Sapi dan Sapirin

NUSANTARANEWS.CO – Kali pertama saya berjumpa dan berkenalan dengan Suvi Wahyudianto pada sabtu sore yang mendung, 9 April 2016, di sebuah warung di bilangan Lidah Wetan, Surabaya. Anwari, aktor yang khusuk di teater itu memperkenalkan kami. Suvi memberi saya katalog pameran tunggalnya dan saya memberinya buku kecil tentang pertunjukan teater berbasis arsip yang sedang saya kerjakan. Perkenalan kami belum lama, tetapi segera kami menjadi akrab dan obrolan mengalir deras barangkali disebabkan oleh sejumlah kesamaan dan kedekatan yang melatarinya: kami sama-sama berasal dari Madura, sama-sama pekerja seni, dan sama-sama punya ketertarikan khusus pada “Madura” sebagai sumber penciptaan kreatif. Tentu “Madura” yang saya maksudkan di sini melampaui teritori atau geografi, melainkan konsep.

Membatasi Madura hanya pada teritori memiliki konsekuensi mengerasnya isu primordial bernama SARA. Identitas kemudian menjadi keras dan kaku. Itu sebabnya paradigma Madura sebagai konsep lebih terbuka berdealektika dengan sejumlah anasir kebudayaan lain yang terus masuk dan saling bertukar tangkap dengan lepas.

Lalu, ketika kopi tinggal separuh, kami tak mendustakan nikmat yang muncul dari obrolan tentang bagaimana kami para kaum muda melihat kenyataan kebudayaan di Madura yang tampaknya semakin bersesilangan. Kami—generasi hari ini— yang cenderung terbuka menerima semua jenis kebudayaan yang masuk dengan kategori-kategori penyaringan tersendiri ini membuka tema kecil dan sederhana: Homo Sapirin, sebuah pameran tunggal pertama Suvi yang digelar pada bulan Februari 2016 di C20, Surabaya.

Di luar, gerimis tipis turun. Aspal jalan begitu gagah menerima dingin. Perbincangan “Homo Sapirin” ditemani beberapa cangkir kopi dan sejumlah kretek yang dibeli secara batangan. Melalui obrolan itu, saya berasumsi bahwa kami—generasi muda yang menyilang ini—adalah subjek kebudayaan yang harus sanggup menyusur kebudayaan leluhur dan mencari kemungkinan sinergi dengan kenyataan sosial hari ini. Melalui pikiran semacam itu saya memikirkan lebih jauh konsepsi praktik artistik Suvi dalam sejumlah karyanya, serta memeriksa kembali gagasan yang sedang saya tempuh untuk bakal pertunjukan teater saya. Pikiran itu saya bawa ke Yogyakarta dan mendekam dalam kepala selama berminggu-minggu sampai saya memutuskan menulis catatan ini.

Kisah

Sebermula adalah kisah, dan beginilah beberapa kisah sapi diriwayatkan: beberapa komunitas kebudayaan menempatkan sapi sebagai sesuatu yang akrab dan penting. Dalam tradisi Hindu, sapi mengisahkan tentang yang sakral dan yang mulia. Binatang ini dihormati dan menjadi perantara keberlangsungan komunikasi antara umat dan alam, antara manusia dan kehidupan. Sapi melambangkan ibu pertiwi atau tanah air yang memberi manusia kesejahteraan dalam hidup. Umat Hindu mengormati sapi sebagai binatang yang istimewa namun mereka tidak memujanya.

Dalam masyarakat agraris, sapi juga mempunyai kontribusi penting dan patut dikenang dalam kronik kebudayaan kita. Sapi-sapi itu adalah mesin pembajak tanah sebelum akhirnya percepatan ekonomi dan dampak modernisasi menggantikan mereka dengan mesin traktor. Selain berkarib dengan petani dalam urusan pekerjaan, tak pelak sapi adalah barang berharga. Kepemilikan atas sapi berarti kesejahteraan dan kekayaan. Peristiwa pencurian sapi di kampung-kampung juga menegaskan bahwa binatang itu adalah celengan yang berlimpah uang.

