Freeport Indonesia/ilustrasi/Foto via southpacificmetals/Nusantaranews
Freeport Indonesia/ilustrasi/Foto via southpacificmetals/ Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Untuk membangun, mengelola dan mengembangkan tambang Grasberg yang di olah Freeport ternyata membutuhkan dana yang tidak sedikit. Senior Vice President Geo Engineering Freeport Wahyu Sunyoto menjelaskan, butuh modal besar untuk mengembangkan tambang Grasberg di Papua.

Menurut Wahyu, Freeport sampai menjual aset-asetnya di seluruh dunia supaya punya modal buat investasi di Grasberg. Investasi dalam skala besar untuk bisnis berisiko tinggi ini, butuh stabilitas jangka panjang. Itulah sebabnya Freeport ingin tetap mempertahankan Kontrak Karya (KK).

“Freeport menjual aset di seluruh dunia untuk diinvestasikan di Grasberg, dan menggandeng Rio Tinto. Betapa penting investasi jangka panjang mendapat stabilitas dari pemerintah,” ujar Wahyu dalam diskusi Ikatan Ahli Geologi Indonesia di Hotel Bidakara, Jakarta, Senin (20/3/2017).

Wahyu menjelaskan, cadangan emas dan tembaga di Grasberg adalah salah satu yang terbesar di dunia. Tetapi kekayaan alam itu ditemukan lewat berbagai upaya yang tidak mudah. Menurutnya, eksplorasi pertambangan di Papua sangat berisiko. Ditambah lagi cadangan berada di lokasi-lokasi terpencil yang minim infrastruktur, tersembunyi di hutan dan pegunungan.

“Intinya penambangan di Papua sangat berisiko tinggi. Pada saat eksplorasi, di Papua tidak ada data sama sekali, kita mulai dari nol. Pemerintah belum siap, yang ada hanya peta militer peninggalan Zaman Belanda,” ungkap dia.

Butuh teknik khusus untuk menemukan cadangan mineral di Papua. Wilayah pertambangan Grasberg secara topografi sangat sulit sehingga tak mudah merancang infrastruktur untuk tambang itu. “Tantangan utama eksplorasi di Papua, daerahnya yang sangat terpencil. Kita tidak bisa eksplorasi secara konvensional, harus memanfaatkan Helicopter Hoist Sampling Technique,” papar dia.

“Provinsi Papua punya potensi tambang menjanjikan. Namun, Fraser Institute menyatakan bahwa impact policy yang ada ini berada di bottom. Perbaikan iklim investasi perlu segera dilakukan, karena banyak sekali perusahaan mining luar mengincar Indonesia,” imbuh dia.

Reporter: Richard Andika

Komentar