Berita Utama

Pelacur Negeri (Bagian 4: II) – Novelet Yan Zavin Aundjand

Lukisan Pablo Picasso "Les Femmes D'Alger" atau "Women of Algiers"/Foto: waow-nesia.blogspot.co.id

Lukisan Pablo Picasso “Les Femmes D’Alger” atau “Women of Algiers”/Foto: waow-nesia.blogspot.co.id

NUSANTARANEWS.CO – Aku tidak menghiraukan di mana, tapi yang jelas keadaan membuatku tak tenang. Elisa yang hanya menggunakan tengtop dan celana pendek itu mendekatiku dan menyuguhkan buah apel di depanku yang sedang terlentang. Elisa bertingkah seperti temanku, Jumailah. Menyuguhkan buah apel untuk aku makan, seperti dipaksa tapi aku tidak menolaknya. Aku menikmati wangi tubuhnya yang putih itu memasuki tubuhku tak berdaya. Dia terus melayani aku seperti Jumailah melayaniku—seperti istriku menyiapkan makanan untukku. Elisa mengakrabiku dengan layanan, sedang senyumnya tak pernah lepas setiap kali memandangiku. Aku jadi terkalahkan.

“Tinggal dikit, habisin minumannya, ya…!” Pintanya sambil menyodorkan gelas berisi sisa wine.

Aku mengangguk lemas. Mataku semakin buram melihat keadaan. Kunang-kunang mulai menari-nari di depan mataku, mengajak aku bermimpi di siang hari yang juga kelihatan remang. Tubuh Elisa juga remang aku lihat.

“Lisa…” ucapku.

“Iya…” sahutnya. Tangan Elisa mulai memegangi tanganku yang basa keringat.

“Langsung aja…” lanjut Elisa, suaranya terdengar memanja.

Elisa mulai ikut rebahan. Tubuhnya menempel sedikit memeluk tubuhku, tangannya yang lain sambil mengelus dahiku yang berkeringat. Bibirnya mulai mendekat ke telinga, hangat kurasakan nafasnya berhembus perlahan. Aku seperti hilang dalam anganku sendiri, kosong.

Tubuh Elisa seolah menari dalam anganku. Iya, aku seperti perempuan yang tergeletak di ranjang yang dinikmati olehnya. Aku tidak mencoba atau pun berusaha menolaknya. Kunikmati saja keadaan itu, pun aku juga menginginkannya. Aku tak menghiraukan siapa-siapa, pun tak menghiraukan Jumailah yang juga tinggal seapartement dengan Elisa, bahwa saat ini hanya aku dan Elisa tanpa siapa-siapa.

Elisa sangat pandai meraba dan bermain di tubuhku. Halus kulitnya, putih tubuhnya. Nyengat harum keringatnya. Rambutnya terurai lembut mengikuti gerakan tubuhnya di atasku. Terus berayun. Suara-suara desah desuh seolah membisik ranjang, sampai suara jerit memeluk erat tubuhku.

Aku merasa tertidur kembali setelah aku melakukan sesuatu dengannya. Pikiranku sudah mulai bermain-main dengan alam lain, alam ruh—alam yang mungkin akan mengantarkan aku bertemu dengan sesuatu yang mengerikan lagi. Perasaanku, aku ingin ruhku menghampiri istriku di rumah. Perasaanku, aku sudah lama tidak menemani istriku di ranjang malam pertamaku. Aku rindu istri dan anakku. Akankah aku bertemu dengannya dalam mimpi.

