Istri pencari nafkah
(Foto: Ilustrasi/Getty Images)

NUSANTARANEWS.CO – Seorang suami yang kehilangan pekerjaannya lalu berdiam diri di rumah sementara istrinya berperan utama sebagai pencari nafkah dapat menimbulkan efek buruk pada kesehatan sang suami.

Dilansir The Guardian, periset menemukan pria dengan istri yang dijadikan pencari nafkah utama keluarga dapat meningkatkan kemungkinan penyakit jantung, stroke dan diabetes.

Seorang sosiolog di Rutgers University di AS yang melakukan penelitian tersebut mengatakan bahwa masalah timbul saat suami kehilangan perannya sebagai pencari nafkah utama, digantikan oleh pasangannya bisa menjadi pukulan berat bagi kesehatan sang suami.

Diperkirakan pria menderita secara psikologis karena merasa dirinya telah dikalahkan oleh sang istri sebagai pencari utama nafkah keluarga dan kondisi ini memiliki efek knoc-on terhadap kesehatan fisik.

Tim Rutgers mempelajari hampir 2.000 pasangan berusia di atas 30 tahun, memantau perubahan dalam pendapatan dan status. Mereka menemukan tingkat stres yang jauh lebih tinggi terkait penyakit serta masalah jantung dan diabetes pada pria yang secara finansial disusul oleh istri mereka.

Efek berbahaya pada suami tetap ada terlepas dari kelas sosial, memberi kesan bahwa orang berpenghasilan rendah menderita secara psikologis.

Dalam sebuah laporan mengenai temuan tersebut, para peneliti mengatakan: “Istri semakin banyak keluar rumah, dan ini dapat merusak kesejahteraan pria. Kami menemukan bahwa hal ini bertentangan dengan budaya,” katanya.

Psikolog Profesor Cary Cooper, dari Manchester Business School, mengatakan kebanyakan pria masih menganggap peran mereka sebagai penyedia utama meski terjadi peningkatan besar dalam beberapa dekade terakhir ini jumlah istri yang juga bekerja.

“Kami ingin membicarakan peran ‘orang baru’ dalam struktur keluarga, menghabiskan lebih banyak waktu dengan anak-anak dan mengurangi sedikit waktu bekerja. Tapi faktanya, kebanyakan pria masih berpikir mereka seharusnya menjadi pencari nafkah utama,” jelas Cooper.

Ketika para pria tidak lagi memainkan peran itu, mereka akan menderita secara psikologis dan pada gilirannya akan merusak kesehatan fisiknya.

“Dan jika terus menerus begitu, akan menjadi lebih buruk nanatinya karena akan memakan waktu, beberapa generasi sebelum pola pikir ini benar-benar bisa berubah,” kata Cooper lagi.

Temuan ini dipublikasikan di Journal of Aging and Health. (ed)

(Editor: Eriec Dieda)

Komentar