Connect with us

Politik

Isu Faktor NU, Upaya Penyingkiran NU Pasca Pilpres 2019

Published

on

nahdlatul ulama, harlah nu, usia nu, presiden jokowi, robikin emhas, satu abad nu, nusantaranews, konsolidasi nu, genap berusia 93 tahun, 93 tahun nu

Logo Nahdlatul Ulama (NU). (Foto: NU Online)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Peneliti pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Amin Mudzakkir menyatakan bahwa masyarakat membincangkan faktor NU pada pilpres 2019. Dalam membincangkan faktor NU ini, sekelompok masyarakat menganulir peran NU pada pilpres 2019. Tetapi sejumlah artikel menyebut peran signifikan NU pada pilpres 2019.

Demikian disampaikan Amin yang menjadi salah satu narasumber pada diskusi bertema Faktor NU dalam Kemenangan Jokowi-KMA di Hours Coffe and More, Jalan Boulevard Bukit Gading Raya Nomor 1, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat (19/7).

Amin mengatakan bahwa isu faktor NU muncul setelah pilpres 2019. Banyak pihak mengklaim pengaruh komunitasnya atas kemenangan Jokowi-Ma’ruf Amin. Dengan demikian, situasi ini menjadi ajang kontestasi politik di lingkaran sekitar, partai koalisi, dan pendukung Jokowi.

Amin menyebut setidaknya tiga kelompok yang menyatakan pengaruh signifikan kelompoknya atas kemenangan Jokowi-KMA pada pilpres 2019. Ada kelompok muslim yang mengklaim paling berjasa atas kemenangan Jokowi. Kedua kelompok modernis yang jumlahnya tidak banyak. Mereka hanya berjumlah 6%.

Kelompok kedua ini bermain cantik. Pada saat pilpres 2019, mereka tidak memiliki posisi yang jelas di media. Mereka memiliki artikulasi politik yang bagus, tetapi merasa paling berjasa. Kelompok kedua ini menganulir peran NU dan KMA dalam kemenangan Jokowi-KMA dengan ukuran perbandingan perolehan suara Jokowi pada pilpres 2014 dan pilpres 2019.

Ketiga, kelompok muslim abangan. Mereka merasa menang di Jawa tengah dan Mataraman Jawa timur karena daerah itu merupakan kantong-kantong muslim abangan.

“Saya kira di sini masalahnya. Kita enggan menyebut abangan. Mereka tidak ada angkanya. Kalau NU dan Muhammadiyah jelas, ada angkanya,” kata Amin.

Baca Juga:  Pilpres 2019 Disebut Pilpres Paling Menegangkan

Menurut Amin, cara melihat pengaruh NU dalam pilpres 2019 dapat diawali dari cara pandang NU sebagai Jawa dan daerah yang terkoneksi dengan Jawa.

“Awal 2019, saya menulis toleransi di Tempo bahwa Sunda dan Banten tidak memiliki akar NU yang kuat. Bicara NU Sunda ya berarti Cirebon, Subang, Indramayu dan beberapa daerah di Priangan Timur. Pada kantong-kantong NU di Sunda ini, suara Jokowi-KMA sangat dominan,” paparnya.

Dengan demikian, kata dia, kemenangan Jokowi-KMA berkorelasi dengan organisasi NU yang Jawa. Daerah Bandung, Cianjur, Bogor, untuk menyebut beberapa daerah di Sunda, yang tidak terkoneksi dengan Jawa mesti perolehan Jokowi dipastikan rendah.

Selain Amin, tampak hadir sebagai narasumber Burhanuddin Muhtadi dari Indikator, Juri Ardiantoro dari Kantor Sekretariat Presiden dan pengasuh pesantren dari Pondok Cabe KH Syarif Rahmat yang dimoderatori oleh budayawan Zastrow Al-Ngatawi.

Burhanuddin Muhtadi dari Indikator Politik Indonesia menyorot pengaruh signifikan nama KMA dalam pemenangan suara Jokowi pada pilpres 2019. Menurutnya, kesempatan menang Prabowo sudah lewat, yaitu pada pilpres 2014, bukan di pilpres 2019.

Burhanuddin menambahkan, Prabowo didukung koalisi partai pada pilpres 2014. Tetapi kekurangan kubu Prabowo pada saat itu tidak sanggup memobilisasi massa Islam. Pada 2019, kubu Prabowo memobilisasi massa Islam, yaitu alumni 212 dan seterusnya.

Kenapa Prabowo tetap gagal? Mereka, kata Burhan, berhadapan dengan Kiai Ma’ruf Amin (KMA) sebagai simbol Islam. Kubu Prabowo harus melangkahi Kiai Ma’ruf sebagai simbol kuat Islam yaitu sebagai Ketua Umum MUI, Rais Aam PBNU, perintis ekonomi Syariah di Indonesia pada sejak akhir 1980-an.

“Meski Jokowi kalah di Banten dan Jabar, efek resonansi Kiai Ma’ruf ini jauh lebih kuat di balik itu,” kata Burhanuddin Muhtadi.

Baca Juga:  Presma UNESA dan Universitas Kaltara: Jokowi-JK Gagal Memimpin Indonesia

Sebagaimana diketahui, LSI Denny JA merilis hasil risetnya, bahwa dalam enam bulan yaitu Agustus 2018 sampai Februari 2019, terjadi penurunan dukungan semua ormas Islam kepada Jokowi-KMA kecuali NU.

NU, dalam riset LSI Denny JA, justru semakin solid dan menaikkan dukungan kepada paslon 01 ini sebanyak 62,1 persen (Agustus 2018) menjadi 64,2 persen (Februari 2019). Sedangkan data Exit Poll (polling dengan cara mewawancarai pemilih usai mencoblos) Indikator Politik Indonesia menyebutkan, sedikitnya 56 persen warga NU memilih Jokowi-KMA. Terbesar pemilih NU ada di Jawa Timur dan Jawa Tengah yang merupakan basis utamanya.

Prosentase tersebut naik 12 persen dibanding Pilpres 2014, yang menemukan dukungan warga NU kepada Jokowi-JK hanya 44 persen.

Adapun Alvara Research menyatakan bahwa pemilih paslon 01 dari nahdliyin (warga NU) adalah 54,3 persen.

Dukungan warga NU menjadi kunci kemenangan Jokowi-KMA. Merujuk hasil survei LSI Denny JA dan Indikator Politik Indonesia, jumlah pemilih berlatar NU memang sangat besar. LSI Denny JA menyebut 87,8 pemilih Pilpres adalah kaum muslim. Dari porsi itu, sebanyak 49,5 persen adalah warga yang berafiliasi dengan NU.

Indikator Politik Indonesia menyebut angka lebih besar, yaitu 60 persen pemilih muslim adalah warga NU. Dengan demikian, andil NU sangat besar mementukan kemenangan Jokowi-KMA. (eda)

Editor: Eriec Dieda

Loading...

Terpopuler