Iya, dalam mimpi itu, aku berjalan di atas trotoar jalan menuju rumahku. Gang-gang di samping jalan itu kulihat sepi sekali. Di trotoar itu aku sering bermain dengan anakku. Ah, gang di rumahku tak ada, lalu seperti hilang deretan rumah-rumah di sana. Tidak ada penduduk. Tetanggaku juga tidak ada. Rumah-rumah kulihat sudah rata dengan tanah. Ke mana istri dan anakku tinggal? Aku merasa sangat berdosa sekali pada mereka—tidak menjaga mereka waktu rumah kami roboh dan hancur. Apa mungkin mereka selamat. Oh, tidak. Rumah-rumah mereka digusur oleh tangan-tangan lain yang punya kepentingan di tanah itu. Sungguh kejam, sungguh tega menelantarkan keluarga dan tetanggaku harus disingkirkan di pinggir jalan, jalan yang penuh debu-debuh oleh mesin mereka juga. Di manakah mereka berada, aku ingin bertemu.

Kampung-kampung tak ada. Jadi kota pabrik seketika. Katanya, kota pabrik lebih maju. Area perkampungan berubah menjadi tumpukan gedung-gedung. Desa-desa jadi pembuangan sampah-sampah pabrik dan membuat mereka semakin menderita kelaparan, wabah, penyakit, dan sebagainya. Kota pabrik yang penuh debu, kota pabrik yang penuh dengan kebisingan mesin-mesin keserakahan mereka tak tahu kawan dan sanak family. Otaknya berisi uang dan menindas lawan tanpa harus merawat alam yang mereka singgahi.

“Kalau mau jadi pebisnis sukses, maka harus jadi pebisnis yang tega,” kata mereka di sebuah jalan kepada yanga lain—memberikan semangat bagi yang lain yang baru saja merintis bisnisnya.

“Time is money: waktu adalah uang.” Kata orang barat, mereka mempraktekkannya di kehidupan bisnisnya. Karena waktu adalah uang, teman pun harus dilawan. Diskusi-diskusi uang semarak menjadi ajang bergengsi di mana-mana. Jalan-jalan tak lagi seindah dulu. Bumi hilang keperawanannya diperkosa oleh keserakahan mereka hanya kepuasan dan untuk kepentingan pribadinya sendiri. Apakah jadi orang kaya harus memusuhi banyak orang? Sampai temannya sendiri dianggap musuh? Ah, tidak. Aku tak ingin itu terjadi padaku. Aku hanya ingin kaya yang bisa mensejahterakan orang banyak.

Tak lama setelah itu, ada sesuatu yang kemudian menunggangi punggungku dalam keadaan telanjang, hanya selimut di ranjang itu menutupi tubuhku. Aku terbangun. Kali ini, aku merasa puas dengan tidurku nyaman meski mataku masih sedikit berat kubuka, aku terpaksa bangun. Ah, Jumailah. Dia sudah datang.

“Bangun,” pintanya.

Aku tidak menghiraukannya. Aku ingin tidur lagi, namun dia terus memaksaku untuk bangun.

“Ayo, bangun, Sayang…” Jumailah menarik tanganku.

“Aku mau tidur.”

“Ini udah jam berapa. Ayo, bangun,” pintanya terus memaksa.

“Iya.”

“Udah siang. Ih… bangun…”

“Iya, iya.” Aku terpaksa bangun.

“Cepat mandi. Bentar lagi kita jalan.”

Dalam keadaan setengah sadar aku beranjak ke kamar mandi. Mata separuh terbuka. Kakiku seperti mau kesandung di mana-mana. Aku tersiksa dengan ketidak sadaran sukmaku menyatu. Di kamar mandi, aku berkeramas menyadarkan diri, mengembalikan sukmaku dalam kesadaran. Malam itu benar-benar melelapkan aku, tubuh dengan sendiri bertindak dengan sendirinya, tak tahunya aku sudah tanpa sadar tergeletak sendirian di atas kasur itu. Iya, aku sadar, kapan Elisa pergi? Apa yang sudah aku lakukan dengannya? Seolah-olah aku tidak ingat apa yang dilakukannya dengan Elisa. Aku tersenyum mengingatnya.

