Kesehatan

Terapi Berujung Sanksi

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Dr dr Terawan Agus Putranto, SpRad harus menerima kenyataan setelah Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) menjatuhi sanksi terhadap dirinya. Kabar beredar, sanksi diberikan karena temuan dr Terawan mengenai terapi untuk penderita stroke melalui metode brain flushing dianggap menyalahi kode etik.

MKEK hanya menyebut bahwa dr Terawan telah melanggar kode kedokteran serius. Namun tak dijelaskan detail mengenai pelanggaran etik yang dilakukan oleh pria yang memulai karir sebagai dokter militer tersebut.

Dalam salinan surat yang beredar, MKEK menetapkan bobot pelanggaran etik kedokteran terhadap Kepala RS Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto ini dikategorikan berat. Yakni serious ethical misconduct (pelanggaran etik serius).

Karenanya, MKEK kemudian menjatuhi sanksi berupa pemecatan sementara sebagai anggota IDI selama 12 bulan dimulai tanggal 26 Februari 2018 sampai dengan 25 Februari 2019 dan diikuti pernyataan tertulis pencabutan rekomendasi izin prakteknya.

Apa Pengobatan Brainwash?

Terapi pengobatan brain flushing atau yang biasa dikenal brainwash (cuci otak) untuk penyembuhan stroke ini mulai ngetrend di kalangan publik Indonesia sejak 2012-2013 lalu. Bahkan mantan Menteri BUMN, Dahlan Iskan pun mengakui manfaat besar dari pengobatan tersebut.

Baca Juga:  Banyak Ternak Mati Korban PMK, Sahat: Peternak di Jatim Harus Dapat Stimulus Ringankan Beban Ekonomi

Pasien stroke yang semula kesulitan berjalan dan berbicara, sembuh dengan metode radiologi intervensi dengan memodifikasi DSA (Digital Subtraction Angiogram).

Dalam hal ini, dr Terawan sebenarnya hanya memodifikan DSA yang sudah berkembang sejak tahun 90-an dengan tujuan meningkatkan keamanan pada pasien dari ancaman paparan radiasi, lantaran jumlah radiasi dapat diredam hingga 1/40 dari jumlah radiasi biasa yang dilakukan di luar negeri. Metode ini juga ramah pada ginjal pasien.

Pada kesempatan di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Juni 2015 lalu, dr Terawan menjelaskan bahwa metode ini dimulai dengan pemeriksaan detail. Dilakukan brain chek-up dengan MRI, neurologi. Ada kelengkapan neurofisiologis dan juga neurobehaviour karena ini berkait dengan tindakan untuk mengetahui ada kelainan apa di otak.

Saat melakukan metode ini, dr Terawan tidak sendiri melainkan juga melibatkan dokter spesialis yang lain seperti ahli endokrin dan juga penyakit dalam. Dengan demikian langkah yang diterapkan pada pasien benar-benar tepat dan aman. Sebab menurutnya tidak semua kasus mendapatkan metode ini, tergantug pada kondisi pasien.

Baca Juga:  Gelar Pagelaran Wayang Kulit Maraton di Jawa TImur, Sarmuji: Ini Cara Golkar Junjung Tinggi Budaya Lokal

“Jadi kita turunkan dosisi radiasi yang biasanya di atas 300 miligray hanya jadi 25 miligray. Kontras 100 cc hanya jadi kurang dari 10 cc agar tidak bahayakan ginjal,” terang pria kelahiran Yogyakarta, 1964 tersebut.

Siapa dr Terawan?

Berdasarkan sumber yang dihimpun Nusantaranews.co, pemilik nama Mayjen TNI Dr.dr.Terawan Agus Putranto, Sp.Rad (K) atau biasa disapa dr Terawan ini merupakan lulusan dari Fakultas Kedokteran UGM. Usai lulus, ia langsung mengabdi sebagai dokter TNI Angkatan Darat. Dirinya menghabiskan kariernya di dunia medis dengan menghasilkan berbagai banyak temuan baru.

Dirinya mulai dikenal setelah mempraktikkan metode cuci otak untuk menyembuhkan penderita stroke. Untuk memperdalam ilmu kedokterannya, ia mengambil Spesialis Radiologi di Universitas Airlangga (Unair), Surabaya.

Dirinya berpandangan bahwa ilmu Radiologi di Indonesia belum banyak berkembang, sehingga ia pun memperdalam radiologi intervensi.

Tahun 2013, ia menyelesaikan program doktor di Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar. Dalam pergumulannya dengan dunia medis, Terawan cerdas. Ia menemukan metode baru untuk penderita stroke.

Baca Juga:  Covid-19 Meningkat Lagi, Wara Sundari: Penerapan Prokes Ditingkatkan Kembali

Metode yang biasa disebut brain flushing itu juga tertuang dalam disertasinya “Efek Intra Arterial Heparin Flushing Terhadap Regional Cerebral Blood Flow, Motor Evoked Potentials, dan Fungsi Motorik pada Pasien dengan Stroke Iskemik Kronis”.

Tahun 2015, ia menjadi Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto. Atas pengabdiannya, Terawan mendapatkan sejumlah penghargaan. Di antaranya penghargaan Hendropriyono Strategic Consulting (HSC) dan dua rekor MURI sekaligus sebagai penemu terapi cuci otak dan penerapan program DSA terbanyak.

Editor: Romandhon

Related Posts

1 of 279