Etnografi pri delu, Zadlog 1959/Foto wikimedia/Nusantaranews
Etnografi pri delu, Zadlog 1959/Foto wikimedia/Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO – Mengkaji hubungan antara antropologi dengan sastra paling nampak apabila dikaitkan dengan etnografi dan novel, karya sastra dengan ciri struktur naratif total. Secara praksis sulit membedakan antara novel dengan kisah perjalanan.

Nyoman Kutha Ratna (2011) misalnya memberikan gambaran tentang perjalanan wisata, cerita mengenai suku-suku bangsa, baik ditulis dengan sengaja maupun tidak, baik dengan citra positif maupun negatif. Seorang wisatawan, ilmuan ataupun orientalis pada saat menceritakan kehidupan suku bangsa tertentu, terlepas dari objektif sebagaimana dialaminya, baik secara sadar maupun tidak sadar menceritakan masalah-masalah subjektivitas.

Kecenderungan penambahan-penambahan yang sedimikian rupa, mungkin sebagai akibat keheranannya terhadap peristiwa yang dialami, atau sebab-sebab lain dalam kaitannya proses penulisan tersebut. Tidak ada yang membantah, secara teoritis etnografi termasuk karya ilmiah, bukan fiksi.

Tetapi jika diperhatian lebih jauh model penulisan secara keseluruhan hampir sama dengan penulisan novel. Sebagai sebuah cerita, seperti juga sejarah, maka konsekuensi logis yang ditimbulkan adalah usaha penulis untuk menyusun cerita menjadi masuk akal.

Cara-cara yang dilakukan misalnya, menyusun kembali bahan-bahan kasar yang sudah diperoleh, menyeleksinya, sehingga membentuk alur, sebagai mekanisme pemplotan. Pada tahap terakhir ini karya etnografi persis dengan novel. Tulisan Geertz mengenai Mojokuto (Bactiar, 1981: 521), misalnya, ternyata nama yang dimaksud, justru disamarkan (fiksi).

Secara lebih dalam, antara entnografi dengan novel sejarah serasa beda-beda tipis. Perbedaannya terletak pada pengelompokan antara ilmiah dan fiksi. Jika etnografi masuk kategori ilmiah, sedang novel dikategorikan fiksi. Namun, belum tentu juga karya novel sejarah seratus persen fiksi, karena proses penyusunannya berdasarkan riset dan penelitian via lietratur buku yang panjang.

Sangatlah menarik wacana yang digelontorkan Nyoman Kutha, terkait disparitas antara karya novel dengan etnografi. Bagaimanapun ide disparitas karya sastra dengan antropologi merupakan salah satu analisis baru, yang sebenarnya sebuah gagasan cemerlang, yang selama ini seringkali luput dari teropong para ilmuan antropologi.

Penulis: Romandhon

Komentar