Connect with us

Mancanegara

Jual Isu ‘Ancaman Rusia’ Masih Terus Bergulir di Negara-negara Baltik

Published

on

nato, crimea, rusia, tentara nato, tentara rusia, ukraina, semenanjung crimea, eropa timur, konflik ukraina, konflik crimea, aneksasi crimea,

Pasukan NATO. (Foto: Express/Getty)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – ‘Ancaman Rusia’ telah menjadi isu jualan komunitas politik remi pro barat di kawasan Baltik. NATO disebut-sebut berada di garda terdepan untuk memastikan isu tersebut terus bergulir sampai waktu yang tidak ditentukan.

Disadari atau tidak, rezim-rezim pro barat terus melakukan berbagai upaya ofensif untuk mempertahankan kekuasaan mereka di negara-negara Baltik. Salah satunya, menjual isu ‘ancaman Rusia’. Apalagi, sampai sejauh ini belum ada pernyataan resmi dari NATO bahwa Rusia bukanlah ancaman bagi Baltik dan Eropa pada umumnya.

Baca juga: Peringatan 20 Tahun Pembantaian NATO Terhadap Rakyat Yugoslavia

Baca juga: Swedia Luncurkan HMS Artemis, Kapal Pengintai Laut Baltik

Dewan Atlantik Utara belakangan semakin agresif, menegaskan komitmen para menteri untuk meningkatkan pengeluaran militer mereka. Di mana, setiap negara anggota diharapkan mencapai setidak 2 persen dari PDB.

Negara-negara Eropa yang sejauh ini mencapai dan melampaui kuota antara lain Yunani (2,32%), Estonia, Inggris, Rumania dan Polandia. Selama tiga tahun terakhir, pengeluaran militer Eropa dan Kanada meningkat menjadi US$ 46 miliar. Tapi, ini baru permulaan.

Kemudian, negara-negara pro barat juga masih rutin mengirimkan pasukan ke Baltik untuk bergabung dengan NATO. Negara-negara Baltik merupakan negara pecahan Uni Soviet yang terletak di sekeliling Laut Baltik. Atau, negara-negara kawasan Eropa Utara yang mencakup Estonia, Latvia dan Lithuania. Termasuk juga Finlandia yang sebelum Perang Dunia II kerap dianggap negara Baltik oleh Uni Soviet.

Baca juga: NATO Telah Mengubah Eropa Menjadi Medan Perang Melawan Rusia (Bag. 1)

Baca juga: NATO Telah Mengubah Eropa Menjadi Medan Perang Melawan Rusia (Bag. 2)

Pekan depan, seperti laporan Sputnik mengutip Kedutaan Besar Perancis di Tallin, akan dikirimkan 300 unit tentara dan Legiuan Asing ke Estonia. Pasukan Perancis akan membawa misi FRA-EFP LYNX yang bertujuan meningkatkan kehadiran aliansi barat di negara yang berjarak sekitar 140 kilometer dari perbatasan Rusia.

Tak hanya 300 tentara, Perancis juga menyertakan 5 tank Leclerc dan 20 kendaraan infanteri, termasuk 13 VBCI yang diketahui merupakan Multi-Role Armored Vehicle (MRAV) versi Perancis.

Sekadar catatan, pengiriman pasukan ini merupakan agenda rutin Perancis untuk membantu NATO. Pasalnya, pada 2017 silam, negara beribukota Paris juga sudah menempatkan pasukan di Estonia selama 10 bulan. Pada 2018, Perancis mengerahkan Angkatan Udara untuk patroli di wilayah udara Estonia dalam rangka menjaga keamanan udara Baltik dan misi NATO.

Pasukan akan hadir di Tapa, Estonia. Sebuah kota yang terletak di jalur stategis karena merupakan pusat persinggahan angkutan barang, terutama minyak dan kayu dari Rusia. Selain itu, sejak 1930-an, Tapa juga dikenal sebagai tempat rekrutmen Angkatan Pertahanan Estonia.

Agenda pasukan Perancis di Estonia tampaknya bakal padat. Selain menggantikan pasukan Belgia yang bergabung dalam pasukan tempur Inggris (NATO), juga akan ikut ambil bagian dalam rangkaian latihan tahunan Spring Storm (Kevedtorm) Estonia yang akan melibatkan sedikitnya 10 ribu tentara pada 29 April mendatang.

Baca juga: Kedubes Bantah Soal Pernyataan ‘Propaganda Rusia’ Jokowi

Baca juga: Psy War Jokowi, Dari Sontoloyo, Genderuwo Hingga Propaganda Rusia

Inggris sendiri, selain menempatkan pasukan, juga memiliki 20 unit tank Challenger-2 dan 30 unit IFV (kendaraan tempur infanteri) di Tapa. Bahkan, baru-baru ini Inggris juga mengirimkan 5 unit helikopter Apache ke Amari Airbase di Estonia yang bergabung dengan NATO di sepanjang perbatasan Rusia.

Selain itu, pasukan Perancis juga nantinya akan bergabung dengan pasukan Inggris, Kanada, Jerman dan AS untuk menjadi pemimpin multinasional Battle Groups, bagian dari NATO yang terus melakukan peningkatan kehadiran mereka di kawasan Eropa Timur.

Sejauh ini, Kremlin sudah berulang kali mengingatkan Rusia tidak mengancam siapapun, membantah isu ‘ancaman Rusia, yang terus disuarakan NATO. Namun, melihat kenyataan di lapangan dan kebijakan NATO yang agresif, Rusia tetap akan terus mengawasi berbagai kegiatan pasukan Atlantik Utara di perbatasan.

Sekadar tambahan, aliansi NATO telah meningkatkan kehadiran mereka di perbatasan Rusia sejak krisis Ukraina 2014 silam. Sejumlah kegiatan NATO sejak insiden itu di antaranya mengerahkan pasukan tempur besar-besaran, mengadana latihan pertempuran, hingga mengerahkan pesawat pengintai dan pesawat tanpa awak di sepanjang perbatasan.

(eda)

Editor: Eriec Dieda

Terpopuler