Connect with us

Berita Utama

AKTIFITAS TERORIS ISRAEL: 1982-2002

Published

on

Aktifitas Teroris Israel: 1982-2002

Aktifitas Teroris Israel: 1982-2002

NUSANTARANEWS.CO – Aktifitas teroris Israel: 1982-2002. Musim panas 1982: Israel menginvasi Lebanon. Begitu masifnya Serangan bom terhadap Beirut pada Agustus 1982, atas perintah Menteri Pertahanan Ariel Sharon, sampai-sampai sekitar 20.000 warga sipil tewas.

16 September 1982: Sharon mengirim skuad pembunuh Phalangis Kristen Maronit ke dua kamp pengungsi Palestina, Sabra dan Shatila. Dengan tank-tank dan pasukan Israel yang mengepung ketat kamp guna mencegah agar tak seorangpun melarikan diri, skuad pembunuh tersebut memberondong dengan senapan mesin, membayonet, dan menggada warga sipil Palestina sepanjang malam itu, keesokan harinya, dan malam berikutnya, sementara Israel yang mengepung kamp dengan riang-gembira mendengarkan tembakan senapan mesin dan jeritan yang datang dari dalam.

Sharon juga kemudian mengirim buldoser untuk menyembunyikan sebanyak mungkin kejahatan itu. Sekitar 1.500 sampai 2.500 pria, wanita, dan anak-anak Palestina terbunuh. Bahkan setelah upaya buldoser oleh Sharon, banyak warga Palestina masih tidak terkubur, dan pekerja Palang Merah menemukan seluruh keluarga, termasuk ratusan kaum tua dan anak kecil, dengan leher terpotong atau mengeluarkan isi perut. Tak terhitung jumlah wanita dan gadis yang juga diperkosa sebelum disembelih.. [Sebuah investigasi Israel pada tahun 1983 menemukan bahwa Israel bertanggung-jawab secara tak langsung tapi “secara pribadi” atas kematian masal itu, dan dia dipaksa meletakkan jabatan.]

1982 Oktober: Teroris Israel mengebom rumah, mobil, dan kantor tiga walikota terpilih di kota-kota Tepi Barat – Nablus, Ramallah, dan Al-Beireh.

1986: Naj Al-Ali, kartunis Palestina, dibunuh oleh agen Israel.

April 1988: Prajurit komando Israel menyerbu rumah Khalil Al-Wazir, seorang pemimpin Palestina, dan menembaknya di ranjang.

Februari – Maret 1989: Jet-jet Israel mengebom Lembah Bekaa, Libanon, menewaskan 15 anak-anak dan banyak orang dewasa.

14 April 1989: Polisi Israel dan penduduk Yahudi bersenjata menyerang desa Palestina, Nahalin, menewaskan 8 orang dan melukai 50 lainnya.

20 Mei 1990: Seorang prajurit IDF di Oyon Qara berbaris dan memberondong sampai mati 7 orang Palestina dengan senapan mesin yang sedang menunggu untuk melintas masuk Israel untuk menuju tempat kerja mereka. Dalam demonstrasi yang timbul kemudian, pasukan IDF membuka dengan penembakan senjata api langsung yang menewaskan 13 orang.

8 Oktober 1990: Prajurit IDF memulai penembakan senjata api langsung kepada jemaah di Masjid Al-Aqsa, masjid tersuci ketiga di dunia, menewaskan 22 orang.

Baca Juga:  KAPOLRI TINJAU PUSDIK BRIMOB WATU KOSEK MALANG

Februari 1994: Anggota Partai Kach, Baruch Goldstein, menggunakan assault rifle untuk membunuh sekitar 30 warga Palestina yang sedang shalat di masjid Hebron. Hampir 200 orang terluka. Aksi teroris ini dipuji oleh banyak rabbi. Selama demonstrasi yang kemudian terjadi, pasukan IDF membuka dengan penembakan senjata api langsung kepada demonstran, menewaskan 23 orang dan melukai ratusan lainnya – angka pasti korban tidak pernah dirilis.

Menyusul insiden itu, Israel menerapkan jam malam 5 minggu penuh, dan selama itu 76 warga Palestina, sebagian besar adalah anak-anak pelempar batu, tewas. Pemerintah Israel kemudian memberi izin pendirian tugu peringatan untuk menghormati Goldstein.

