Connect with us

Ekonomi

Tahun 2021 Indonesia Diperkirakan Defisit Energi

Published

on

blok migas corridor, ignasius jonan, perpanjangan kontrak, kontrak blok migas, esdm, pertamina, nusantaranews

Ekonom senior Fasial Basri Mengatakan Tahun 2021 Indonesia Diperkirakan Defisit Energi. (Foto: Istimewa/energyworld.co.id)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Ekonom senior Faisal Basri mengingatkan kepada Indonesia agar waspada terhadapat defisit energi. Menurut dia, defisit energi kini sudah di depan mata.

“Kita harus waspada, karena defisit energi sudah di depan mata. Mulai 2021 diperkirakan kita sudah mengalami defisit energi,” kata Faisal Basri dalam diskusi online bertajuk Problem Defisit Migas dan PR ke Depan yang diadakan INDEF, pada Minggu (28/7/2019).

Defisit energi, lanjut dia, akan mengakselerasi jika pemerintah tidak melakukan apa-apa (business as usual). Bahkan defisit energi bisa mencapai USD80 miliar atau 3 persen PDB pada 2040.

Menurut Faisal Basri skenario di atas bertolak dari 2 faktor utama. Pertama, konsusmi energi Indonesia yang sekarang menduduki nomor 4 terbesar di antara Emerging Markets, tumbuh cukup tinggi (4,9 persen tahun 2018) dan pertumbuhan penduduk masih di atas 1 persen.

“Kedua, produksi energi kita (terutama minyak dan gas) turun secara konsisten,” jelasnya.

Faisal mengaku bersyukur gas Indonesia saat inu masih surplus. Namun demikian, surplus tersebut tak lagi bisa menutupi defisit minyak. Ia menyebut defisit migas mulai terjadi pada 2012.

“Kalau bicara energi, Indonesia sejauh ini masih surplus karena ditolong batu bara. Tahun 2018 ekspor batu bara mencapai USD20,6 miliar, sehingga transaksi energi secara keseluruhan masih surplus USD8,2 miliar,” ungkapnya.

Pewarta: Romandhon

Terpopuler