Connect with us

Budaya / Seni

Sebutir Peluru dan Pertarungan Gobang

Published

on

Penyelundupan 97 peluru tajam di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar ke Jayapura Papua berhasil digagalkan. Foto: Ilustrasi/Istimewa

Penyelundupan 97 peluru tajam di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar ke Jayapura Papua berhasil digagalkan. Foto: Ilustrasi/Istimewa

Puisi Nama Budi Setiawan

Pertarungan Gobang

Firman apa lagi yang ingin kalian dengar?
Jika tangan-tangan Tuhan itu
Telah memberi kabar
Hujan tak akan datang
Dan lidah kemarau seperti pisau
Tajam menikam
Bibir daun-daun tembakau

Firman apa lagi yang ingin kalian dengar?
Jika sepasang gobang itu
Telah saling merindukan
Sebuah pertarungan
Di kota yang kalian kata tempat buah-buah terlarang
Tumbuh dan dibiakkan

Maka, tebanglah tubuhku
Dengan gobang itu
Adakah di sana kalian temukan
Seekor ular bergulung dalam darahku?
Burung Ingatan

Burung itu kembali pulang ke dalam sangkar ingatanmu
Setelah kebebasan yang dijanjikan Tuhan
Mengajarinya, bahwa terbang bukanlah satu-satunya jalan
menuju rindu
Yang kemudian hinggap di ranting-ranting pohon itu

Kicaunya yang merdu telah membangunkan doa-doamu
Yang tertidur lelap
Di kepalaku
Cintamu bersemi kembali
Tambah sabar, tumbuh subur, dann berbuah

Membutakan mata aminku
Yang sekarat
Mencecap manis pahit bibirmu

Sebutir Peluru

Sebutir Peluru
Tersipu malu
Ketika aku kembali
Mengacungkan gagang pistol
Itu tepat di kepalamu

Sebutir peluru
Tak kuasa menahan air mata
Ketika bunyi rindu keluar
Dari mulutnya dan sepi pun terkapar
Di hajar mimpi-mimpi Kita

Bulan mati sedini ini
Ketika malam yang khusyuk sembahyang
Kembali berpulang kepada Tuhan
Di pagi hari

Sebutir peluru
Hanya akan jadi saksi bisu
Atas kekejamanmu
O, cintaku

Budi Setiawan tinggal di temanggung jawa tengah, alumni universitas muhammadiyah magelang jurusan ekonomi manajemen, bergiat di komunitas seni turonggo setro. Bergiat di komunitas turonggo setro, alumni dari universitas muhammadiyah magelang jurusan ekonomi manajemen, beberapa puisinya termaktub dalam antologi bersama di antaranya 100 Puisi Qurani (2016), Puisi Untuk Indonesia (2017), Sajak Untuk Saudaraku (2017) dan 100 sajak untuk Gus Dur (2018).

Baca Juga:  Raih Penghargaan, Gubernur Kaltara: Media Massa Dituntut Ubah Paradigma Pelaku UMKM

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: redaksi@nusantaranews.co atau selendang14@gmail.com

Loading...

Terpopuler