Connect with us

Opini

Haji Mabrur

Published

on

Umat Muslim dari seluruh dunia berkumpul di Mekah untuk melakukan ibadah haji tahunan. (Foto: Reuters)

Umat Muslim dari seluruh dunia berkumpul di Mekah untuk melakukan ibadah haji tahunan. (Foto: Reuters)

Haji Mabrur

BEBERAPA hari ini kita mulai menyaksikan saudara-saudara kita yang super sibuk mempersiapkan diri untuk memenuhi panggilan Ilahi. Ketika tulisan ini dibuat, jamaah haji dari berbagai penjuru dunia tengah menuju ke Mekkah dan Madinah untuk menunaikan Ibadah Haji. Kelompok terbang pertama jemaah haji Indonesia sudah tiba di Madinah, Arab Saudi, 6 Juli 2019 yang akan datang. Mereka di sana beberapa waktu sebelum berangkat ke Mekkah untuk berhaji yang puncaknya adalah berwukuf di Padang Arafah pada 9 Dzulhijah sekitar akhir Agustus.

Haji adalah rukun Islam kelima. Namun, hanya diwajibkan bagi Muslim yang mampu secara finansial dan fisik serta hanya sekali dilakukan. Begitu sampai, mereka langsung berniat ihrom. Seseorang yang ingin berikhrom setelah memasuki miqot, hendaknya mengenakan pakaian ikhrom terlebih dahulu.

Tentunya ibadah yang satu ini bukanlah ibadah yang mudah dan ringan untuk dilakukan. Untuk bisa melaksanakannya tidak hanya dibutuhkan kemampuan secara fisik, tapi juga materi. Berbeda dengan ritual keagamaan lainnya. Dalam ibadah yang satu ini tergabung dua unsur sekaligus yaitu unsur badaniyyah (fisik) dan unsur maaliyah (materi). Yang merupakan bagian dari syarat istitho’ah (mampu). Kemampuan untuk melaksanakannya.

Apa sebenaranya yang dicari oleh mereka yang menunaikan ibadah ya rupiah dikurs mata uang Saudi Arabia yang sekitar 2800 riyal (3500 U$) atau dalam mata uang rupiah (konon sekarang sekitar 34 juta lebih). Belum lagi mereka harus mengeluarkan biaya tasyakuran, pamit-pamit kepada tetangga serta nantinya akan menenteng barang bawaan yang tidak sedikit. Betapa lelahnya mereka sejak keluar dari rumah–rumah hingga berjejal-jelal di pos–pos pemberangatan dan embarkasi. Tentu saja hal itu bukan sekadar untuk plesiran atau berwisata. Dan yang pasti mereka tidak ingin semua kepayahan itu akan sia-sia.

Baca Juga:  Guru Ngaji - Cerpen Ali Mukoddas
Loading...

Kita tidak hendak mencoba untuk menjadi penatar manasik haji, karena calon jamaah haji (calhaj) sudah kenyang dengan kurikulum manasik yang dari dulu tidak pernah berubah. Coba kita gali bersama lebih dalam lagi. Sebenarnya apa sih esensi ibadah haji yang suci dan ada dampak positif yang bisa didapatkan dan apa dampak positif yang bisa didapatkan darinya. Hal ini akan mengarahkan manusia pada satu titik dimensi spiritual yang merupakan tujuan utama ibadah haji yang dilakukan oleh kaum muslimin.

Kita ber-husnudzon (positif thingking) bahwa motivasi mereka menunaikan ibadah itu ingin memperoleh predikat Haji Mabrur yang akan menghantarkan mereka menuju kebahagiaan dan kemuliaan dunia dan akhirat. Sayangnya, tidak semua orang yang pergi ke Mekkah itu bisa menyandang predikat mulia. Setelahnya mereka tidak canggung lagi mengenakan peci putih dan sorban atau kerudung yang disimbolkan bahwa mereka telah melaksanakan ibadah haji.

