Connect with us

Esai

Sebuah Esai: Penyihir Kata

Published

on

sebuah esai, penyihir kata, yanwi mudrikah, kumpulan esai, esai indonesia, esais indonesia, esais, esais nusantara, nusantaranews, nusantara news

Penyihir Kata. (Ilustrasi/Lukisan Nasirun/Istimewa)

Sebuah Esai: Penyihir Kata

Oleh: Yanwi Mudrikah

Seorang penulis sajak (selanjutnya disebut penyair) lahir dari kegelisahan; kecewa yang teramat; luka yang tak sembuh-sembuh; bimbang yang berkepanjangan; dan cita-cita yang tak kesampaian. Apakah masing-masing orang mempunyai cita-cita? Harapan untuk masa depan? Lalu, apakah penyair adalah sebuah cita-cita atau profesi?

Siapa yang disebut Penyair?

Penyair menurut KBBI adalah orang yang menulis syair (baik perempuan maupun laki-laki). Syair di sini merupakan syair lama atau pun modern (yang sekarang disebut puisi modern). Menurut beberapa referensi, syair lama masih menonjolkan rima abab, aabb, aaaa, dan seterusnya (sepadan dengan pantun). Selanjutnya puisi modern yaitu puisi yang mengacu dari puisi-puisi Sutardji Colzoum Bachri (Presiden Penyair Indonesia).

Loading...

Sederetan nama muncul dari antologi puisi di berbagai daerah. Jalan puisi delalu dijadikan jalan sunyi sekaligus jalan kehidupan. Dan tidak sedikit juga penyair-penyair lahir dari media cetak (Koran). Menurut keyakinan mereka, ketika karya diakui secara nasional berarti harus dimuat (publish) oleh media cetak (koran). Sehingga, penyair-penyair yang lahir melalui media cetak memiliki proses kreatif yang berbeda dengan penyair yang lahir melalui antologi buku yang memang karena kedekatan melalui kawan/komunitas. Dan, tidak sedikit pula karena kedekatan itulah mereka ingin populer di kanca kepenyairan Indonesia atau lebih luasnya pada kesusastraan Indonesia. Istilahnya “sekali tempel, terus populer”.

Menjadi Penyair = Sebuah Hobby (cita-cita) atau Profesi?

Tuhan mencipta setiap makhluk hidup dengan berbagai peranan. Yang lahir dari keluarga biasa, sederhana, kaya raya, kaya harta, kaya hati, soleh-solehah, dari golongan priyayi dan sebagainya. Ketika harapan tidak sesuai ekspektasi pasti kecewa. ketika cita-cita tak kesampaian pasti putus asa. Ketika profesi tak sesuai rencana pasti menyesakkan dada. Begitulah, seringkali harapan tak sesuai dengan rencana atau keinginan kita. Bahkan, seringkali berbanding terbalik dengan realitasnya. Sebut sjaa seorang anak yang lahir dari keluarga yang mapan (harta/ materi) namun, ia harus putus sekolah karena drop out. Atau malah memang tak punya semangat sekolah. Kemudian, dia memilih untuk hidup hura-hura dengan memamerkan harta orangtua.

Baca Juga:  12 Hari Operasi, Polrestabes Surabaya Panen Penyakit Masyarakat

Makan enak
Tidur nyenyak
Kerja ogah
Hidup gak mau susah

Apalagi di jaman seperti sekarang yang memang serba digital. Semua orang ingin dipermudah hidupnya, dan teknologi pun mempermudah manusia dalam segala aktivitas. sehingga, kita secara tidak langsung menjadi malas.

Sekali Tempel, Langsung Populer!

Siapa yang tidak ingin dikenal? Terkenal? Bahkan populer dengan nama dan karya-karyanya (prestasi seabreg-abreg). Apalagi usia yang masih terbilang muda? Pasti mereka ingin axis di media; ingin menonjol; ingin dikenal; diberi ruang yang bebas untuk berekspresi. So, istilah “sekali tempel, langsung populer!” bukan hal yang tabu lagi. Kemudian, ditambah dengan teknologi yang pintar bahkan membodohi manusia. Sehingga, jaman sekarang ini gampang sekali untuk bisa populer dengan gaya ke-artis-artisan. Sekalipun tak memiliki sederet karya yang berkualitas. Tetapi, berburu orang ternama lalu bisa foto berdua (selfie) adalah sebuah kebanggaan tersendiri.

 

 

Yanwi Mudrikah, lahir di gunung gamping Darmakradenan 12 Agustus. Sehari-harinya mengajar di sebuah kampus swasta di Purwokerto dan Cilacap Barat. Dan sesekali menjadi juri cipta puisi, juri baca puisi, dan memberi workshop menulis fiksi dan nonfiksi di berbagai SMP, SMA/SMK/MA atau pun yang sederajat bahkan di Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta. Lalu, Beberapa semester menjadi pelatih jurnalistik di al-Irsyad dan Madrasah Aliyah di Purwokerto. Tahun 2016 dan 2017 mendapat penghargaan dari seleksi buku puisinya yang kedua Menjadi Tulang Rusukmu yang akhirnya dia lolos dan menjadi perwakilan Jawa Tengah sebagai peserta Munsi/ Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia di Jakarta dan Sebagai Teknisi Pengajar Bahasa Indonesia.

Loading...

Terpopuler