Ada pula sapi yang mengantarkan seorang ke dalam bui. Menjadi pesakitan dan dibenci masyarakat. Misalnya tuan Lutfi Hasan Ishaq dan Ahmad Fathanah, politisi PKS itu mendapat ganjaran lantaran perilaku kasus suap daging sapi impor beberapa waktu lalu.

Kisah sapi terus bergulir, setiap menjelang bulan Ramadhan hingga lepas lebaran, sapi adalah konsumsi yang dicari masyarakat. Kepentingan ekonomi pun bermain; menekan distribusi, lalu memasang harga tinggi. Kemudian kekacauan terjadi, masyarakat limbung sebab tak memperoleh daging sapi dengan harga murah.

Di belahan kebudayaan yang lebih luas, barangkali sapi juga mengisi narasi-narasi penting dalam kebudayaan, agama, dan politik. Ia berkisah tentang hasrat dan kekuasan, uang dan jabatan, tetapi juga bercerita tentang harga diri dan sikap, kemuliaan dan laku hidup. Di Madura, sapi melampaui celengan. Binatang itu menempati derajat yang tinggi di mana gengsi, kehormatan, dan kekuasaan dipertaruhkan. Kita mengenal “Karapan Sapi” dan “Sapi Sono’” sebagai salah satu identitas paling masyhur di Madura. Paling tidak, dua istilah itu memperkaya kamus identitas Madura di samping sate dan ramuannya yang dahsyat, atau kekerasan dengan caroknya sebagai gambaran tentang manusia Madura yang sengaja ditabalkan oleh kolonial Belanda.

Demikianlah, segala sesuatu yang ada di muka bumi memiliki kisahnya sendiri-sendiri, baik yang hidup maupun benda mati bergerak membuat narasi dalam rumah kebudayaan manusia. Manusia yang membuat mereka hidup dan berkisah, menjadikannya simbol tentang diri dan masyarakatnya. Sebagaimana kisah sapi di atas, tulisan ini hendak mengisahkan sapi dalam struktur kebudayaan masyarakat Madura, wabilkhusus sapi yang direkam oleh Suvi Wahyudianto dalam sejumlah karya rupanya. Saya melihat karya-karya Suvi menjadikan sapi sebagai titik tolak dalam menggali inspirasi dan semangat artistiknya.

Melalui tulisan kecil ini saya coba mencari kunci gagasan dalam karya-karya perupa yang lahir tahun 1993 di Bangkalan ini. Untuk kepentingan itulah saya ingin mengajukan pertanyaan sederhana namun mendasar, apa makna sapi bagi Suvi dan bagaimana ia melihat sapi sebagai kenyataan kebudayaan di Madura? Bagaimana ia menempatkan sapi sehingga masih relevan untuk dibicarakan dalam konteks hari ini? Dan yang tak kalah penting, saya juga akan sedikit membahas figur sapi dalam karya-karya para maestro seni rupa di Indonesia dan dunia, barangkali yang terakhir ini bisa dijadikan pembanding bagaimana sapi dihidupkan dalam kanvas dan instalasi oleh sejumlah seni rupawan kita. Dan saya akan mulai dari yang terakhir.