27 Februari 1994: Mossad mengebom Gereja Katolik Maronit “Our Lady of Deliverance” di Jounieh, Libanon, menewaskan 11 jemaat.

28 Maret 1994: Polisi rahasia Israel menembaki terduga aktivis Palestina, menewaskan 6 orang dan melukai 49 lainnya di Jabalia. Mereka yang terluka dikeluarkan dari mobil mereka dan kemudian ditembak di kepala untuk menghabisi mereka.

17 Juli 1994: Penduduk Israel menembaki warga Palestina yang sedang menunggu di Eretz Chekcpoint untuk melintas masuk Israel untuk menuju tempat kerja. Warga Palestina di sekitarnya melihat apa yang terjadi dan disusul baku tembak yang berlangsung selama enam jam. Di pihak Palestina, 11 tewas, 200 terluka; di pihak Israel, satu prajurit tewas dan 21 terluka, serta satu penduduk Israel terluka.

11 April 1996: Israel meluncurkan Operasi Grapes of Wrath dengan menyerang Libanon selatan, menewaskan hampir 170 warga sipil. Begitu masifnya serangan bom itu sampai-sampai hampir setengah juta penduduk melarikan diri dari area tersebut. IDF mengebom naungan PBB untuk para pengungsi di Qana, Libanon, menewaskan sekurangnya 106 warga sipil. Menurut Human Rights Watch, 2018 rumah dan bangunan di Libanon Selatan hancur total atau dibombardir parah. Total kerugian ekonomis Libanon diperkirakan mencapai setengah miliar dolar.

1999: Pesawat perang Israel mengebom sekelompok anak kecil yang sedang merayakan festival Muslim di Lembah Bekaa, menewaskan 8 anak. Tahun 2000 menjadi saksi videoklip pembunuhan berdarah-dingin terhadap Mohamed el-Dura yang berusia 10 tahun.

2000: Israel mengungkap kejahatan terburuknya terhadap bangsa Palestina. Pembunuhan target aktivis dan pemimpin Palestina menjadi hal lumrah, menghasilkan serangan bunuh diri sebagai balasan dari kekuatan perlawanan Palestina.

Baca Juga:  Wakil Ketua DPR Minta Kapolri Tito Bikin Densus Antikorupsi

12 Oktober 2001: Dua agen Mossad ditahan karena berupaya mengebom dewan pertimbangan Kongres Nasional Meksiko di Mexico City.

23 November 2001: Mahmoud Abu Hanoud terbunuh saat Israel mengebom mobil yang dia naiki ketika bepergian dekat Nablus. Tentang kematian Hanoud, dikatakan: “Meski Israel mengatakan selalu mencari target ‘teroris’, faktanya ia juga mencari anggota kepemimpinan Palestina yang memiliki dua atribut penting: Satu, mereka tertarik pada solusi dua-negara, dan dua, mereka adalah jenis orang yang cukup kuat untuk menjadi kelompok damai dalam kepemimpinan Palestina. Sebagian besar orang ini telah dibunuh. Strategi Israel adalah membunuh orang Palestina moderat dan militan dan mengarahkan ini menuju laga akhir di mana Israel memperoleh musuh ekstrimis yang diinginkannya. Sharon mendorong masyarakat Palestina semakin ke kanan, ke fanatik, yang diperhitungkan menciptakan hasil yang dia inginkan. Pada 1923, Zionis radikal, Ze’ev Jabotinsky (bapak spiritual Menachem Begin dan juga Meir Kahane), menulis bahwa “cara tunggal” bagi Yahudi untuk berhadapan dengan bangsa Arab di Palestina adalah “menghindari sama sekali semua upaya penyelesaian” – yang disebut secara eufimis oleh Jabotinsky sebagai “pendekatan dinding besi”. Bukan kebetulan, sebuah gambar Jabotinsky menghiasi meja Sharon.”

