Connect with us

Mancanegara

Kebijakan Pertahanan Nasional Mutakhir AS Mengklaim Rusia Sebagai Negara Agresor

Published

on

kapal Induk AS

Foto/CNBC News

NUSANTARANEWS.CO – Rakyat Amerika Serikat (AS) mungkin tidak mengetahui bahwa setelah berakhirnya Perang Dunia Kedua (PD II), Washington terus melakukan perang dan membunuh jutaan orang di muka bumi. Hingga hari ini diperkirakan 30 juta orang telah di bunuh oleh AS. Hal tersebut terungkap dalam sebuah studi yang mendokumentasikan perang dan kudeta yang dilaksanakan oleh AS di 30 negara Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika Latin.

James A. Lucas (2015) dalam laman popularresistance.org, menggambarkan bahwa sejak berakhirnya PD II, AS telah membom lebih dari 30 negara. Biasanya serangan-serangan ini berlangsung selama beberapa hari dan sebagian besar dilakukan oleh Angkatan Udara AS, yang memiliki lebih dari 170 pembom strategis jarak jauh, puluhan pengebom stealth, dan ratusan rudal balistik antarbenua (ICBM) yang ditempatkan di berbagai lokasi.

Studi tersebut mengungkapkan bahwa pasukan militer AS secara langsung bertanggung jawab atas puluhan juta kematian yang disebabkan oleh perang, seperti perang Korea dan Vietnam, termasuk perang Irak – serta perang proksi yang dikobarkan di Afghanistan, Angola, Kongo, Sudan, Guatemala dan negara-negara lain – termasuk di Indonesia!

Bila ditambah dengan korban Revolusi Warna di bekas blok Soviet dan Arab Spring di Abad 21 – AS bukan saja membunuh jutaan orang bahkan telah menjadikan jutaan orang Arab sebagai pengungsi yang sekaligus menyuburkan perbudakan.

Meskipun begitu, para pembuat kebijakan di Washington dan media Barat masih mampu membalikkan fakta sejarah tersebut – bahkan kini sebaliknya mulai membangun narasi yang menggambarkan Rusia sebagai sebuah negara “agresor” – terutama dengan isu aneksasi Krimea dan pengerahan pasukan ke Suriah.

Loading...
Baca Juga:  Kuasa Hukum Jonru Ginting Benarkan Kliennya Bebas

Artikel Terkait:

Bahkan dalam sebuah dokumen Strategi Pertahanan Nasional Amerika Serikat paling mutakhir – Pentagon menyatakan bahwa setelah Perang Dunia kedua, AS dan negara-negara sekutu mendukung tatanan internasional yang demokratis dan  menjaga kebebasan rakyat dari agresi dan paksaan – namun tatanan ini sekarang telah dirusak oleh Rusia dan Cina, yang melanggar prinsip dan aturan hubungan internasional tersebut.

Berdasarkan klaim tersebut, tidak mengherankan bila AS kemudian mengerahkan NATO untuk mengepung Rusia yang dianggap sebagai ancaman – serta memaksa negara-negara sekutu Eropanya untuk memasang perisai pertahanan Rudal Patriot.

Itulah “tatanan internasional yang bebas dan terbuka” bahwa AS terus berusaha untuk “melindungi rakyat dari agresi dan paksaan”. Lalu bagaimana dengan pendudukan tentara AS atas sepertiga wilayah kedaulatan Suriah hari ini?

Padahal secara kasat mata – AS dan NATO jelas-jelas melakukan ekspansi untuk mengepung Rusia – bahkan dengan kasar melucuti negara penyangga dan mengubahnya menjadi “benteng-benteng” perbatasan sebagai persiapan konflik dengan Rusia di masa depan yang tampaknya memang sudah direncanakan (Agus Setiawan)

Loading...

Terpopuler