Kronik

Pada almanak 1917, dunia seni rupa di Indonesia mencatat lukisan berjudul “Dunia Sapi” gubahan Sudiardjo. Bagi saya, lukisan dari anggota Persagi (Persatuan Ahli Gambar Indonesia) ini seolah hadir sebagai antitesis lukisan-lukisan Mooi Indie yang cenderung romantis eksotis. Lukisan-lukisan Mooi Indie menempatkan alam sebagai sesuatu yang indah, cantik, istimewa, dan celakanya, eksploitatif—sebuah pandangan yang sangat feodalistik, khas pandangan penjajah kepada yang dijajah. Tiga ekor sapi, seekor ayam, sebatang pohon dengan lanskap pegunungan dan cahaya bulan dalam lukisan Sudiardjo memperlihatkan wilayah domestik khas masyarakat petani. Lukisan berukuran 95 x 125 cm ini memperlihatkan sebuah paradigma estetik di mana semangat nasionalisme yang bersumber dari masyarakat bawah benar-benar diperjuangkan. Dalam riwayat seni rupa modern Indonesia, paradigma ini pernah menjadi gerakan terutama oleh pelukis-pelukis Persagi dengan kredonya yang monumental itu: “mencari seni lukis Indonesia baru”.

Maestro ekspresionis Affandi juga mencatatkan namanya melalui lukisan berjudul “Sapi” (1977). Sapuan cat minyak yang nampak tak beraturan pada kanvasnya menghidupkan dunia batin manusia (dirinya) melalui figur sapi. Mencermati lukisan itu, kita dihadapkan pada sesuatu yang ganjil, kita tidak menemukan kaki belakang sebelah kanan sapi sebab di situ Affandi membubuhkan tapak kaki manusia lengkap dengan lima jarinya. Tapak kaki itu seolah menggantikan kaki sapi yang hilang (atau ia memang tidak ada?). Kita merasakan kecamuk, dibawa ke sisi personalnya. Keganjilan itu setidaknya menyingkap sebuah relasi yang intim antara sapi dan manusia.

Semakin ke sini, sapi terus mengisahkan dirinya, berkolerasi dengan semangat zaman yang terus berubah. Sapi sebagai binatang piaraan dalam kanvas Sudiardjo telah berganti sapi sebagai pengganti ibu bagi balita-balita di perkotaan. Meningkatnya kelas menengah perkotaan telah menyibukkan manusia untuk berkarir di dunia kerja agar kebutuhan konsumsinya terpenuhi. Isu-isu kesetaraan melahirkan salah satunya pandangan bahwa perempuan tidak harus menjadi ibu rumah tangga, mereka juga bisa berbuat sesuatu di luar rumah sebagaimana para laki-laki. Tetapi pandangan ini meninggalkan retakan di lingkungan keluarga, terutama pada anak-anak mereka. Kondisi ini berjalan beriringan dengan produksi susu kaleng yang terus meningkat. Produk-produk baru susu sapi kaleng bermunculan dengan beragam iklan dan promosi keunggulannya masing-masing. Bagi para ibu di perkotaan, produk susu sapi kaleng dianggap sebagai jalan keluar bagi dahaga ASI untuk anak-anak mereka, tetapi selalu ada yang tak lengkap dan selanjutnya menimbulkan retakan-retakan; bahwa susu sapi kaleng tak bisa menggantikan air susu ibu, susu sapi kaleng tak bisa memberikan pelukan kehangatan selayaknya ibu kepada anak ketika menyusui. Kondisi macam inilah yang menjadi kritik Hedi Hariyanto dalam karya instalasinya yang berjudul “Where is My Mom?” (2005). Melalui karyanya, Hariyanto menghadirkan patung sapi yang seluruh tubuhnya dipenuhi  beragam merek kaleng susu bekas. Sapi itu seperti menarik benda silinder (kaleng?), di dalamnya kita bisa melihat sejumlah patung kepala bayi yang tampak sedang mengikuti sapi (induknya?), di dalam silinder itu juga dipenuhi dot. Karya ini sesungguhnya memapar perkara domestik seorang perempuan namun dibawa ke ruang sosialnya.

