagi anak.
Segala tanggung jawab
Ada pada keluarga
Ada pada masyarakat
Ada pada negara.

Bumi yang damai
Adalah bumi
Di mana anak-anak
Dapat bebas berkreasi dalam seni
Berekreasi dalam toleransi
Sambil membangun jatidiri.

Anak-anak di lima benua
Suka belajar
Tapi tidak suka digurui.
Adalah hal yang utama bagi anak-anak
Untuk di rawat dan dilindungi.
Semangat dari anak-anak
Adalah semangat tolong-menolong.
Adalah semangat persaudaraan
Di antara sesama.

Loading...

Berikan anak-anak pujian
Maka mereka akan belajar menghargai.
Berikan anak-anak ketentraman
Maka mereka akan belajar berdamai.

Bumi yang damai
Adalah bumi
Di mana anak-anak
Dapat mengembangkan rasa berbagi.
Mengembangkan sikap dermawan
Dengan jujur dan terbuka.

Seperti pohon yang tinggi
Pohon yang rindang.
Yang berjiwa lapang.
Yang sabar melindungi
Dan memberi makanan bergizi
Bagi segala fauna
Yang hinggap menghampiri.
Demikian hendaknya
Keluarga, masyarakat dan negara
Dalam melindungi anak-anak
Dari segala bentuk kekerasan.
Dalam melindungi anak-anak
Dari segala mara bahaya.

Jakarta, 10 September 2014.
(Puisi ini dibacakan oleh Maudy Kusnaedi dalam pementasan “Voice of Children”, di Ciputra Artpreuner, 15 Oktober 2014. Dan di Metro TV, 26 Oktober 2014)

AKU ADALAH…

Aku adalah tanah
yang gembur dan subur.
Aku adalah air
yang jernih dan mengalir.
Aku adalah api
Yang suci dan murah hati.
Aku adalah angin
yang lembut dan penurut.

Ketika menggapai tanah bahagia
Aku ulur kesendirian keluar
Samudra pikir dan semesta rasa
Agar hidupku barokah dalam amanah.

Baca Juga:  Guruku, Sajak untuk Gus Ghofur

Dalam balutan panca indra
Aku mensyukuri anugrah;
Seperti gugusan pulau-pulau
Di garis lintang khatulistiwa
Yang dijaga oleh dua musim
Dalam gejolak Badai dan topan.

Dalam balutan alam semesta
Aku sujud dihampar sajadah;
Seperti ketulusan para petani
Di saat menyemai butir padi
Yang ditandai curahan hujan
Dalam naungan bulan dan mentari.

Ketika mencapai tanah bahagia
Aku tarik keberagaman ke dalam
Jantung kalbu dan cakrawala jiwa
Agar esok rejeki kembali bersemi.

Aku adalah tanah
Yang gembur dan subur.
Aku adalah air
Yang jernih dan mengalir.
Aku adalah api
Yang suci dan murah hati.
Aku adalah angin
Yang lembut dan penurut.

Jakarta, 23 Agustus 2011

MEMBENTANG KENANGAN

Antara Taman Ismail Marzuki
Dan jalan Arimbi;
Membentang kenangan
Tentang HB Jassin Seseorang yang selalu berjalan Membawa dunianya.
Dengan tangan penuh buku
Yang belum semua di baca!

Jakarta, 12 Agustus 2016

Jose Rizal Manua

Jose Rizal Manua

*Jose Rizal Manua, lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 September 1954. Penyair dan dramawan yang sekaligus pendiri teater anak-anak, Teater Tanah Air (1988), yang meraih juara pertama pada Festival Teater Anak-anak Dunia ke-9 di Lingen, Jerman, tanggal 14-22 Juli 2006. Tahun 1975 mendirikan Teater Adinda bersama Yos Marutha Effendi dan tahun 1986 mendirikan Bengkel Deklamasi Jakarta. Selain itu ia juga adalah seorang pemeran dan pengisi suara dalam beberapa film seperti Oeroeg (1993), Kala (2007), Fiksi (2008), Asmara Dua Diana (2009), dan Meraih Mimpi (2009). Penghargaan lain yang pernah diraih yaitu bersama Teater Tanah Air (TTA) meraih The Best Performance dan meraih medali emas di The Asia Pacific Festival of Children Theatre 2004, yang diadakan di Toyama, Jepang.

Baca Juga:  Wajah Tuhan di Gaza
Loading...

Terpopuler