Connect with us

Politik

Saiful Mujani: Quick Count Instrumen Pembanding Hasil KPU Nanti

Published

on

Peneliti Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Sirajuddin Abbas. Foto Ucok Al Ayubby/ NusantaraNews

Peneliti Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Sirajuddin Abbas. Foto Ucok Al Ayubby/ NusantaraNews

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Peneliti politik dan kebijakan publik berbasis survei kuantitatif Saiful Mujani mengatakan semua pihak masih sama-sama menunggu hasil rekapitulasi KPU atas Pemilu 2019. Untuk quick count atau hitung cepat menjadi jawaban sementara untuk mengetahui hasil pemilu 2019.

“Kita menunggu hasil rekapitulasi KPU atas pemilu kita. bila tidak ada quick count sampai pagi ini kita masih gelap gulita bagaimana perkiraan hasil pemilu kita,” ujar Saiful melalui akun twitternya, Kamis (18/4/2019).

Saiful Mujani mengatakan, quick count pemilu merupakan ilmu pengetahuan yang memberikan banyak sisi positif. Salah satunya, quick count bisa meredam spekulasi liar mengenai hasil pemungutan suara.

“Pasti spekulasi liar bertebaran mengingat tanah air kita yng luas dan pemilih yng besar,” tulisnya di ‏@saiful_mujani.

“Berkat ilmu pengetahuan lewat quick count spekulasi yang tak bertanggung jawab kita bisa kurangi. Sangat alamiah kalau manusia ingin tahu segera. Ketidak pastian sumber spekulasi dan kisruh. quick count ikut meredam ini,” ujarnya.

Menurut dia, yang lebih penting quick count menjadi instrumen untuk jadi pembanding hasil KPU nanti. Bila keduanya beda ektrim, misalnya hasilnya terbalik, pasti ada yang salah, quick count atau KPU.

“Kalau tak ada quick count kita tak punya alat untuk cek kualitas kerja KPU yang dibiyayai mahal oleh rakyat,” tegasnya.

“Berkat quick count, kita sudah punya informasi yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah bahwa pilpres kali ini mencatat record tingkat partisipasi: sekitar 83 persen,” imbuhnya.

Ia melanjutkan, lewat exitpoll sebelum quick count dimulai kita tahu kesaksian warga bahwa hampir semua warga menilai bahwa pemilu 2019 dinilai jurdil. “Ini legitimasi demokratik atas pemilu kita,” ujarnya.

Dalam pilpres 2009 dan 2014 sore hari, kata dia, data masuk sudah semua. Kali ini kurang cepat. Sampai pagi ini data masuk belum 100 persen walapun hasilnya sudah stabil. Pengitungan di TPS srkarang lebih lama. DPR, tegas saiful, harus lihat lagi mudarat pemilu serempak ini.

“Saya dari awal tidak melihat secara ilmiah maupun praktis manfaat pemilu serempak ini. Saya tahu yang mengajukan ini dulu bukan pakar perbandingan pemilu,” ungkapnya.

“Di atas kerumitan yang begitu besar, pemilu paling rumit di dunia, bangsa kita bisa mekewati pemilu ini secara umum dg baik. Saya salut dengan diri kita sebagai bangsa. Indonesia hebat!,” tandasnya. (red/nn).

Editor: Achmad S.

Terpopuler