Ada pula sapi hadir tidak sebagai entitas kebudayaan yang mengisahkan masyarakat, tetapi hadir sebagai bahasa, simbol, atau alat penyampai makna belaka. Kita bisa menengok kembali karya Budi “Ubrux” pada pameran tunggalnya yang berjudul “Nggiring Sapi neng PWI” di kantor PWI Yogyakarta pada tahun 2012. Sapi ciptaan Budi dibuat dari meterial koran dan dinding tempat pameran berlangsung juga ditempel koran. Fakta bahwa kantor PWI dijadikan tempat digelarnya  pameran, dan pameran ini juga menjadi rangkaian acara memperingati Hari Pers Nasional 2012, serta eksplorasi material koran pada karyanya telah menerang-jelaskan arah karya ini, bahwa Budi sedang membicarakan media massa dan perkara-perkara di sekitarnya.

Jika mengedarkan pandangan ke belahan dunia yang lain, kita akan menemukan sebuah pameran bernama “Cow Parade”. Pameran ini menampilkan figur sapi dengan beragam bentuk, ekspresi, dan ditampilkan di ruang publik. Hingga saat ini “Cow Parade” telah melibatkan lebih dari 10.000 seniman. 79 kota di dunia pernah diberi kehormatan untuk ambil bagian. Di Asia, pameran ini pernah berlangsung di Tokyo (2003), Taipe (2009), dan Hong Kong (2013). Gelaran yang diinisiasi oleh Cow Parade Holdings Corporation ini adalah peristiwa perjumpaan artistik di mana narasi tentang sapi di dunia dipresentasikan kepada publik. Pameran ini berpijak pada pengertian bahwa sapi adalah hewan kesayangan yang universal. Sapi ada di mana-mana, tidak seperti onta yang cuma  di tanah Arab, atau pinguin di daerah kutub. Sapi-sapi dalam Cow Parade membawa persoalannya masing-masing, sebagaimana situasi peternakan di Belgia, misalnya—(salah satu negara di mana rata-rata setiap orang mengonsumsi 100 kg daging sapi setiap tahunnya [sumber: www.hbbbb.be]) berbeda dengan sapi yang menjadi mitra bekerja para petani di Indonesia. Saya tidak tahu apakah ada salah satu seniman yang pernah mempresentasikan sapi Indonesia, wabilkhusus sapi Madura di panggung rupa sapi itu? Suatu saat, bukan tidak mungkin sapi-sapi itu datang ke Indonesia untuk menyaksikan sapi-sapi perkasa asal Madura, berpameran di tanah garam. Ah!

Demikianlah, sapi-sapi itu hadir dan direkam dalam lukisan dan instalasi, menebalkan garis relasinya dengan manusia dan masalah-masalah di sekitarnya. Ada sapi yang hadir telanjang sebagai binatang piaraan dalam realitas masyarakat petani, ada sapi yang meriwayatkan kecamuk dalam batin seseorang, ada sapi yang mengisahkan ironi masyarakat modern, ada pula sapi yang berbaju kritik dan wacana meski tak ada hubungannya dengan dirinya. Bukan tidak mungkin ada sejumlah karya tentang sapi yang lain namun lepas dari amatan saya. Tetapi, sekurang-kurangnya empat karya dari empat perupa ini telah mengantarkan sapi ke tempat yang terhormat: membawanya dari kandang ke sebuah galeri, ditonton oleh penikmat, dicatat dalam katalog, disimpan di museum, ditulis oleh peneliti, direnungkan oleh seniman, dan didiskusikan oleh akademisi.

Sapirin

Seniman-seniman di atas adalah pendahulu Suvi, tetapi selalu ada yang berbeda sekalipun mengisahkan subjek yang sama. Selalu ada yang tertinggal dan karenanya mesti dilengkapkan. Selalu ada yang tak diungkap dan karenanya mesti ada yang memiliki inisiatif untuk membukanya. Tampaknya Suvi akan istiqamah bersibuk-khusyuk dengan sapi Madura; menggali yang terpendam, melengkapkan yang kurang, mengungkap yang diam. Tampaknya ia menyadari tugasnya sebagai generasi muda Madura untuk menyampaikan kisah sapi dalam wujud rupa kepada orang lain. Jika ia terus bertahan dalam menggali sapi Madura, saya yakin ia akan menggenapkan kisah-kisah sapi dalam karya-karya seni rupawan pendahulunya.

