Connect with us

Mancanegara

Peraih Nobel Perdamaian: Selama Bom Atom Masih Ada, Bencana Tak Terelakkan

Published

on

Kampanye International Campaign to Abolish Nuclear Weapons (ICAN) yang menyuarakan tentang perdamainan dan penghapusan senjata nuklir. Foto: Omer Messinger/Getty Images

NUSANTARANEWS.CO – Selama ada bom atom, bencana tidak bisa dihindari, kata kepala sebuah gerakan intenasional yang menyuarakan tentang perdamainan dan penghapusan senjata nuklir, International Campaign to Abolish Nuclear Weapons (ICAN) yang meraih Nobel Perdamaian tahun ini.

“Kita menghadapi pilihan yang sangat jelas saat ini: Berakhirnya senjata nuklir atau akhir dari kita,” kata Beatrice Fihn dalam konferensi pers Komite Nobel Norwegia, pada Sabtu (9/12).

“Senjata ini tidak membuat kita aman, mereka bukan pencegah, mereka hanya memacu negara lain untuk memiliki senjata nuklir mereka sendiri. Dan jika anda merasa tidak nyaman dengan Kim Jong-un yang memiliki sejata nuklir, maka anda merasa tidak nyama dengan senjata nuklir. Jika anda merasa tidak nyaman dengan Donald Trump yang memiliki senjata nuklir, maka anda merasa tidak nyaman dengan senjata nuklir,” kata Fihn.

Beatrice Fihn, International Campaign to Abolish Nuclear Weapons (ICAN)

Beatrice Fihn. Foto: Twitter/@BeaFihn

ICAN, yang menyatukan lebih dari 450 organisasi, merupakan kekuatan pendorong di balik sebuah perjanjian internasional untuk melarang senjata nuklir yang disahkan tahun ini. Sejauh ini, 53 negara telah mendaftar, namun hanya tiga negara yang telah meratifikasinya. Sedangkan perjanjian tersebut memerlukan 50 ratifikasi untuk berlaku.

Tidak ada negara pemilik tenaga nuklir yang menandatangani perjanjian tersebut. Tiga kekuatan nuklir utama yaitu, Amerika Serikat, Inggris dan Prancis bahkan telah mengatakan bahwa mereka tidak akan mengirimkan duta besar mereka ke upacara pemberian hadiah Nobel pada hari ini di Norwegia.

Atas hal tersebut Satsuko Thurlow yang merupakan salah seorang korban selamat dari bom atom Hiroshima yang juga menerima pemberian hadiah nobel bersama dengan Finn, mengatakan bahwa ia “tidak terlalu terkejut” dengan tindakan diplomatik tersebut.

“Ini bukan pertama kalinya mereka berperilaku seperti itu, mereka mencoba dengan berbagai cara untuk menyabotase, mendiskreditkan apa yang kami coba lakukan,” katanya. “Mungkin ini menunjukkan bahwa mereka benar-benar kesal atas kesuksesan yang kita hadapi sejauh ini.”

Kemarin ICAN telah memasang 1.000 derek kertas merah di luar Parlemen Norwegia yang dibuat oleh anak-anak Hiroshima sebagai tempat serangan bom atom pertama di dunia.

Penulis: Riskiana
Editor: Eriec Dieda
Sumber: Time

Jurnalis dan editor di Nusantara News, researcher lepas. | life is struggle and like in silence |

Terpopuler