Seperti Laron, Orang-Orang Berbondong Menuju Kota Raksasa Meikarta

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Di atas lahan seluas 500 hektare, mimpi besar James Riady ditancapkan atas nama Lippo Group. Mimpi James tak lain adalah “Meikarta” sebuah megaproyek Kota Baru di Cikarang. Tidak tanggung-tanggung, nilai investasinya mencapai Rp278 triliun. Spektakuler!

Sebuah kota dengan fasilitas lengkap tentu menarik perhatian banyak orang. Mulai dari yang sudah punya rumah di pusat kota Jakarta maupun yang tinggal di kolong-kolong jembatan–meski ia akan terledek oleh impian itu. Sementara James tinggal menunggu kota itu jadi, dan orang-orang akan berdatangan seperti laron-laron menuju cahaya lampu.

Diakui atau tidak, rencana James membangun Meikarta murni bisnis. Karena demi kepentingan bisnis inilah, format dan skemanya harus total dan perfect, pembangunan harus terus jalan, dan properti harus terjual habis. Untuk mencapai target itu, James tahu strateginya. Dimana kini, strategi itu tengah berlangsung.

Pertama, James merencanakan pengembangan Meikarta tepat di Kabupaten Bekasi, sebuah wilayah strategis yang dikelilingi beberapa kawasan industri. 100 gedung pencakar langit—masing-masing memiliki 35-46 lantai terus dibangun. Selain hunian, terdapat area komersial, hotel, kampus, hingga perkantoran dan segala kelengkapan kota lain.

Bahkan, Lippo menargetkan Meikarta menjadi yang paling penting di Indonesia. Semua target yang dicetuskan CEO Lippo Group ini begitu meyakinkan hingga membuat pasar bereaksi. Pun dari kalangan yang kontra, secara menggebu-gebu terus melakukan gerakan penolakan dengan alasan Meikarta belum mengantongi Izin (?).

Merujuk pernyataan Hersubeno Arief dalam tulisannya “Menjual Mimpi Kota Meikarta” bahwa, sejumlah penduduk super kaya memutuskan untuk pindah ke sebuah koloni di luar angkasa bernama Elysium. Koloni yang dikelola oleh seorang wanita bernama Rhodes ini adalah sebuah tempat tinggal impian yang nyaman, tidak ada penyakit dan kejahatan.

Baca Juga:  Mengapa Jokowi Diam Soal Kasus Proyek Meikarta?

“Pada iklan lain dengan durasi yang lebih panjang, tersebar di situs berbagi video youtube, kita diajak menikmati kota-kota dunia. Mulai dari London, New York, Paris, sampai Sidney di Australia. Warga di kota-kota dunia, tampak berbahagia, keluar masuk toko, menenteng produk branded, menikmati jalan kaki di trotoar jalan yang lebar dan bersih, menikmati sore di taman-taman kota yang indah,” urai Hersobeno Arief.

Itulah pertunjukan pembius kesadaran akan impian yang melangit. Impian yang membawa imajinasi seolah-olah tubuh ini bisa dibawa terbang ke tempat yang tanpa persoalan kehidupan. Sebab untuk pergi jauh ke kota-kota di luar negeri barangkala butuh uang banyak dan tidak cukup praktis. Meikarta barangkali bisa menjadi alternatif utama.

Hersobeno Arief pun berkata, bahwa setelah terbuai dan terlena mimpi indah di kota-kota dunia itu, semua dibawa masuk ke Kota Meikarta. Kehidupan warganya persis sama atau malah jauh lebih berbahagia dibanding warga kota dunia tadi. Judul iklan tersebut “The world is ours.”

Jadi, ketika Meikarta sudah jadi, bagi yang mampu tinggal di sana, tidak perlu jauh-jauh ke London, New York, Paris, Sidney. Sebab, semua tersedia di kota yang lokasinya hanya sekian menit dari Jakarta jika ditempuh dengan kereta yang juga telah disiapkan.

“Menyaksikan iklan Meikarta, kita seperti dibawa ke sebuah mimpi yang tiba-tiba menjadi nyata. Itu yang menjelaskan mengapa warga berbondong-bondong–kalau benar klaim Meikarta–membeli apartemen di kota yang dibangun oleh kelompok usaha Lippo tersebut,” tulis Arief.

Baca: Mimpi Meikarta dan Iklan Pembangkit Hasrat Memiliki

Seperti diketahui, hingga grand launching tanggal 17 Agustus lalu, Lippo mengklaim sudah 100 ribu orang yang membeli unit apartemen di kawasan Cikarang, Bekasi itu. “Mereka datang berbondong-bondong memadati sebuah mall di kawasan Cikarang untuk antri. Suasananya hanya kalah dengan antrian warga yang berebut membeli sepatu Nike diskon di Grand Indonesia, Jakarta,” kata Arief.

Baca Juga:  Desa Obat Jakarta, Bukan Meikarta

Harus diakui, bahwa setiap kita memang butuh tempat yang nyaman. Tempat tinggal yang tanpa ada kesenjangan. Tak ada pengemis, pengamen, dan penjaja tissue ketika kita makan. Sebab itu, seperti melukai hati.

Sebaliknya, ketika kita pindah ke sebuah kota yang serba cukup fasilitas tanpa gangguan apapun, ketika itu pula sisi kemanusiaan kita perlahan terkikis. Sebab yang terpikir dan terbayang hanyalah bagaimana badan ini nyaman, tanpa lagi melihat ke dalam diri, bagaimana nasib sang roh. Akhirnya, secara perlahan kita akan jauh dari fitrah kemanusiaan.

Penulis/Editor: Ach. Sulaiman