Ketimbang figur sapi dari para maestro lintas generasi di atas, sapi dalam karya Suvi hadir begitu puitis dan sekaligus ironis. Ada kebanggaan terhadap kebudayaan leluhurnya di satu sisi, namun ada benih pemberontakan yang tak boleh dibilang sepele di sisi yang lain. Melalui karyanya, Suvi hendak bilang bahwa ia memiliki riwayat kebudayaan yang kaya tentang sapi, tetapi saya melihat ada gejolak dalam kebanggaan itu, suatu kondisi yang hadir setelah melakukan pembacaan yang mendalam atas narasi sapi di daerahnya, misalnya Karapan Sapi yang sarat gengsi dan kekuasaan, cenderung maskulin dan melanggengkan praktik kekerasan terhadap binatang. Sapi dalam sejumlah karyanya melampaui bentuk binatang berkaki empat, kita tidak akan menemukan karya Suvi dengan bentuk sapi utuh, tetapi fragmen-fragmen, potongan-potongan, yang kesemuanya berbicara tentang sikap, mental, juga gugatan.

Fragmen-fragmen dan potongan-potongan itu seperti hendak mengabarkan sebuah ketidaklengkapan. Pada ruang yang disediakan “ketidaklengkapan” itulah proses refleksi berlangsung. Ya, di samping gugatan, ada semangat refleksi yang begitu tampak dalam karya-karyanya. Ketidaklengkapan itu mengingatkan saya pada instalasi berjudul “Coesco Cow” karya seniman asal Cuba, Jeosviel Abstengo. Abstengo membuat 30 patung sapi yang kesemuanya tidak lengkap alias cacat. Anggota badan sapi dimutilasi, ada yang kepalanya tanggal, kakinya patah, perutnya berlubang, dan lain-lain. Semuanya tanpa jeroan. Di dalam tubuh sapi dipasang lampu 40 watt sehingga ketika dilihat dalam jarak tertentu, tubuh sapi bagian jeroan itu bercahaya. Mereka berbaris layaknya model yang sedang beraksi di panggung catwalk. Sebuah karya yang terlihat anggun namun menyakitkan.

Saya cenderung melihat sapi di Madura dengan seperangkat kebudayaan yang berdiri di sekitarnya adalah salah satu bentuk ikatan primordial bagi masyarakat Madura. Tradisi Karapan Sapi telah berlangsung sejak masa kolonial Hindia Belanda dan bertahan sampai saat ini. Suvi yang lahir tahun 1993 menerima tradisi tersebut sebagai sesuatu yang terberi dan selanjutnya menjadi pengalaman hidupnya. Dalam tradisi antropologi, ikatan primordial, sekurang-kurangnya dapat dipahami sebagai suatu kesatuan yang dihasilkan dari model identifikasi masyarakat yang berlandaskan pada sejarah pembentukan identitasnya yang didapatkan secara natural, atau sebagai sesuatu yang terberi. Pada pertengahan abad-20 Clifford Greetz telah mencatat dan menyajikan daftar bentuk dari ikatan primordial. Misalnya ikatan darah, ras, tempat, agama, bahasa, dan adat, atau dalam istilah bahasa Indonesia biasa disebut SARA (suku, agama, ras).

Pada seluruh karyanya, terutama yang dipamerkan pada pameran tunggalnya yang bertajuk “Homo Sapirin” di C2o, Surabaya, 2016, menunjuk ke arah ikatan primordial itu. Karya-karya berjudul “Sekep | Se ‘Ekep-kep” (Yang Didekap), “Alos-los” (Melesat), “Sakramen”, “Ngabes” (Menatap), dan “Setinggil” semakin menguatkan posisi Suvi sebagai perupa yang menempuh narasi tentang sapi (di) Madura. Pemilihan bahan material seperti celurit, kulit sapi, tengkorak sapi, dan beberapa eksplorasi berbahan garam dan daun jati semakin mengukuhkan bahwa Madura adalah sumber pertama yang digali oleh Suvi.

