Maghrib dan Perempuan Bercadar

Cerpen Faiz Adittian Ahyar

Serakan sampah di pasar terbakar habis, sisa barang dagangan tidak bisa diselamatkan. Atap-atap kedai penjual makanan dan baju yang terbuat dari jerami dan bertiang bambu itu, menambah cepat api berkobar. Maghrib seketika hening di sore yang hangat. Pasar tradisional yang menjadi hajat hidup orang Maghrib berpuluh-puluh tahun itu hangus. Pedagang di sudut pasar berkerumun merayakan hening. Lesu dan suram terlihat dari kosongnya mata memandang kedai dan barang dagangan yang mengabu.

Seminggu ini Maghrib menjadi kota yang kacau. Semenjak munculnya kepemimpinan al-Fansuri, banyak bertebaran isu bahwa rezim kepemerintahan dari al-Fansuri adalah kumpulan dari pemberontak yang memusuhi pemerintahan sebelumnya. Setelah wafatnya al-Jabir, kepala pemerintahan Maghrib yang mati ditembak, tidak lama kemudian pihak tentara keamanan negara mengambil alih kekuasaan. Selang beberapa hari kemudian diadakannya pemilihan kepala pemerintahan sebagai pengganti al-Jabir. Dari pemilihan tersebutlah yang mengantarkan al-Fansuri sebagai kepala pemerintahan.

Sistem demokrasi yang curang dengan cara melakukan politik kekerasan menjadikan al-Fansuri bisa mengambil alih kekuasaan. Dalang dari balik semua itu adalah ayah dari al-Fansuri yang menjadi mantan jendral keamanan Maghrib. Kudeta yang dibuat sangatlah jelas terlihat antara pihak al-Fansuri dan pihak kemanan. Mahrib berkobar.

Pagi masih pekat dengan asap sisa pembakaran pasar. Para pedagang mulai membersihkan sisa-sisa bambu dan dagangan yang terbakar. Munculnya tuntutan pemerintah yang mewajibkan pedagang untuk membayar pajak membuat para pedagang membelot. Mereka tidak mau membayar karena dianggap terlalu besar. Akhirnya pasar dibakar.

Dingin masih mengepul, para tentara berjaga di sekitar area pasar. Siang ini al-Fansuri dikabarkan akan melihat hasil kebijakan dan sebagai upaya menekan para penduduk untuk tunduk di bawah kepemimpinanya. Semua berbenah dan siang kini dirasa begitu singkat. Puing-puing hasil pembakaran masih belum habis. Tentara semakin banyak jumlahnya, mereka terus mempersiapkan kedatangan al-Fansuri.

Baca Juga:  Cerpen: Kesialanmu di Malam Jumat

Siang semakin ramai. Pedagang dengan peluhnya mengais keringat sisa pembakaran, mengucur deras. Dari kejauhan terlihat arakan rombongan al-Fansuri yang menaiki kereta kuda. Tentara bersiap dan terus memperketat kemanan. Panglima komandan mendapat berita bahwa sekelompok pembelot bersembunyi di sekitar pasar.

Sampailah al-Fansuri di pasar yang telah rata. “Wahai wargaku semua, inilah buah hasil jika engkau sekalian tidak patuh. Anakmu sekalian tidak bisa mengenyam pendidikan” berorasi ia di atas kereta kudanya. Tentara terus berjaga. Dengan mata awasnya, membidik setiap kerumunan warga yang mendengarkan orasi dari pemimpin mereka yang baru.

Orang-orang lesu dan patah harapan. Dari balik mereka ada segerombol orang bercadar. Dua yang lain bersiap di arah yang berbeda. Tiga wanita bersiap di dekat kereta kuda al-Fansuri. Mereka telah bersiap seperti serigala memburu mangsanya. Ditangan mereka telah menggenggam api dan bubuk mesiu yang telah ditanam dibawah rerumputan yang gagal terbakar. Dua orang di sudut lain memberikan isyarat untuk segera melakukan aksi menyulut sumbu yang telah disambungkan dengan bubuk mesiu. Seseorang dari dekat kereta, melempar peledak ke arah bubuk mesiu sebagai pemicu ledakan.

Dentuman keras pun terjadi. Orang-orang terpental, tidak terkecuali al-Fansuri yang terlempar dari keretanya. Tentara kocar-kacir, terkapar di tanah menerima ledakan. Seketika mereka sigap berjaga mengerumun al-Fansuri yang dzalim. Dia tak sadarkan diri. Maghrib pun memanas. Sekerumun wanita, bersembunyi. Lari dari tentara yang gaduh mencari pelaku peledak mesiu di pasar yang hangus. Ke hutan-hutan mereka merencanakan ulang strategi pembunuhan al-Fansuri.

 

Faiz Adittian Ahyar, saat ini tinggal di Purwokerto, tepatnya di desa Pasir Luhur. Gemar memelihara ikan Louhan.

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]

Baca Juga:  Mawar Biru