Connect with us

Mancanegara

Perang Libya: Mengenang Satu Dekade Penghancuran Libya

Published

on

Perang Libya: Mengenang satu dekade penghancuran Libya.

Perang Libya: Mengenang satu dekade penghancuran Libya.

NUSANTARANEWS.CO – Perang Libya: Mengenang satu dekade penghancuran Libya. Sejak intevensi AS-NATO satu dekade lalu, Libya kini boleh dikatakan telah menjadi negara gagal. Menjadi tanah tak bertuan yang dikuasai oleh faksi-faksi milisi bersenjata. Bahkan negara yang dulu adil makmur dan sejahtera itu kini menjelma menjadi tempat yang paling kondusif bagi ajang pelatihan militer teroris Al Qaeda dan gerombolan teroris lainnya. Sungguh ironis.

Ya, intervensi AS-NATO memang bukan hanya sekedar untuk membunuh Qaddafi dan menguasai minyaknya – tetapi lebih kepada proyek pembangunan infrastrukrur jangka panjang di Libya. Menciptakan koloni baru atas nama demokrasi, liberalisasi, dan globalisasi; “New Imperialisme” kata Bung Karno pada paruh pertama abad 20.

Tidak mengherankan bila pemboman dan serangan NATO begitu masif menghancurkan kota-kota strategis di Libya, termasuk kota Sirte kota kedua terbesar di Libya yang juga kota kelahiran Qaddafi hingga rata dengan tanah.

Libya yang dulu di bawah kepemimpinan Muammar Gaddafi begitu gagah melawan imperialisme Amerika Serikat (AS) dan Barat di Afrika, bahkan di berbagai belahan dunia, termasuk dalam mendukung perjuangan bangsa Palestina – hari ini diduduki oleh kekuatan imperialisme yang belakangan dikabarkan dengan tenang menjarah kekayaan minyak Libya hingga 1 juta barel perhari.

Sementara hampir dua juta pengikut Qaddafi menjadi pengungsi, terusir dari tanah airnya. Entah berapa banyak yang kemudian dijual sebagai budak, ditahan tanpa diadili dalam kamp-kamp konsentrasi, disiksa dan eksekusi karena kesetiaan kepada sang pemimpin.

Ironisnya, semua serangan tak bermoral itu dilancarkan oleh AS-NATO bersama para penggembiranya temasuk organisasi hak asasi manusia Barat dengan klaim untuk melindungi warga sipil.

Melindungi warga sipil? Bagaimana dengan liputan David Randall, seorang reporter dari Independent of London yang menggambarkan kota Sirte setelah intervensi AS-NATO: “ditemukan tanpa bangunan yang utuh, dengan hampir setiap rumah… dihancurkan oleh rudal atau mortir, dibakar atau dilubangi dengan peluru, infrastruktur kota tempat kelahiran pemimpin Libya itu rata dengan tanah.”

Para saksi mata menggambarkan deretan gedung-gedung yang tak berujung terbakar, mayat yang dieksekusi bergeletakan di halaman rumah sakit, kuburan masal di mana-mana, rumah-rumah dijarah dan dibakar oleh kelompok-kelompok teroris, bangunan apartemen dan gedung-gedung diratakan oleh bom AS-NATO.

Itulah sedikit gambaran bagaimana AS-NATO melindungi warga sipil Libya yang sebenarnya merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan. Dan semua malapetaka itu tidak bisa dilepaskan dari andil LSM hak asasi manusia seperti Amnesty International (AI) yang menyerukan agar Dewan Keamanan PBB mencegah terjadinya “pembantaian oleh pemerintah Libya di Benghazi” – sebagai dalih awal intervensi AS-NATO pada 15 Februari. Ketika semua bencana itu terjadi, LSM yang sama menyerukan bahwa tidak ada malapetaka seperti itu di Libya.

Baca Juga:  Di Hadapan JK, Kiai Gontor Prihatin Tragedi Wamena

Malah AI memuji-muji NATO karena melakukan upaya signifikan untuk meminimalkan risiko korban sipil di Libya.

Noam Chomsky mengatakan, ketika penyerangnya adalah entitas Barat yang kuat seperti AS-NATO, atau sekutunya, pelanggaran hak asasi manusia tidak menjadi masalah, dan korbannya menjadi “tidak dihitung” – itulah warga sipil Libya yang bernasib malang menjadi korban yang “tidak dihitung”.

AS sang penghasut utama, tanpa membuang waktu pada bulan September 2011, langsung menggelar konferensi menghadirkan sekitar 150 perusahaan AS untuk berbisnis di Libya. Maximilian Forte, dalam bukunya “Slouching Towards Sirte” mengungkapkan bahwa motif utama AS mengintervensi Libya adalah investasi infrastruktur daripada akses ke minyak.