Inilah yang membedakan karya-karya Suvi dengan beberapa karya perupa Indonesia yang sudah saya sebut di atas. Suvi tidak bisa menghindar dari kenyataan kebudayaan di lingkungannya, tetapi “menghindar” dalam konteks ini bukan dimaknai sebagai “yang perlu ditinggalkan”, sebab dirinya tidak akan pernah bisa meninggalkan kenyataan itu, ia tidak bisa lepas dan selalu hadir di alam bawah sadarnya, “ketidak-lepas-an” serupa cut dalam tradisi psikoanalisa Lacanian, semacam luka yang terus membekas selamanya. Karena ia tidak bisa lepas dari kenyataan itu, maka dengan cerdik ia memanfaatkannya sebagai peluang dan kesempatan, sebagai energi dan kelebihan. Berbeda dengan para perupa yang saya sebut di atas, boleh jadi mereka tidak dekat dengan sapi sehingga figur sapi dalam kanvas dan instalasinya hadir sebagai metafora, sebagai perlambang belaka.

Pada “Sekep | Se ‘Ekep-kep” (Yang Didekap), misalnya, celurit-celurit dan eksplorasi garam dan daun jati dalam kotak kayu itu tidak hanya menceritakan tentang bagaimana narasi kekerasan berlangsung di Madura, tetapi juga berkisah tentang laku hidup dalam keseharian manusia Madura. Celurit-celurit itu biasa dipakai menyabit rumput untuk memberi makan sapi, atau biasa disambung dengan galah untuk mengambil buah di pohon yang tinggi, tetapi sewaktu-waktu celurit itu bisa berubah menjadi senjata yang melindungi atau bahkan menjadi senjata yang berujung kriminal. Pada manusia Madura, celurit dikola secara beriringan: ia bisa menghabisi orang lain, tetapi juga bisa melindungi pemiliknya dari kejahatan. Yang tak kalah penting adalah mengapa celurit begitu berarti bagi orang Madura, terutama laki-laki? Jawabannya sangat filosofis, benda itu dianggap sebagai jelmaan tulang rusuk laki-laki yang hilang. Ah, barangkali celurit adalah Eva, karib hidup Adam yang memakan buah terlarang di surga. Jika benar, astaga, betapa tajamnya Eva, alangkah perkasanya perempuan Madura.

Jika tafsir filosofis itu masih berlangsung dan diwariskan kepada anak cucu, tidak heran apabila senjata itu cenderung maskulin, sebuah benda yang dimonopoli oleh laki-laki. Tafsir ini kemudian menemukan padanannya pada karya berjudul “Alos-los”. Kayu berukir karapan sapi itu ditancap tiga buah celurit. Karapan sapi adalah hiburan yang sarat emosi, ini jenis hiburan yang tidak main-main sekalipun hadiah yang direbut tidak seberapa dibanding dengan biaya perawatan sapinya. Ia melibatkan gengsi dan harga diri. Kekarasan selalu terjadi apabila dianggap ada kecurangan di pihak lawan.

