Surat DPD Gerindra Jogja untuk Victor Laiskodat: Jangan Tipu Rakyat NTT

Dari : Bung Rogger Evantino BR-77, DPD Partai GERINDRA Yogyakarta, Asal NTT.

Saya Ragu Dengan Mental Preman Anda Bos.
Dimana-mana preman high class itu tanpa sedikitpun takut untuk bertarung. Baru juga jadi DPR RI (dengan kekuatan kekayaanmu) kau pulang bohongi rakyat di NTT.

Baru juga partaimu ngekor ke gerbong pemerintah, kau sudah berlagai melekat yang akan membawa berkat. Sudahkah kau buat untuk daerah pemilihanmu?

Ke Kupang engkau hanya sampai di kawasan elit di Pasir Panjang. Engkau tidak ke Kupang Barat, ke Lelogama, ke Amarasi, ke Sonrean, ke Baun, ke Tesbatan, ke Ponian, ke Amfoang, ke Nekamese.

Mampirlah ke Amanatun, Amanuban, Kuanfatu di Soe Sana. Coba kau perhatikan jalan dan infrastuktur di sana. Menyedihkan hai orang kaya. Ap yang kau buat untuk mereka

Orang Timor memang makan Jagung Katemak (Jagung Boshe Kuliner Khas Pulau Timor). Tapi tidak bisa dibohongi oleh kau yang tiap hari makan Pizza di ibukota.
Janganlah menyebar fitnah dengan berpura-pura jujur tetapi berbohong. Mereka tidak sekolah, tapi mereka tahu dan paham betul apa itu toleransi. Tidak perlu kau ajari dan kau dikte.

Kau tidak sadar? Rezim kebanggaanmu ini dengan jaksanya dari bekas kader partaimu tidak bisa memulangkan seorang tersangka pornogragi dari Arab Saudi? Itukah prestasi di bidang penegakan hukum?

Kau mungkin tidak sadar, hanya rezin ini pulalah yang tunduk pada permainan Petak Umpet seorang warga negara yang berstatus tersangka.
Klaim dan tuduhan Anda berlebihan.

Dari pembebasan WNI Tawanan Abu Syayyaf Filipina, dimana Jend. Kivlan Zen dan Kementerian Luar Negeri berminggu-minggu lekukan loby tingkat tinggi, di Last Minute dengan kekayaanmu pesawat berlogo Partaimu mengangkut pulang para tawanan, kau klaim kau yang bebaskan mereka.

Baca Juga:  Tanggapi Pidato Viktor Laiskodat, Fadli Zon: Provokasi Bodoh dan Murahan!

Kau pulang ke daerah dengan kekayaanmu yang membuat Anda akan semakin kaya. Tapi kau lupa kelaskan kepada rakyat di kampung-kampung, beban hutang yang negara wariskan ke anak cucu mereka, dan berapa hutang yang dihasilkan rezim kebanggaanmu ini.

Berhentilah bicara radikalisme dengan analisis otakmu yang tidak mampu menempatkan mana Ormas terlarang dan mana partai politik.

Pilkada bukan ajang permusuhan dan balas dendam. yang baik di daerah-daerah yang sudah terdahulu melaksanakan Pilkada kita ikuti. Yang tidak baik kita tinggalkan. DKI ya DKI. NTT ya NTT. Orang Kupang bilang Katong urus diri sendiri.

Beta teringat saat kemarin di Oesao, sekelompok anak kecil sedang bermain dan menyebutkan pantun.
Om om makan nasi, omongan lusudah basi.
Mungkin ini pantun cocok untuk Anda. Tapi untuk menutup tulisan ini, ijinkan saya memberimu sebuah pantun khusus hai bung DPR.

“Asam di gunung, garam diimpor
rakyat jelata menepuk jidat
hutang menggunung rakyat pun tekor
stop tipu-tipu Victor Laiskodat”

Editor: Ach. Sulaiman