Selesai mandi, aku biarkan diriku berdiri di depan jendela. Kubiarkan tubuhku kepada angin menyapa tubuhku dari arah jendela itu juga. Ada suara dari belakangku, mencoba membuka lempengan-lempengan kesadaranku, menelanjangi tubuhku untuk kembali mengingatkan kejadian sebelum aku terlelap—ditinggal pergi oleh Elisa. Jumailah tiba-tiba memelukku dari belakang, menciumi bau badanku yang masih melekat bau sabun mandi.

“Kamu ngapain aja sama temanku?” Pertanyaan itu sungguh mengagetkan aku.

Aku telah melakukan hal-hal di luar dugaan dengan Elisa. Tapi, kenapa pertanyaan Jumailah membuat aku kaget dan bingung. Andai pun dia tidak tahu, aku tidak bisa untuk mengelak dan berbohong padanya. Aku tidak yakin Jumailah tidak tahu. Bila tidak, dia tidak mungkin bertanya seperti itu, apalagi dia tahu aku tidak menggunakan pakaian apa-apa. Oh, aku tidak bisa bohong.

“Nggak apa-apa. Aku udah tahu, kok. Aku yang meminta dia,” ucapnya kemudian seperti tak terjadi apa-apa. Dia tetap memelukku tanpa sedikit pun melepasnya. Aku heran berbaur bingung tanpa kepayang.

Aku diam tanpa berkata apa-apa.

Tubuhku dalam peluknya.

Jumailah kembali menciumi tubuhku yang hanya tertempel handuk. Kubiarkan saja tanpa menanggapi apa yang dikatakan, sedang heran dan bingung masih terngiang-ngiang dalam otakku. Inilah yang membuat aku tidak bisa menolak apa yang diinginkan Jumailah. Tanpa menghiraukan apa yang terjadi, Jumailah terus merangsang titik-titik tertentu di tubuhku yang tak lagi kuhiraukan. Aku seperti orang yang tiba-tiba terhipnotis oleh keinginannya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolak keinginan Jumailah.

Kami bermain-main dalam kesadaran masing-masing. Sesekali tersenyum memupuk segala dalil-dalil nafsunya sendiri-sendiri. Aku merasa tidak punya tanggungjawab apa-apa selain harus nurut kepadanya. Padahal, dipundakku ada tanggungjawab besar yang sedang aku pikul, yaitu keluargaku sendiri. Aku tidak memikirkannya setiap kali aku melakukan hal yang sama yang pernah aku lakukan dengan istriku atau setelah melakukan itu. Aku sungguh terhipnotis oleh keadaan yang aku jalani sendiri. Akankah kesadaran itu kembali kepadaku?

Entahlah, seperti desir angin menyapa kami berdua dari arah jendela, seperti membawa rindu dalam warna. Mungkin wanginya seperti angin membawa wewangian istriku sebagai ingatan. Dulu, ketika aku menjadikan Jumailah sebagai teman pujaan hati di setiap hembusan nafasku, dia selalu datang dalam mimpiku, di mana pun aku jauh darinya. Bahkan dalam mimpi kami pun sampai berbagi, membaca kalimat tubuh masing-masing, menaburkan keringat dalam ruang redup, sampai aku lupa akan sehelai benang di tubuhnya, meski pun itu hanya sebatas mimpi.

(Bersambung…. Baca cerita sebelumnya: Pelacur Negeri (Bagian 4: I) – Novelet Yan Zavin Aundjand)

*Yan Zavin Aundjand, Sastrawan asal Madura. Karya-karyanya yang sudah terbit antara lain Labuk Dhellika (Antologi Puisi), Jejak Tuhan (Novel), Tarian di Ranjang Kyai (Novel), Sejarah Agama-agama Besar Dunia (Sejarah), Pinangan Buat Najwa (Antologi Puisi), Kupu-kupu di Jalan Simpang (Antologi Puisi), Bangkai dan Cerita-cerita Kepulangan (Kumpulan Cerpen), Garuda Matahari (Buku), dll. Mukim di Jakarta.

_____________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi karya baik berupa puisi, cerpen, dan esai dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]

Komentar

To Top