Connect with us

Politik

Emil Dardak Bantah Dirinya Mengkhianati Trenggalek

Published

on

Emil Dardak Bantah Dirinya Mengkhianati Trenggalek

Emil Elestianto Dardak mendampingi Ketua DPP PAN Zulkifli Hasan di Trenggalek, JAwa Timur, Selasa (24/4/2018). (Foto: Setya/NusantaraNews)

NUSANTARANEWS.CO, Trenggalek – Emil Elestianto Dardak kembali membantah tudingan yang menyebutkan dirinya berkhianat karena meninggalkan Trenggalek untuk bertarung di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur 2018. Menurutnya, tudingan tersebut lebih sebagai gerakan politik penjegalan.

“Logika yang semestinya kan manakala putra Trenggalek bisa ikut berperan dalam pemerintahan provinsi dan pembangunan di tingkat Provinsi, seharusnya memberikan keuntungan bagi masyarakat Trenggalek,” ungkap Emil di Trenggalek, Selass (24/4/2018).

Emil diketahui resmi menjabat sebagai Bupati Trenggalek pada 17 Februari 2016 lalu. Berpasangan dengan Mochamad Arifin, Emil sukses memenangkan pemilihan kepala daerah di Kabupaten Trenggalek tahun 2015 dengan perolehan suara cukup fantastis yakni sekitar 76,28 persen atau sekitar 292.248 suara.

Menurut Emil, yang kini mendampingi Khofifah Indar Parawansa di Pilgub Jatim 2018, kehadiran dirinya dalam pesta demokrasi Jawa Timur ini merupakan potensi bernilai strategis terutama untuk daerah dan masyarakat Jawa Timur. Oleh karena itu, kata Emil, dirinya dan masyarakat Trenggalek sulit memahami tudingan sebagian kelompok yang mengatakannya berkhianat lantaran menjadi cawagub Jatim.

Eksekutif muda berusia 33 tahun ini menuturkan, logika yang benar terkait potensi dirinya di Pilgub Jatim justru coba dibalik oleh sebagian kelompok untuk dijadikan sebagai isu politik guna menjegal dirinya untuk menjadi pemimpin Jatim. Karenanya, pria yang disebut telah banyak memperkenalkan nama Trenggalek di pentas nasional dan internasional ini menyebut tudingan tersebut salah kaprah.

“Kenapa saya katakan logika terbalik, baru-baru ini kita mengunjungi hutan kota, di situ warga masyarakat berkeluh kesah kepada Pak Zulkifli Hasan bagaimana kawasan hutan di Trenggalek ini bisa dikurangi karena syaratnya cuma 30%, namun kewenangan terkait ini di luar kewenangan kabupaten,” papar Emil.

Contoh lain misalnya, kata dia, pada saat menyusun anggaran dirinya mengaku berusaha ingin mensejahterakan pesanggem hutan. Namun, niatan ini tidak bisa berlanjut setelah Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) menyampaikan bahwa kewenangan terhadap perihal ini merupakan kewenangan provinsi.

“Hal ini menunjukkan sebagian besar nasib warga Trenggalek tidak hanya ditentukan oleh bupatinya melainkan juga ditentukan oleh gubernur,” tegas doktor studi ekonomi pembangunan lulusan Jepang tersebut.

Emil mencontohkan kasus lainnya lagi. Tentang bagaimana membangun Trenggalek sebagai pesisir Selatan Jatim yang kokoh, sebagai garda terdepan menghadap ke Samudera Hindia. Kata dia, masalahnya juga sama, kewenangan pemerintah terhadap kelautan juga sudah diserahkan kepada provinsi.

Tak sampai di situ, kewenangan pendidikan SMK/SMK juga ada di provinsi, padahal dirinya selama jadi bupati mempunyai banyak program untuk pendidikan setara SMA/ SMK. Sehingga, untuk mewujudkannya hanya bisa dilakukan melalui pemerintahan provinsi.

“Setelah melihat tiga pilar besar ini kewenangannya ada di provinsi, sehingga kebijakan terhadap hal ini harus dimintakan ke provinsi. Apakah benar bila niatan maju ke menjadi cawagub ini sebagai sebuah upaya meninggalkan atau berkhianat terhadap masyarakat Trenggalek?,” tanya Emil retoris.

Emil menilai ada upaya menggiring opini terbalik sehingga muncul kesan dirinya berkhianat. Padahal tujuannya selain mengambil amanah yang lebih besar Emil menyebut dirinya tetap berjuang untuk Trenggalek.

“Dulu di Trenggalek ada sosok bupati fenomenal yang diangkat menjadi Gubernur Irian Jaya, Brigjen Sutran namanya. Meskipun ditunjuk menjadi Gubernur Irian, Pak Sutran tetap memikirkan masyarakat Trenggalek dengan mengajak masyarakat bumi Menak Sopal ini bisa bekerja di sana,” urainya.

Emil menegaskan dirinya sama halnya dengan Sutran. “Darah Trenggalek, darah Imam Masjid Agung Trenggalek mengalir, sehingga mau diapakan tidak akan melupakan Trenggalek,” katanya.

Pernyataan dan pengakuan Emil tersebut diamine Ketua Umum DPP PAN Zulkifli Hasan. “Serangan dari lawan itu biasa dilakukan, hal ini menunjukkan bawasannya pasangan yang kita usung ini sangat diperhitungkan,” tegas Zulhasan pada kesempatan sama.

Menurut Zulhasan, jika Emil Dardak diberikan amanah menjadi wakil gubernur Jatim, maka akan memberikan dampak positif bagi masyarakat Trenggalek.

Pewarta: Setya
Editor: Eriec Dieda

Advertisement
Advertisement

Terpopuler