Mentan usai melepas ekspor beras organik yang dibudidayakan Gapoktan Simpatik ke Belgia di Desa Mekarwangi, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Kamis, 1 September 2016/Foto dok. Kementan
Mentan usai melepas ekspor beras organik yang dibudidayakan Gapoktan Simpatik ke Belgia di Desa Mekarwangi, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Kamis, 1 September 2016/Foto dok. Kementan

NUSANTARANEWS.CO – Beras adalah kebutuhan pokok orang Indonesia. Sebelum orang Indonesia dari sabang merauke menjadikan beras sebagai bahan konsumsi utama, di berbagai daerah ada yang mengkonsumsi makanan dari jagung, saga, ketela dan ubi. Perubahan dan kemajuan zaman, membawa selera orang Indonesia untuk setia pada beras alias makan nasi beras. Untuk menyebut satu contoh, orang Madura yang dulunya makan nasi Jagung, kini selama ada beras, jagung menjadi nomor dua.

Orang Indonesia disebut sebagai masyarakat agraris. Artinya, masyarakat Indonesia bisa hidup makmur sentosa dengan hasil pertanian. Sebab beras menjadi kebutuhan pokok, orang Indonesia mestinya tidak kekurangan beras karena ia merupakan masyarakat agraris. Namun faktanya, hasil pertanian di Indonesia, belum sepenuhnya mencukupi seluruh kebutuhan masyarakat. Buktinya, pemerintah masih melakukan impor beras ke luar negeri.

Pertanyaannya, dimanakah akar masalahnya, sehingga hasil pertanian padi belum mampu mencukupi kebutuhan masyarakat Indonesia dalam setahun? Soal ini sudah menjadi bahan pembicaraan serius sepanjang tahun dan bertahun-tahun. Segala upaya mungkin sudah dilakukan oleh berbagai menteri, dari menteri A, Menteri B, sampai Menteri Amran Sulaiman.

Bulan September ini, kembali hadir Hari Tani Nasional. Atas kesadaran dan kenyataan di Hari Tani Nasional ini, mesti menjadi hari besar untuk membaca lagi tugas dan kewajiban setiap kita sebagai bangsa Indonesia, khususnya Menteri Pertanian dalam membicarakan ketahan pangan, terutama beras. Satu pertanyaan sebagai pintu refleksi di Hari Tani Indonesia supaya tidak menjadi momentum serba seremonial belaka. Lantas, kerja nyata Kementerian Pertanian (Kementan), Amran Sulaiman sudah sampai mana?

Sebagai orang nomor satu yang bertanggung jawab atas proses pertanian di Indonesia, rupanya Amran sepanjang bulan September 2016 cukup sibuk. Tepat di awal bulan September 2016, Amran mengajak para petani untuk bertani cerdas dengan cara menanam Padi Organik. Hal itu dilakukan Mentan sebagai salah satu upaya pemenuhan kebutuhan beras di dalam negeri. Tidak hanya itu, Amran juga berencana memfokuskan bisnis beras organik untuk diekspor.

Rencana baik Amran tersebut disampaikannya usai melepas ekspor beras organik yang dibudidayakan Gapoktan Simpatik ke Belgia di Desa Mekarwangi, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Kamis (1/9/2016). “Tanam padi organik membuat petani sejahtera, ini namanya bertani dengan cerdas,” ungkapnya saat berdialog dengan kelompok tani di wilayah tersebut.

Kepada para petani, Amran mengungpakan bahwa kementan sedang mengupayakan peningkatan luas lahan menjadi 100 ribu ha se-Indonesia untuk ditanami padi dengan cara organik. Karenanya, ia mengajak petani Indonesia untuk mulai melirik pertanian organik. Bertanam organik, menurutnya, tidak beda dengan tanam padi biasanya dari tanam hingga panen. Yang membuat pertanian organik lebih mahal yaitu pengemasan produk (packaging).

Misalnya, kata amran mencontohkan, di Kabupaten Tasikmalaya saja, lahan yang telah ditanami padi organik seluas 15 ribu ha dan mampu mengekspor beras organik selama delapan tahun ke beberapa Negara seperti Malaysia, Singapura, Italia, Belgia, Belanda dan Amerika Serikat. Upaya ini perlu ditingkatkan, mengingat peluang ekspor beras organik masih terbuka lebar. Terutama untuk negara-negara Eropa dan Amerika yang standar keamanan pangannya benar-benar terjaga. Setiap produk yang diekspor harus mengikuti standar, bahkan produknya harus benar-benar mempunyai sertifikasi internasional. Selain itu, tiap tahun produk tersebut harus dilakukan pemerikasaan mutu.

Keuntungan yang bakal didapat dengan ekspor beras, selain menambah devisa negara juga dapat meningkatkan kesejahteraan petani. Sebab, harga beras organik lebih tinggi dibandingkan beras non-organik. Harga beras organik di Eropa diperkirakan mencapai 5-6 Euro atau sekitar Rp 90 ribu/kg. Harga pembelian gabah organik di tingkat petani Rp 14.000,- per kg gabag kering giling (GKG), ditingkat pengempul Rp.18.000,- dan harga ditingkat pasar dapat mencapai Rp. 20.000,- sd Rp. 25.000,- per kg.

Upaya-upaya spektakuler yang dilakukan Mentan Amran di atas penting untuk didukung. Akan tetapi, sebagaimana falsafah yang dikemukakan bungkarno, boleh terbang tinggi, tapi kaki mesti kuat mencakar bumi Indonesia. Artinya, sebelum melompat ke ranah ekspor, Mentan Amran kiranya perlu untuk meratakan pemenuhan beras dengan harga murah di seluruh persada tanah air. (Sulaiman)

Komentar