Connect with us

Ekonomi

Presiden Trump Menyetujui Proyek Israel Raya Dengan “Deal of the Century”

Published

on

Presien Trump

Presiden Trump menyetujui proyek “Greater Israel” tanpa syarat.

NUSANTARANEWS.CO – Presiden Donald Trump yang pasti telah menyetujui tanpa syarat terhadap permukiman ilegal Israel di Tepi Barat yang diduduki, termasuk pengakuan kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan. Semua perkembangan itu adalah bagian dari “Deal of the Century” untuk membentuk “Greater Israel”. Sedangkan bangsa Palestina yang tersebar menjadi pengungsi akan di naturalisasi sebagai warga Lebanon, Yordania, Suriah, Irak, dan di tempat lain di kawasan tempat mereka mengungsi.

Desain “Israel Raya” ini bukanlah “Proyek Zionis” di Timur Tengah seperti yang kita bayangkan, tapi lebih kepada sebuah disain integral strategis dari kebijakan luar negeri AS untuk memperluas hegemoninya serta memecah belah Timur Tengah sehingga menjadi lemah.

Seperti keputusan Trump untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel jelas merupakan provokasi untuk memicu destabilasasi politik di seluruh wilayah regional Timur Tengah. Betapa tidak bila AS terus turut menyebar luaskan isu Zionisme terkait Negara Yahudi yang membentang: Dari Sungai Nil hingga Sungai Efrat. Menurut Rabbi Fischmann, “Tanah Perjanjian yang memanjang dari Sungai Mesir hingga Sungai Eufrat, itu termasuk Suriah dan Lebanon.”

Dalam konteks ini, boleh jadi invasi Irak 2003, perang Lebanon 2006, perang Libya 2011, dan perang berkelanjutan di Suriah, Irak dan Yaman, dan krisis politik di Arab Saudi merupakan bagian dari proyek raksasa tersebut. Sebuah proyek bernilai trilyunan dolar yang menggiurkan terkait tanah, properti, rekonstruksi dan senjata. Sebagian ”blue print” proyek raksasa tersebut akan segera dilaunching dalam “Konferensi Bahrain” pada akhir bulan ini.

Dukungan kuat AS, NATO dan “NATO Arab” serta pemulihan hubungan Saudi-Israel secara langsung telah memperkuat posisi Israel di Timur Tengah, terutama dalam menghadapi Iran. Perlahan tapi pasti proyek “Greater Israel” terus konsisten berjalan dalam kemasan bisnis investasi global yang elegan namun begitu mematikan.

Baca Juga:  Ladies, Apakah Anda Mengenal Tampon dan Menstrual Cup?
Loading...

Rencana strategis jangka pendek Israel adalah memastikan keunggulan Israel di kawasan regional. Menjalankan “balkanisasi” negara-negara Arab menjadi negara-negara yang lebih kecil dan lebih lemah. Tidak mengherankan bila AS gencar terus melancarkan perang hibrida dalam skala luas di Timur Tengah dan Afrika.

Jurnal Angkatan Bersenjata AS, pada 2006, mengeluarkan peta rencana Israel Raya. Dalam peta tersebut, selain memecah Irak, juga termasuk Lebanon, Mesir, dan Suriah. Menariknya, balkanisasi Iran, Turki, Somalia, dan Pakistan juga menjadi bagian dari rencana tersebut. Rencana itu juga bahan menyerukan pembubaran Afrika Utara, di mulai dari Mesir, terus ke Sudan, Libya, dan menyebar ke wilayah lainnya.

“Negara Israel Raya” baru dapat tumbuh jika negara-negara Arab telah pecah menjadi negara-negara kecil yang lemah? Tapi faktanya, Israel kalah perang dengan Hizbullah yang nota bene bukanlah Negara dalam “Perang 2006” di Lebanon.

Namun dengan kekalahan teroris (ISIS dan Al Nusra) di berbagai medan yang disponsori AS oleh Pasukan koalisi Suriah-Rusia-Iran-Hizbullah merupakan kemunduran telak yang dialami Israel. Suriah masih berdaulat dengan kepemimpinan Presiden Bashar Al Assad yang terus berjuang menumpas sisa-sisa kelompok teroris yang masih bertahan.

Belum lagi kegagalan AS memecah belah Irak menjadi tiga negara yakni: Negara Kurdi, dan Dua Negara Arab (Negara Suni dan Negara Syiah), jelas menambah runyam proyek tersebut.

Paling mutakhir mungkin Iran yang sekarang diincar untuk ditaklukkan dan dipecah belah. Bila berhasil menaklukkan Iran, mungkin AS masih dapat menjalankan rencana besarnya dengan membelah Timur Tengah menjadi “Garis Suni” dan “Garis Syiah”, dengan “Garis Kurdi” diantaranya sebagai penyeimbang. (Agus Setiawan)

Loading...

Terpopuler