Connect with us

Politik

Kerusuhan di Jakarta, Satu Orang Tewas Tertembak Peluru Tajam

Published

on

Kerusuhan di jakarta,

Polisi Indonesia menembakkan gas air mata untuk membubarkan demonstran di pusat kota Jakarta, Rabu pagi setelah sebuah demonstrasi menentang pemilihan kembali Presiden Joko Widodo, kata seorang wartawan AFP./Foto: perthnow.com.au

NUSANTARANEWS.CO – Kerusuhan di Jakarta, satu orang dikabarkan tewas tertembak. Polisi telah menembakkan gas air mata untuk membubarkan para pengunjuk rasa di sekitar kantor Bawaslu. Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com, sejumlah suara ledakan masih terdengar.

Massa kemudian meneriakkan takbir setelah suara ledakan-ledakan beruntun yang diduga berasal dari bom-bom Molotov yang dilemparkan oleh orang-orang tak dikenal yang meyulut aksi kekerasan.

Bentrokan pun tak terhindarkan. Aksi protes berubah menjadi kekerasan pada Selasa malam dan terus berlanjut sepanjang malam. Pihak polisi melaporkan bahwa mereka telah menangkap sedikitnya 20 orang yang diduga “provokator”.

Juru bicara kepolisian Jakarta, Argo Yuwono mengatakan, polisi menggunakan gas air mata dan meriam air terhadap pengunjuk rasa yang melemparkan batu, bom molotov, dan membakar proyektil.

Menurut beberapa sumber, situasi ini bermula dari kerumunan massa yang berencana melakukan aksi protes pada 22 Mei di depan kantor Bawaslu. Namun, aparat menghalangi massa tersebut dengan alasan keamanan. Pada awalnya, kerumunan masa yang melakukan aksi di depan kantor Bawaslu, Jakarta sejak Selasa (21/5) berhasil dibubarkan, namun kerumunan massa kembali berkumpul dan akhirnya bentrok dengan pihak aparat hingga menjelang subuh.

Sejauh ini dilaporkan bahwa satu orang tewas akibat bentrok dengan aparat di Tanah Abang. Pihak Rumah Sakit Budi Kemuliaan menyebut bahwa korban tewas akibat tertembak. Korban bernama Farhan Syafero (30) beralamat di Kampung Rawakalong, Kelurahan Grogol, Kota Depok. Pihak rumah sakit juga melaporkan bahwa sampai saat ini sudah ada 17 pasien yang di rawat.

“Korban lainnya ada yang terkena luka tembak di betis, tangan, sendi bahu, ada yang dikirim ke RS Tarakan karena perlu ada tindakan bedah,” ungkap Direktur RS Budi Kemuliaan Fahrul W Arbi, di Jakarta, Rabu (22/5).

Sejak beberapa hari belakangan ini, memang atmosfir Jakarta tengah gelisah menjelang pengumuman hasil pemilu. Apalagi dalam minggu-minggu terakhir ini banyak tokoh-tokoh masyarakat pendukung Prabowo menyerukan “kedaulatan rakyat” untuk merespons hasil pemilihan yang diduga penuh kecurangan.

Ketegangan semakin memuncak setelah serangkaian penangkapan tersangka teroris dan para aktivis oleh pihak kepolisian yang diduga akan membuat kekacauan selama aksi protes oleh masyarakat yang menolak hasil pemilu yang dianggap curang.

Pada hari Selasa, Polisi juga menangkap seorang purnawirawan Jenderal yang diduga menyelundupkan senjata untuk mendukung aksi protes. Selain itu, Polisi juga menyita sejumlah bom Molotov dari sebuah kendaran minibus yang sedang menuju Jakarta.

Seperti telah diberitakan, kerusuhan 22 Mei berawal dari sebagian anggota masyarakat yang merasa tidak puas dengan hasil pengumuman Pemilu dan Pilpres 2019 oleh KPU pada Selasa (21/5) dini hari WIB yang diduga tidak fair. (Agus Setiawan)

Terpopuler