Connect with us

Mancanegara

Militerisasi Kawasan Eropa Utara dan Pergeseran Non-Aliansi Negara Skandinavia

Published

on

Aurora 17

Aurora 17

NUSANTARANEWS.CO – Dalam beberapa tahun terakhir, geopolitik keamanan Eropa Utara tampaknya mulai mengalami perubahan radikal – terutama sebagai tanggapan atas meningkatnya kegiatan militer Rusia di kawasan Nordik-Baltik serta agresi militer Rusia ke Ukraina. NATO pun telah mengerahkan batalyon-batalyon tempurnya ke Estonia, Latvia, dan Lithuania, termasuk skuadron angkatan udaranya guna mengamankan wilayah udara negara tersebut.

Sementara dua negara Skandinavia: Swedia dan Finlandia, terlihat mulai goyah pendirian non-aliansinya dan mulai meningkatkan kerjasama pertahanan bilateral yang lebih erat dengan Amerika Serikat (AS) dan pada saat yang sama juga memperkuat kemitraan dengan NATO.

Baca: NATO Telah Mengubah Eropa Menjadi Medan Perang Melawan Rusia

Menurut wikipedia, Skandinavia adalah sebuah wilayah di Eropa Utara yang memiliki ikatan sejarah, budaya, dan bahasa yang kuat. Sebagian besar bahasa nasional di wilayah ini merupakan bahasa Jermanik Utara (North Germanic languages). Istilah Skandinavia dalam penggunaan lokal meliputi tiga kerajaan Denmark, Norwegia, dan Swedia. Namun, dalam penggunaan bahasa Inggris, istilah ini juga merujuk ke Semenanjung Skandinavia, atau ke wilayah yang lebih luas termasuk Finlandia dan Islandia yang secara lokal dikenal sebagai negara-negara Nordik.

Ketika Menteri Pertahanan AS James Mattis mengunjungi Helsinki pada 6-7 November tahun lalu untuk menghadiri pertemuan Northern Group, sebuah forum multilateral dari 12 negara: Denmark, Estonia, Finlandia, Jerman, Islandia, Latvia, Lithuania, Belanda, Norwegia, Polandia, Swedia dan Inggris – Mattis diterima oleh Presiden Finlandia Sauli Niinistö dan kemudian bertemu rekan-rekannya dari Swedia dan Finlandia. Hal ini adalah pertama kalinya seorang Menteri Pertahanan AS mengadakan pembicaraan dalam format tripartit.

Menteri Pertahanan Finlandia Jussi Niinistö menjelaskan bahwa tujuan dari format ini adalah dalam kerangka hubungan bilateral Finlandia dan Swedia dengan Washington. Bukan untuk membangun aliansi baru meski diakui ada kerja sama militer yang diperluas bersama AS.

Pemerintah Swedia sendiri, setelah pertemuan tripartit dengan Mattis – mengumumkan bahwa Stockholm siap mengakuisisi sistem pertahanan rudal Patriot buatan AS untuk mengganti sistem pertahanan lama yang sudah usang guna melengkapi dua batalion pertahanan udara Swedia sampai 2025.

Loading...

Baca: Mencermati Pidato Presiden Vladimir Putin di Majelis Federal Rusia

Meski tidak membentuk aliansi baru, namun Swedia dan Finlandia bergabung dalam Kerjasama Permanen Terstruktur, atau PESCO yang melibatkan 20 negara Uni Eropa (UE) dalam perencanaan bersama, pengembangan dan koordinasi senjata dan peralatan militer sebagai organ pendukung operasi NATO.

Tanda-tanda pergeseran non-aliansi negara-negara Skandinavia dan kawasan Nordic dapat dilihat dengan Baltops-2016, di mana NATO mengadakan latihan pertama di wilayah Finlandia. Lalu pada bulan September, militer AS juga mengadakan latihan militer pertama di wilayah Swedia dengan sandi Aurora 17. Pada bulan Juni, Swedia dan Finlandia bergabung dengan Joint Expeditionary Force (JEF) yang dipimpin Inggris (JEF) – sebagai unit gerak cepat operasi NATO dengan persenjataan lengkap, termasuk tank dan artileri dengan kekuatan 14.000 pasukan – atau satu brigade laut lengkap.

Demikian pula dengan Norwegia, yang membuka pintu bagi pangkalan Marinir AS untuk pertama kalinya sejak Perang Dunia II. Ya, Norwegia benar-benar telah mengubah kebijakan: Tidak ada kekuatan asing di tanah nasional.

Militerisasi Eropa kini mendapatkan momentumnya. Fakta ini tidak luput dari perhatian Rusia yang merasa prihatin dengan semakin meningkatnya pengaruh AS-NATO di Eropa Utara. Apalagi kehadiran militer AS di Eropa tidak memiliki pembenaran. Meski Rusia tidak memulainya tetapi harus mengambil sikap karena negara-negara di kawasan itu tampaknya mulai mengabaikan tradisi kebijakan bertetangga baik. (Agus Setiawan)

Baca juga: Media Barat Gagal Paham Dengan Pesan Presiden Putin

Terpopuler