10 Desember 2001: Aktivis Palestina, Muhammad Sidir (24 tahun), terkena misil yang dijatuhkan di persimpangan jalan yang ramai. Dua anak Palestina tewas dalam serangan itu dan dua anak lainnya terluka. Helikopter Israel melayang-layang di atas lokasi pembantaian itu selama lima menit, mencegah segera dilakukannya perawatan medis kepada korban luka dan sekarat.

17 Desember 2001: Pasukan Israel membunuh aktivis Palestina, Yaqoub Aidkadik.

14 Januari 2002: Teroris Israel menanam bom di luar rumah pemimpin perlawanan Palestina, Raed al-Karmi, menewaskannya. Dia diperlihatkan di atas dengan luka diperban yang dihasilkan dalam upaya Israel sebelumnya.

24 Januari 2002: Elie Hobeika, warganegara Libanon, adalah saksi kunci dalam kasus kejahatan perang Sabra-Shatila yang sedang dijalankan di sebuah pengadilan Belgia terhadap perdana menteri Israel, Ariel Sharon. Hobeika dibom di luar rumahnya di Beirut bersama tiga pengawal dan satu warga sipil yang sedang berdiri di dekat mereka. Bom mobil itu adalah kerjaan pembunuh profesional yang bekerja kepada Mossad. Ledakan terjadi dua hari setelah Hobeika setuju untuk memberikan bukti soal Sharon. Marwan Hamadeh, menteri Libanon untuk urusan pengungsi menyatakan, “Evaluasi awal saya adalah bahwa tentu saja Israel tidak ingin saksi melawannya dalam kasus bersejarah di pengadilan Belgia.” Perdana Menteri Teroris Sharon menolak tuduhan: “Saya cukup mengatakan, dari sudut pandang kami, kami tak ada kaitan dengan subjek ini sama sekali, dan komentar ini tidak berguna,” kata Sharon kepada reporter.

Baca Juga:  Hamsik Pun Tergiur Bermain di Premier League

September – Desember 2001: Sekitar 200 anak Palestina tewas dan 400 lainnya terluka oleh pasukan Israel. 60 rumah Palestina di Gaca dihancurkan sebagai bagian dari penghukuman kolektif atas kematian prajurit Israel.

6 – 16 Maret 2002: Sekitar warga sipil Palestina dibantai di kamp pengungsi Jabalya, Jalur Gaza, oleh pasukan Israel.

30 Maret 2002: Lima penjaga bank Palestina dieksekusi di Ramallah oleh prajurit Israel.

3 – 11 April 2002: IDF membantai sekurangnya 52 warga sipil Palestina. Begitu brutalnya aksi itu sampai-sampai Human Rights Watch mengecam Israel telah “melakukan pelanggaran serius terhadap hukum kemanusiaan internasional, beberapa terdapat bukti kuat kejahatan perang”. Amnesti Internasional, dalam laporannya 4 November 2002 mengenai Jenin dan Nablus, juga menduga keras bahwa Israel melakukan kejahatan perang. Secara rinci, laporan itu menyatakan bahwa terjadi pembunuhan tak sah; terdapat pelalaian untuk memastikan pertolongan medis atau kemanusiaan; terjadi penghancuran rumah dan properti; pemotongan suplai air dan listrik bagi warga sipil; terjadi penyiksaan atau perlakuan kejam, tak manusiawi, atau merendahkan lainnya dalam penahanan sewenang-wenang; dan penggunaan warga sipil Palestina untuk operasi militer atau sebagai “perisai manusia”. Di samping itu, laporan Amnesti Internasional tersebut menuduh bahwa warga sipil tidak diberi peringatan sebelum rumah mereka dihancurkan dan karenanya mereka terkubur dalam reruntuhan.

20 Mei 2002: Mossad melakukan bom mobil terhadap Mohammed Jibril, putra seorang pemimpin Palestina.

23 Juli 2002: Jet F16 menjatuhkan 1.000 bom berpemandu laser di atas sebuah blok apartemen Gaza City yang berisi penghuni, menewaskan 15 orang, termasuk 9 anak-anak dan Syeikh Salah Shahada, pimpinan militer HAMAS. Lebih dari 150 orang terluka, sebagian besar adalah kaum tua dan wanita. (Red)

Sumber: Barbara Lee, Israel Didirikan melalui Terorisme Dipupuk Dengan Darah

Loading...

Terpopuler