Connect with us

Opini

Rizieqisme, 212 dan Pancasila Sama Rata Sama Rasa

Published

on

habib rizieq sihab, rizieqisme, gerakan 212, imam khomeini, tokoh besar islam, politik keumatan, perjuangan islam, perjuangan keadilan sosial, umat islam indonesia

Gerakan 212 umat Islam Indonesia. (Foto: Istimewa)

RIZIEQISME, 212 dan Pancasila sama rata sama rasa. Imam Besar Habib Rizieq Sihab (HRS) sudah dua tahun di pengasingan. Di Arab Saudi. Tentu belum selama Imam Syiah Ayatollah Khomeini, dahulu 14 tahun di pengasingan (Irak, Turki dan Perancis). Namun, selama dua tahun ini, HRS telah membuktikan pada rakyat Indonesia pengaruhnya yang tidak kalah kuat dibanding Imam Khomeini di negaranya, Iran.

Selama di pengasingan (in exile), HRS dikunjungi berbagai tokoh-tokoh besar Islam dan Nasional, seperti Prabowo Subianto, Amien Rais, Fadli Zon, Habib Salim Segaf, dan lain-lain, dari partai politik, dan berbagai tokoh-tokoh non partai politik. Pengaruh HRS ikut memuluskan koalisi oposisi dalam menentukan calon presiden/wapresnya untuk Pilpres 2019, serta membuat kontrak politik keummatan. Pengaruh lainnya adalah menggerakkan massa grass root sebagai massa militan untuk mendukung perubahan sosial, menggerakkan ekonomi UMKM 212 dan juga terkait pilpres tanpa money politic.

Rizieqisme

Rizieqisme adalah sebuah pandangan HRS yang menggerakkan rakyat selama ini. Pandangan yang menggerakkan adalah sebuah ideologi perjuangan, yang dapat di-capture dalam masa-masa kritis penuh tantangan dan resiko yang dihadapi mereka.

Ada sedikitnya 5 pilar dalam Rizieqisme ini. Pertama, perjuangan Islam adalah perjuangan keadilan sosial. Tema ini adalah sentral dalam Rizieqisme. Kritik HRS terhadap kesenjangan sosial, kemiskinan ummat, selalu menjadi tema utama. HRS dalam berbagai pidatonya bukan (hanya sekadar) menyuruh orang Sholat dan menjaga hati, seperti kebanyakan kyai, melainkan HRS menggerakkan permusuhan dengan 9 naga, sebuah simbol dominasi ekonomi taipan di Indonesia

Kedua, perjuangan harus di akar rumput. HRS tidak membangun stratifikasi berbasis kepemilikan atau kekayaan. HRS membangun majelis-majelis di mana semua orang dapat menyapanya secara langsung.

Pengikut HRS juga, misalnya seperti Habib Bahar Smith, mengaktualisasikan masalah ekonomi pada jamaahnya dalam bahasa rakyat sehari-hari, tidak rumit sehingga mudah dicerna.

Ketiga, HRS menjadikan Islam sebagai alat persatuan. Dalam ruang lingkup ummat Islam, bahkan HRS tidak memusuhi Syiah, dalam klarifikasi Syiah yang sesat (Syiah yang suka menghujat keluarga dan Sahabat Rasul). Di luar ruang lingkup Islam, HRS membangun suatu kesepahaman tentang kebangsaan, seperti yang dilakukannya terhadap Prabowo, Rachmawati Soekarnoputri, Japto S, Lius Sungkarisma, dan lain-lain.

Keempat, Rizieqisme tidak mengenal kompromi. Dalam semua gerakannya, HRS mengambil resiko. HRS dan kelompok intinya sudah membiasakan diri untuk di penjara, dihujat, diancam bunuh, bahkan diusir dari Indonesia.

Kelima, tanggung jawab sosial. Rizieqisme selalu cepat tanggap dalam merespon kesulitan rakyat yang dihadapi, khususnya disituasi bencana seperti Tsunami Aceh, Gempa Lombok, Gempa Donggala dan lain sebagainya. Mereka merupakan pasukan gerak cepat yang tanpa pamrih menolong orang susah.

Lima pilar Rizieqisme ini sangat penting dilihat dalam 2 hal yakni faham Rizieqisme menempatkan Islam sebagai agama pembebasan. Dan pandangan HRS solid sebagai sebuah ajaran kehidupan sosial.

