Transportasi konvensional vs online/FotoviaDewi Nurjanah/Nusantaranews
Transportasi konvensional vs online/FotoviaDewi Nurjanah/Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO – Di Indonesia, layanan transportasi online masih diributkan dan menuai pro-kontra. Terutama terkait tarif yang dianggap tidak memberikan rasa keadilan bagi penyedia transportasi tradisional. Penyedia jasa transportasi umum berbasis aplikasi harus berdadapan dengan sejumlah aksi penentangan sehingga pemerintah didesak melakukan penataan kembali sistem dan regulasi transportasi secara menyeluruh.

Sebagian kalangan menjadikan jasa transportasi berbasis aplikasi seperti Gojek, Grab dan Uber sebagai pekerjaan utama. Dan sebagian lain ada pula yang menjadikannya sebagai pekerjaan sampingan karena secara umum tak terikat waktu seperti pekerjaan konvensional umumnya.

Gojek, Grab dan Uber adalah fenomena The Gig Economy atau On-Demand Economy. Model ekonomi ini berkembang pesat dalam 10 tahun terakhir. Model ekonomi ini mengubah lanskap dan struktur industri yang sudah bertahan beberapa dasawarsa terakhir. Ini bisa kita lihat apa yang terjadi di industri media, industri ritel dan industri lain sebagainya. Lalu apakah model ekonomi ini akan bertahan dalam jangka waktu lama sebagai sebuah pekerjaan?

Menurut survei, hanya 10 persen pekerja di Inggris yang memilih The Gig Economy sebaagi pekerjaan utama. Dikatakan, orang masih setia pada pekerjaan tradisional atau pekerjaan konvensional. Survei yang dilaporkan Independent ini mengungkapkan hanya 10 persen orang di Inggris menganggap The Gig Economy sebagai pekerjaan masa depan.

Situs kerja Glassdoor mensurvei 2.000 orang. Mereka menemukan hanya 13 persen pekerja di semua jenis pekerjaan mengambil The Gig Economy sebagai pekerjaan pada tahun 2017. Sementara 27 persen pekerja masih mempertimbangkan untuk mengambil pekerjaan tersebut dan sebagian besar karyawan (76%) setuju bahwa mereka akan merasa lebih aman bertahan dengan pekerjaan tetap kendati The Gig Economy tengah berkembang dan tren di London.

Namun, survei Glassdoor menunjukan bahwa imbal hasil dari The Gig Economy fleksibiltas dengan 35 persen serponden mengatakan ini akan menjadi insentif terbesar bagi mereka untuk bekerja lepas atau dalam kontrak yang sangat singkat. Sekitar 11 persen mereka mengaku pekerjaan tersebut menciptakan keseimbangan yang lebih baik, sementara 10 persen lainnya mengatakan bahwa pekerjaan itu membuat anda bisa menjadi atasan diri anda sendiri.

Namun, untuk urusan gaji dan tunjangan, kerja tetap menjadi faktor tempat kerja terpenting bagi pria (56 persen) dan wanita (63 persen) – sesuatu yang biasanya kurang stabil dalam The Gig Economy. Untuk alasan inilah model Gig Economy dipandang bukanlah pekerjaan masa depan kendati kemajuan teknologi kini telah seperti takdir hidup yang tak dapat dihindari manusia.

Pewarta: Eriec Dieda
Editor: Achmad Sulaiman

Komentar