Connect with us

Mancanegara

Darurat Keamanan, Bantuan Pangan ke Rakhine Ditangguhkan

Published

on

Kamp pengungsian Rohingya di Cox's Bazar, Bangladesh. (Foto: UNHCR/Saiful Huq Omi)

NUSANTARANEWS.CO – Program Pangan Dunia (WFP) menangguhkan bantuan pangan ke Rakhine yang tengah dilanda krisis kekerasan di Myanmar. Alasan penghentian karena situasi kemanusiaan semakin memburuk dengan korban yang terus melonjak dan puluhan ribu Muslim Rohingya dan umat Buddha berupaya melarikan diri dari wilayah itu.

Lembaga bantuan, termasuk WFP seperti dikutip AFP, telah berulang kali dituduh otoritas Myanmar selalu berpihak kepada Rohingya. Hal ini membuat otoritas Myanmar mengancam akan bertindak keras.

Pada kenyataanya, sekitar 120.000 orang, kebanyakan warga sipil Muslim Rohingya memang sudah sejak lama mengandalkan bantuan sejak 2012 silam, ketika kerusuhan agama membunuh banyak orang dan memicu krisis yang semakin ganas. Sebagian pihak menilai, ada semacam upaya pembersihan etnis atau genisoda (etnic cleansing).

Selama lima tahun terakhir Rakhine dilanda krisis, kali ini adalah kekerasa yang terburuk. Badan-badan bantuan yang secara rutin memberikan bantuan justru dituduh pro-Rohingya oleh Myanmar. Hal ini lantas memicu badan-badan bantuan tersebut menarik diri karena faktor keamanan.

“Semua operasi bantuan pangan WFP di Negara Bagian Rakhine telah dihentikan karena ketidakamanan, yang mempengaruhi 250.000 pengungsi internal dan populasi paling rentan lainnya,” kata WFP dalam sebuah pernyataan.

“Kami berkoordinasi dengan pihak berwenang untuk segera mendistribusikan bantuan kepada semua masyarakat yang terkena dampak, termasuk untuk orang-orang yang baru terkena dampak kerusuhan saat ini,” tambah pernyatan tersebut.

Myanmar menuding Rohingya sebagai imigran ilegal sehingga mereka ditolak ketika ingin menjadi warga negara. Penolakan ini lantas menimbulkan aksi kekerasan dan sudah menjadi target aksi kekerasan serta mengungsi sejak 2012 silam.

Kali ini, kekerasan semakin parah. Sedikitnya 40.000 warga Rohingya telah melarikan diri ke Bangladesh. Dan puluhan ribu warga Rohingya ditahan di perbatasan oleh otoritas Bangladesh dan sejumlah korban tewas setelah berusahan menyeberangi sungai Naf untuk menyelamatkan diri.

Baca Juga:  Tragedi Rohingya, Ini Himbauan Kepada Umat Buddha Indonesia

Pada Jumat (1/9) kemarin, kepala militer Myanmar mengungkapkan sedikitnya 400 orang tewas dalam aksi kekerasan dan 370 di antaranya warga Rohingya. Sementara 11.000 umat Buddha Rakhine, Hindu dan kelompok minoritas lainnya mengungsi.

Pemerintah Myanmar menolak bantuan yang ditawarkan oleh kelompok bantuan asing untuk etnis Rakhine yang mengungsi, kata sebuah pernyataan dari departemen bantuan Komisi Eropa.

Seiring operasi pembersihan berlanjut, ECHO (European Civil Protection and Humanitarian Aid Operations) mengatakan akses ke Rakhine utara tetap terputus. Sementara itu sebuah kampanye propaganda anti-PBB/LSM oleh Myanmar berlanjut, “pernyataan tersebut menambahkan.

Bencana kemanusiaan
Jumlah korban Rohingya diindikasikan sangat banyak. Korban banyak yang melarikan diri ke Bangladesh. Area konflik yang paling parah terlarang bagi wartawan untuk melakukan peliputan. Sebuah kesaksian yang tidak dapat diverifikasi menyebutkan bahwa pembunuhan massal dan pembakaran desa dilakukan oleh tentara. dan militan.

Duduk perkara dari konflik di Myanmar sejauh ini masih simpang siur. Tapi banyak pihak menilai bahwa konflik itu lebih dekat pada aksi genosida, sementara militer Myanmar mengatakan langkah mereka sebagai bentuk perlawanan terhadap militan Rohingya yang melancarkan gerakan separatis.

Kelompok militan itu disebut otoritas Myanmar dengan nama Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA). Kelompok ini dituduh membela kelompok minoritas dari tindakan penganiayaan oleh Myanmar. ARSA sendiri muncul sebagai sebuah gerakan pada Oktober tahun lalu setelah adanya bukti sebuah serangan terhadap polisi di perbatasan Myanmar. (ed)

(Editor: Eriec Dieda)

Loading...

Terpopuler