Sementara pada “Ngabes” (Menatap), kita segera dibawa ke sebuah percakapan politik antara pribumi dan pendatang, antara aku dan liyan, antara subjek adan objek. Arsip foto milik Tropen Museum di Belanda yang ditakik Suvi untuk karyanya mengisahkan sebuah “tatapan” (ngabes) liyan kepada aku. Tatapan ini bermakna dua hal, pertama, dalam konteks penulisan sejarah di Madura diinisiasi oleh peneliti “luar”—misalnya. Huub de  Jonge adalah salah satu antropolog yang punya kontribusi penting dalam penulisan tentang Madura terutama perihal Karapan Sapi dan carok. Fakta ini memunculkan pengertian yang ironi bahwa generasi muda Madura yang tidak mengalami sejarah masa lalunya dan ingin tahu dan belajar banyak tentang kebudayaan dan sejarahnya—salah satunya—melalui hasil laporan-laporan de Jonge. Pengetahuan tentang Madura justru diperoleh dari liyan. “Tatapan” de Jonge pada Madura adalah tatapan liyan kepada aku. Ironinya, aku melihat liyan untuk menatap aku sebab aku tidak bisa menatap aku. Meminjam kalimat Afrizal Malna, lensa kamera tidak bisa memotret lensa kamera, sebagaimana bola mata kita tidak bisa menatap bola mata kita sendiri. Sebuah jarak spasial diperlukan untuk menatap yang temporal. Di situlah kita memerlukan cermin untuk melihat bola mata sendiri. Cermin adalah liyan, cermin menegaskan jarak. Tetapi cermin perlu diwaspadai, ia tidak bisa menyampaikan fakta secara utuh. Ketika di depan cermin dan kita menggerakkan tangan kiri, lantas cermin mengabarkan bahwa yang bergerak bukan tangan kiri melainkan tangan kanan memang benar adanya. Apa boleh buat, hal ini seperti jalan melingkar, aku harus ke luar untuk masuk ke dalam, melihat cermin untuk melihat model rambut kita, untuk berbangga betapa cakepnya kita. Tetapi, bagaimana jika cermin itu retak? Seperti apa rupa kita?

Kedua, perkara “tatapan” kemudian semakin rumit namun penting. Perkaranya bukan lagi bagaimana lensa liyan memotret (menatap) aku, tetapi “apakah aku bagi tatapan liyan saat aku dipotret?” Dan karya berjudul “Ngabes” menemukan padanannya sebagai percakapan politik di mana aku diposisikan sebagai liyan bagi mereka justru di tanah airku sendiri.

Sementara pada “Sakramen” dan “Setinggil” saya melihat riwayat memilukan pada sapi. Dua karya ini seolah menjadi maklumat bagi eksplorasi astistik dan makna yang muncul di sekitarnya. Pada akhirnya, sapi karapan cuma meninggalkan kenangan dan kejayaan. Sekalipun gelaran kerapan sapi terus berlangsung hingga hari ini, namun dalam “Sakramen” dan “Setinggil” sapi-sapi itu telah selesai, seumpama gladiator yang kesepian ketika masa keemasannya berakhir. Dua karya itu memiliki ciri yang berbeda, “Sakramen” masih mengisahkan sejarah. Suvi menghadirkan bagian-bagian sapi seperti kulit, tulang, tanduk, lonceng, dan kokot sapi. Pada potongan-potongan itu perupa membubuhkan nama pemilik, tanggal dan waktu ketika sapi itu dipotong. Pada karya ini Suvi ingin menghargai binatang itu dengan mencatatnya, memberi marwah untuk dikenang. Potongan-potongan itu adalah saksi yang mengisahkan hubungan manusia dengan sapi.

Tetapi, “Setinggil” benar-benar menggenapkan kepiluan sapi. Nasib terakhirnya bukan ditangisi orang-orang, diantar bersama ke kuburan, melainkan menjadi hidangan kuliner di meja makan. (SRI***)

***Shohifur Ridho Ilahi, sutradara teater. Menulis puisi dan esai seni. Lahir di Pasongsongan, tahun 1990. Buku puisi tunggalnya yang telah terbit berjudul Masegit (Kendi Aksara Yogyakarta, 2013) dan Rokat Perahu Mawar (Dewan Kesenian Jawa Timur, 2013). Kini belajar dan tinggal di Yogyakarta. Mendirikan Halaman Indonesia Cultural Forum dan Rokateater | Kelompok Pengkajian dan Penciptaan Seni.

Exit mobile version