Studi kasus Forte adalah ketika Qaddafi terus-menerus menolak proyek infrastruktur untuk perusahaan AS seperti Bechtel dan Caterpillar dan malah memberikan kepada Rusia – membuat AS frustasi. Kejadian yang mungkin mirip dengan Refomasi 1998 di Indonesia ketika Presiden Suharto merasa sudah kuat dan mulai memutus tender-tender miliaran dolar perusahaan-perusahaan AS – juga membuat frustasi.

Jadi dengan intervensi, AS memastikan bahwa sebagian besar proyek infrastruktur di masa depan akan dipegang oleh perusahaan-perusahaan AS. Nah, bagian tak bermoral dari rencana itu adalah intervensi militer untuk meratakan seluruh kota dengan tanah. Seperi halnya Irak, AS menghancurkan negara itu, sehingga menciptakan permintaan yang besar untuk proyek infrastruktur, dan kemudian meminta negara itu untuk membayar proyek dari pendapatan minyaknya sendiri. “Vulture capitalism” – istilah yang terlalu baik untuk jenis perusakan kreatif ini – karena burung nasar memakan bangkai yang sudah mati; sedangkan AS menciptakan bangkai untuk memberi makan perusahaan-perusahaannya, dan dengan biaya orang lain. Sungguh cerdas!

Betapa tidak bila nilai pembangunan infrastruktur di Libya bisa mencapai trilyunan dolar dalam satu, dua dekade mendatang yang dibayar melalui sumber daya alam Libya – terutama dengan minyak dan gasnya. Sekali gebuk, dapat semua. Sekali lagi AS memang “Bang Jago”.

Nah, kembali kepada peristiwa 15 Februari 2011, ketika berita palsu dan mesin narasi palsu bekerja dengan cepat menyebarkan kebohongan secara masif menutupi apa yang terjadi sesungguhnya di Libya – telah memaksa PBB mengubah status Qaddafi dari seorang yang akan menerima “Penghargaan Hak Asasi Manusia PBB” menjadi seorang “kriminal yang membunuh bangsanya sendiri” – setali tiga uang seperti halnya kriminalisasi terhadap Slobodan Milosevic di Yugoslavia.

Dengan istilah Arab Spring, kaum imperialis berhasil memicu gelombang pemberontakan masal di kedua sisi Libya, di Tunisia dan Mesir. Namun gelombang Arab Spring tersebut gagal menembus Libya. Sehingga AS dan Barat kemudian mendorong dengan kecepatan tinggi sekaligus memecahkan rekor dunia keluarnya resolusi ilegal PBB untuk menginvasi Libya.

Baca Juga:  Guru Ngaji - Cerpen Ali Mukoddas

Koalisi unik yang terdiri dari tentara berbagai negara dan faksi-faksi teroris segera terbentuk di perbatasan Libya beberapa minggu sebelum serangan di mulai, termasuk CIA, Marinir Belanda, pasukan militer Prancis dan Sudan, Pasukan Khusus Qatar, gerombolan Al Qaeda yang difasilitasi oleh Saudi (demikian pula Al Qaeda di Yaman hari ini).

Keterlibatan gerombolan teroris sebagai “pasukan khusus” imperialis sudah lama dipersiapkan. Ingat, ketika Presiden AS Ronald Reagan menyambut para pemimpin Mujahidin Afghanistan yang sedang memerangi Soviet saat itu, ke Oval Office dan menyebut mereka sebagai pejuang kemerdekaan Jihadi.

Hari ini kita menyaksikan Al Qaeda dan berbagai afiliasinya, termasuk ISIS yang terkenal, telah memainkan peranan yang sama memecah-belah dan menghancurkan kawasan Timur Tengah hingga Afrika, bahkan Asia dengan target jangka panjang Rusia dan Cina melalui embrio Perang Suriah.

Ketika pemimpin Libya Muammar Qaddafi sukses menjalankan program reformasi negaranya; Libya berubah dari salah satu negara termiskin di dunia, menjadi satu negara yang paling makmur di Afrika, bahkan dalam banyak hal, menjadi salah satu negara yang paling makmur di dunia.

Fakta-fakta menunjukkan bahwa Libya tidak memiliki hutang luar negeri dan benar-benar menyimpan pendapatan dari pembayaran minyak ke rekening bank negaranya. Bank negara juga memberikan pinjaman kepada warga negara dengan bunga nol persen berdasarkan undang-undang.

Libya juga menyediakan rumah bagi rakyatnya sebagai hak azasi manusia. Termasuk akses pelayanan gratis kesehatan terbaik di Timur Tengah dan Afrika. Jika warga Libya tidak dapat mengakses kursus pendidikan yang diinginkan atau perawatan medis yang benar di Libya mereka akan didanai untuk pergi ke luar negeri.