Hajun Mabrur merupakan pangkat yang mahal. Saking mahalnya Rasulullah SAW bersabda ‘al-hajju mabruru laisa lahu jazaan illal Janah. Haji yang mabrur itu tiada balasanya tiada lain surga. Sudah barang tentu untuk mencapai reward (penghargaan) rabbani itu tiada cukup dengan persiapan lahiriyah saja tapi juga pemahaman dan penghayatan intensif akan ruh dan hakekat berhaji. Sehingga kita bisa menikmati energi positifnya.

Intiny,a dalam setap ibadah kita dalam beribadah kita harus memahami apa yang menjadi tujuan kita diperintah auntuk mengamalkannya. Hal ini perlu agar kita tidak terjebak hanya dalam ritual belaka, tanpa ada nya interaksi fungsional antara ibadah formal dengan sepak terjang kehidupan kongkritnya. Sebab, agama bukan hanya untuk ritus-ritus dan simbol-simbol. Ritus dan simbol-simbol. Ritus dan simbol itu adalah ungkapan ungkapan budaya atas ruhani muatan agama.

Baca Juga:  Mattis Sambangi Beijing Guna Membahas Laut Cina Selatan dan Kawasan Indo-Pasifik

Dalam konteks riwayat hadist tentang kemabrurahan Haji, Nabi SAW ditanya oleh seorang sahabat. Wama birul hajj ya Rasululloh SAW? Apa sebenarnya kebaikan haji itu wahai Rasul Alloh?
Beliau, Rasulullah SAW bukannya menjawab dengan menyebut ritual –ritualnya seperti Thawaf, Sa’i, Wuquf di Arofah , Tahalull dan lain sebagainya. Nabi SAW malah menjawab ada tiga hal kebaikan haji yang lebih banyak berkaitan dengan hubungan baik sesama jamaah atau bisa juga kita artikan tiga hal ini sebagai haji mabrur.

Pertama, tiybul kalam (ucapan yang baik). Kedua, it’amut tho’am (memberi makan, loman) dan ketiga, ifsyaus salam (menebarkan salam. Dari ketiga hal ini, kita dapat memahami ternyata seorang yang mabrur hajinya tidak hanya memilki ke-khusyu’an yang total kepada Allah SWT. Tapi dia juga mampu mengontrol lisannya untuk berkata kecuali hal-hal yang baik, memiliki kepekaan sosial yang tinggi terhadap sesama, sekaligus senantiasa menebarkan salam yang juga berarti kedamaian yang pasif juga kedamaian aktif.

Imam al-Hasan ra pernah ditanya apakah sebenarnya Haji Mabrur? Jawabnya yaitu jika engkau telah pulang, kamu menjadi orang yang yang zahid (tidak terbelenggu dalam cinta dunia) dan bersemangat untuk mencapai kebahagiaan abadi di akhirat. Zuhud tidak berarti anti materi, tapi kesanggupan rohani untuk mengalahkan ambisi pribadi, keserakahan kepemilikan benda serta kebanggaan eksistensial. Hal tersebut di atas memberikan gambaran yang kongkret kepada kita betapa pentingnya memahami filosofi ruh ibadah haji agar kita mampu mengaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Semoga saja kaum muslimin yang saat ini sedang menjadi duta Allah SWT akan pulang kembali ke tanah airnya dengan membawa wa hajjun mabrur, wa sa’yun masykur wa dzanbun magfur wa tijarotun lan tabur. Selamat jalan wahai para tamu Allah dengan semangat talbiyah yang senantiasa mengiringimu, Labaik Allohuma Labbaik. Hamba datang memenuhi panggila Mu ya Alloh Jalajalluhhu warohmatuhu, hamba datang memenuhi panggilan-Mu.

Baca Juga:  Pagi Menelusuri Kenangan yang Panjang

Penulis: Aji Setiawan, Mantan Wartawan Majalah AlKisah

Loading...

Jurnalis dan editor di Nusantara News, researcher lepas. | life is struggle and like in silence |

Terpopuler