(Foto: Istimewa)
NUSANTARANEWS.CO, JakartaAssociation of South East Nations (ASEAN) menapaki setengah abad usianya sejak dideklarasikan pada 8 Agustus 1967 silam. Lima negara pendiri ASEAN adalah Indonesia, Filipina, Malaysia, Singapura, dan Thailand.
Brunei Darussalam, Vietnam, Laos, Myanmar dan Kamboja menyusul di tahun-tahun selanjutnya, terutama medio 1990-an. Yang menarik adalah bergabungnya Myanmar dengan ASEAN pada 23 Juli 1997. Dulu, musuh komunis yang di hadapi ASEAN adalah Vietnam, Kamboja, dan Laos yang kini telah menjadi anggota. Termasuk bergabungnya Myanmar yang mengakhiri puluhan tahun isolasi, yang mengundang reaksi kecaman dari blok Barat. ASEAN berhasil meletakkan dasar bagi transisi demokratis di Myanmar tanpa kekerasan. Sebuah catatan menarik bila mengingat gagasan NASAKOM Bung Karno yang terimplementasi dalam bentuk kerjasama multilateral negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) tersebut.
“Saya Joko Widodo, Presiden Republik Indonesia mengucapkan selamat ulang tahun ASEAN ke-50. Bersama Indonesia ASEAN kuat, bersama ASEAN Indonesia maju,” kata Presiden Joko Widodo menyambut hari ulang tahun ASEAN ke-50 yang jatuh pada 8 Agustus.

Selama 50 tahun, ASEAN telah menunjukkan kekuatan dan kemajuannya, terutama terkait stabilitas kawasan. ASEAN cukup mengangumkan dalam menjaga stabilitas di kawasan di tengah-tengah hantaman krisis dan situasi global yang kian tak menentu. Semuanya itu tentu tak lepas dari akar budaya musyawarah dan mufakat (konsultasi dan konsensus) yang ditanamkan oleh Indonesia.
Peran Presiden Soeharto sudah barang tentu tercatat dalam lembaran sejarah. Tidak dipungkiri, bahwa keberhasilan ASEAn hari ini adalah berkat kepemimpinan yang kuat Soeharto. Ia mampu menggandeng Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohammad, Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew, Presiden Filipina Ferdinand Marcos dan Raja Thailand Bhumibol Adulyadej untuk membendung pengaruh komunisme di kawasan Asia Tenggara di tengah berkecamuknya Perang Dingin (Cold War) antara AS dan Uni Soviet.

“ASEAN mampu menjadi motor yang menjadikan kawasan Asia Tenggara sebagai kawasan yang damai dan stabil. Sebagai salah satu founding fahters dari ASEAN, Indonesia ingin melihat ASEAN yang lebih kuat dan ASEAN yang mampu berkontribusi bagi pedamaian dan kesejahteraan dunia,” kata Menteri Luar Negeri, Retno L.P Marsudi. (ed)
Editor: Eriec Dieda

Komentar