Jadi di bawah pemerintahan Qaddafi, orang-orang Libya memiliki akses terhadap layanan kesehatan berkualitas gratis, pendidikan gratis dari dasar hingga ke tingkat universitas, menyewa perumahan gratis, listrik gratis, makanan bersubsidi dengan standar kehidupan yang tinggi.

Bukan itu saja, bila ada warga Libya yang ingin memulai sebuah usaha peternakan mereka diberi sebuah rumah, lahan pertanian dan persediaan hidup dan benih secara gratis. Ketika seorang wanita Libya melahirkan, dia diberi US$ 5.000,- untuk dirinya sendiri dan anaknya.

Sehingga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menganggap Libya sebagai sebuah negara dengan pembangunan tertinggi di Timur Tengah dan Afrika Utara. Dalam bidang infrastruktur, Qaddafi membangun proyek irigasi terbesar di dunia yang dirancang untuk menyediakan air bagi seluruh negeri yang di danai oleh pemerintah. Qaddafi sendiri menyebutnya sebagai “keajaiban kedelapan dunia”.

Tingkat melek huruf 88,4%, harapan hidup 74,5 tahun, kesetaraan jender, dan berbagai indikator positif lainnya. Libya juga menikmati pertumbuhan ekonomi 4,2% di tahun 2010 dan memiliki aset asing lebih dari US$ 150 miliar. Qaddafi juga secara teratur melakukan reformasi dari waktu ke waktu.

Baca Juga:  Zulhas: Parpol Koalisi PAN Memilih Pemimpin yang Tak Gemar Datangkan TKA

Nah, kaum imperialis sangat membenci kemajuan Libya ini. Bagaimanapun, pencapaian ini akan menjadi inspirasi bagi negara-negara lain untuk meninggalkan model kapitalis neolib yang jelas-jelas hanya memperluas jarak antara yang kaya dan miskin. Termasuk meninggalkan sistem demokrasi-liberal palsu yang hanya memberdayakan segelintir orang untuk menguasai mayoritas. Pada gilirannya sistem pemilihan multi partai yang dirancang untuk memecah belah negara dengan garis etnis dan kesukuan pun akan ditinggalkan, dan sebaliknya, memilih Jamahiriya yang diperkenalkan oleh Qaddafi.

Sebelum jatuhnya Tripoli dan kematiannya yang terlalu cepat, Qaddafi sesungguhnya sedang serius berupaya membentuk “Amerika Serikat” di Afrika (United State of Africa), dengan militer sendiri dan satu mata uang tunggal. Bila ide Qaddafi ini berjalan, tentu negara-negara Afrika pada akhirnya akan memiliki kekuatan untuk melepaskan dirinya dari jeratan hutang dan kemiskinan. Sebaliknya, bila hal ini terwujud, bukan saja melemahkan nilai dolar AS bahkan akan menggeser kiblat kekuatan ekonomi global ke Afrika. Dengan kata lain, Qaddafi ingin mengubah tatanan dunia abad 21 menjadi lebih adil bagi semua.

Seperti diketahui, selama ini proyek-proyek pembangunan utama di seluruh Afrika, dibiayai oleh Libya. Tapi kini semuanya terhenti. Arab Saudi dan Qatar, sebagai aktor utama di balik kehancuran Libya, langsung sibuk menyambar lahan besar di Afrika. Sesuatu hal yang tidak mungkin terjadi jika Qaddafi masih hidup. Ya, kaum imperialis berhasil menyabotase rencana besar Qaddafi untuk membangun Afrika yang bersatu dan berdaulat.

Hari ini, Libya telah menjadi negara gagal. Bukan itu saja, Libya kini telah menjadi tanah tak bertuan yang menjadi wilayah rampasan perang oleh para milisi bersenjata. Selain itu, wilayah Libya juga telah menjadi tempat yang kondusif bagi ajang latihan militer ISIS dan Al Qaeda, serta kelompok militan lainnya. Sungguh tragis.

Di tengah kepiluan itu semua, ribuan warga Libya dan warga negara Afrika lainnya masih ditahan tanpa diadili dalam kamp-kamp konsentrasi. Banyak yang telah disiksa dan dieksekusi di kamp-kamp tersebut. Satu-satunya kejahatan mereka adalah setia kepada Qaddafi. Sementara mereka yang sekarang menguasai Libya adalah pembenci Pan-Afrika Qaddafi. Tidak mengherankan bila lebih dari 1,5 juta pengikut Qaddafi kemudian diasingkan dari negara mereka. Sehingga terjadi krisis pengungsi di seluruh Eropa.

Para pemimpin Afrika hari ini, kecuali beberapa orang, akhirnya hanya berbicara tanpa tujuan di aula markas besar Uni Afrika – tak berdaya menolak hubungan neo-kolonial lama yang telah membelenggu Afrika dalam perbudakan. (Agus Setiawan)

Loading...

Terpopuler