212

Angka 212 adalah tanggal berlangsungnya puncak gerakan perlawanan ummat Islam Indonesia atas delegitimasi Islam sebagai kelompok dominan. Berbagai penistaan dianggap terjadi terhadap ajaran Islam selama rezim Jokowi, yakni mencakup di antaranya orang-orang Islam harus bertoleransi atas individual yang tidak ingin menjalankan syariat Islam, misalnya bebas merokok dan membuka warung makan di bulan puasa; ayat-ayat Al Quran harus tunduk di bawah ayat konstitusi; konsep mayoritas-minoritas di mana ummat Islam sebagai mayoritas tidak perlu ada. Islam dianggap tidak nasionalistik dan Pancasilais; konsep syariah harus dihapus dari seluruh bumi Indonesia.

Tentu banyak lagi catatan yang dianggap ummat Islam sebagai penghinaan atas dominasi mereka sebagai masyarakat mayoritas.

Penghinaan ini berlangsung saat di mana isu bangkitnya komunisme, adanya invasi modal dan TKA China dan kesenjangan sosial yang semakin dalam. Sehingga, multi di dimensi faktor tersebut mendorong adanya ‘pemberontakan’ umat Islam yang terbesar (jumlah massa dan isu) dalam sejarah Indonesia. Berbagai aksi yang disebut Bela Islam, menjadi agenda massif selama rezim Jokowi. Yang puncaknya terjadi tanggal 2 Desember 2016.

Angka 212 itu menjadi angka keramat sebagai simbol kebangkitan. Kebangkitan artinya ummat Islam melakukan revitaliasasi pengakuan kedominannya seperti yang ada selama ini. Dan dominasi itu bukan sesuatu yang buruk, namun bersifat local wisdom, di mana mayoritas Islam melindungi minoritas, sebaliknya minoritas menghormati mayoritas.

Gerakan 212 dan Habib Rizieq adalah bak sebuah koin yang sama dari dua sisi mata uang. 212 adalah simbol gelombang perubahan sosial, sedangkan HRS mengemban beban kenabian (messiah) dalam konteks agent of change.

Pancasila Sama Rata, Sama Rasa

Gelombang perubahan sosial yang ditandai dengan 212 dan agen perubahan HRS bersinggungan dengan ideologi bangsa, Pancasila. Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa mengalami ujian besar sejak sila-silanya mengalami kegagalan dalam praksis.

Sebagai sebuah ideologi harusnya Pancasila dapat menjadi rujukan bagi rakyatnya untuk membangun peradaban bersama yang ditandai dengan sebuah spirit of humanity dan kekayaan dibagi merata kepada semua rakyatnya (sharing of prosperity).

Berbagai dominasi penguasaan asset bangsa kita ditangan segelintir oligarki kapitalis sangat mencekam saat ini. Oxfam, NGO asal Inggris misalnya, menyebutkan ada 4 orang terkaya yang asetnya sama dengan 100 juta penduduk miskin. Kepemilikan yang timpang ini diwarnai dengan crazy rich Indonesia yang pamer kekayaannya (seperti pesta kawin dengan biaya lebih 1 triliun di Surabaya yang heboh saat ini) secara menyolok. Pada saat bersamaan kaum muda bersandar pada kehidupan marginal sebagai pengojek, pak ogah dan sektor informal.

Pancasila sebagai ideologi terbuka, jika gagal melahirkan sebuah peradaban, maka mau tidak mau akan terbuka pada pemahaman Rizieqisme. Dahulu, Soekarno dengan Marhaenisme-nya menjadi dominan dalam men-drive Pancasila. Soeharto, pada masanya menggeser Pancasila dalam versi kapitalistik. Ke depan, Rizieqisme mungkin akan menjadi harapan rakyat miskin untuk mengendalikan versi baru Pancasila yang memihak pada umat dan orang-orang jelata.

Rizieqisme dan 212 terus bergelora mendorong perubahan bangsa kita. Sebuah perubahan adalah sebuah gejala alam atau juga sebuah dialektika sosial. Perubahan tidak bisa dicegah jika momentumnya sedang berlangsung. Tugas besar elit bangsa ini adalah memahami perubahan sosial yang sedang terjadi dan mengendalikan perubahan tersebut secara damai dan bermakna.

Oleh: Dr. Syahganda Nainggolan, Sabang Merauke Circle

Advertisement

Terpopuler