Connect with us

Kolom

Pentingnya Memahami Jurnalisme Damai

Published

on

Jurnalisme Damai. (Ilustrasi:NUSANTARANEWS.CO)

Jurnalisme Damai. (Ilustrasi:NUSANTARANEWS.CO)

Oleh: Latifah Isti Barokah dan Rifka Nur Annisa*

NUSANTARANEWS.CO – Sejak dahulu media massa menjadi sumber utama dalam pemberitaan suatu peristiwa yang terjadi. Peristwa yang diberitakan tentu saja akan diketahui oleh khalayak umum. Namun sayangnya banyak media massa memberitakan suatu peristiwa tanpa menggunakan pendekatan jurnalisme damai, padahal pendekatan jurnalisme damai sangat diperlukan, terutama dalam pemberitaan sebuah peristiwa konflik. Pemberitaan tentang suatu konflik harus memenuhi jurnalisme damai, bukan jurnalisme perang. Tidak hanya bagi editor maupun reporter, masyarakat umum sebagai penerima berita juga harus memahami makna dari pendekatan jurnalisme damai dalam sebuah pemberitaan. Hal ini bertujuan agar pembaca tidak salah paham dalam menangkap berita yang ada, dan malah membuat konflik baru, sehingga konflik yang ada semakin berkepanjangan. Ketika masyarakat memahami konsep jurnalisme damai, maka peluang munculnya konflik yang disebabkan adanya berita dari media massa dapat diminimalisir.

Pernahkah kamu mendengar tentang jurnalisme damai? Lynch dan McGoldrick (2000) mendefiniskan jurnalisme damai sebagai melaporkan sesuatu kejadian dengan bingkai yang lebih luas, berimbang dan akurat, serta didasarkan pada informasi tentang konflik dan perubahan-perubahan yang terjadi. Menurut Lynch, jurnalisme damai atau peace journalism dapat terwujud ketika para editor dan reporter membuat pilihan mengenai apa yang akan dilaporkan dan bagaimana melaporkannya sehingga menciptakan kesempatan bagi masyarakat luas untuk mempertimbangkan dan menilai tanggapan tanpa kekerasan terhadap konflik. Hal ini berbeda dengan jurnalisme perang yang bisa saja malah memperpanjang konflik bahkan memunculkan konflik baru. Dalam jurnalisme damai tidak memuat keberpihakan kepada salah satu pihak, dan bersifat netral, serta berusaha mengungkapkan kebenaran kedua belah pihak yang terlibat konflik.

Baca Juga:  Irrasionalitas Remunerasi Direksi dan Komisaris BUMN

Baca Juga:

Jurnalisme damai pertama kali diperkenalkan oleh Johan Galtung. Profesor Johan Galtung adalah seorang ahli studi pembangunan, pada tahun 1970-an yang merasa miris dengan pemberitaan pers yang mendasarkan kerja jurnalistiknya dengan melihat hasilnya yaitu kalah atau menang. Jurnalisme damai yang dikembangkan oleh Galtung merupakan lawan dari jurnalisme perang. Jadi, dapat dikatakan bahwa jurnalisme damai merupakan sebuah kritikan terhadap jurnalisme perang yang banyak diterapkan oleh media massa.

Menurut Johan Galtung terdapat empat orientasi yang dapat menggambarkan jurnalisme damai. Setiap orientasi memiliki ciri-cirinya sendiri. Pertama, orientasi perdamaian yang meliputi menggali informasi pada semua pihak, menjadikan konflik transparan, membuka waktu dan ruang dengan menampilkan sebab dan akibat, melihat konflik sebagai masalah, menampilkan sisi terburuk dari senjata, proaktif, dan fokus pada dampak yang tak terlihat. Kedua, orientasi kebenaran yang meliputi media harus membeberkan ketidakbenaran dari semua sisi dan mengungkap semua yang ditutup-tutupi. Ketiga, orientasi golongan masyarakat yang meliputi, fokus pada penderitaan, media menyebutkan nama-nama dari yang melakukan kejahatan, dan fokus pada orang-orang yang membawa perdamaian. Keempat, orientasi penyelesaian yang meliputi, media harus menampilkan perdamaian dengan solusi-solusi, menyoroti prakarsa-prakarsa kedamaian, fokus pada struktur budaya masyarakat, dan adanya resolusi, rekonstruksi, rekonsiliasi (Nurudin, 2009:241).

Orientasi-orientasi dalam jurnalisme damai sangat perlu dipahami oleh editor maupun reporter. Namun, sebagai masyarakat umum yang sering dihadapkan dengan berita-berita konflik seharusnya juga memahami konsep dari jurnalisme damai beserta orientasi-orientasinya. Mengapa hal ini menjadi penting? Berikut sebab pentingnya memahami pendekatan jurnalisme damai dalam sebuah berita.

Baca Juga:  Mata Bening Najwa

Pers atau media massa memiliki peran penting dalam pembagunan bangsa Indonesia, yang mana telah berperan aktif dalam memberikan informasi kepada masyarakat. Pers dan masyarakat sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan. Selain memberikan informasi terkini, pers juga memberikan control social khususnya terhadap pemerintah, memberikan hiburan, serta mendidik. Meskipun konflik bukan hal yang diinginkan, tetapi berita-berita yang mengandung konflik menjadi berita-berita yang diminati masyarakat karena menimbulkan pro dan kontra. Untuk itu, sangatlah penting dalam pemberitaan seorang jurnalis menggunakan unsur jurnalisme damai sehingga persatuan Indonesia tetap terjalin.

Memasuki masa revolusi industry 4.0, dimana informasi semakin mudah didapatkan menuntut media massa untuk memberikan informasi terkini. Maka tak dapat dipungkiri jika banyak media massa berlomba-lomba dalam memberikan berita ter-update dengan cepat. Itu menjadi tantangan bagi media massa dalam menyajikan berita yang dapat dipertanggungjawabkan dan terpercaya Karena sekarang ini maraknya berita palsu (hoax) yang bertebaran di mana-mana khususnya dunia maya. Dalam menyajikan berita yang mengandung konflik bukanlah hal yang mudah bagi seorang jurnalis. Karena jurnalis dituntut untuk tidak memihak, dengan kata lain harus netral. Namun, dalam kenyataannya tanpa sadar tindakan media dan jurnalis dapat memperkeruh suasana, atau bahkan merugikan salah satu pihak. Titik focus utama mereka hanya pada konflik dan perkembangan peristiwa tersebut. Di mana para media bersaing dalam menyajikan berita tercepat tanpa memverifikasi kepada kedua belah pihak yang bersangkutan, dengan tujuan menaikkan mapor media.

Para jurnalis memeiliki peran yang sangat signifikan dalam menyajikan berita untuk mengurangi dampak konflik, sehingga mempercepat perdamaian (Wolsfeld, 2004:1). Namun, realitanya banyak jurnalis yang terjebak dalam jurnalisme perang, dimana mereka lebih menampilkan sisi kekerasan dan kemenangan salah satu pihak. Bisa jadi pesan yang disampaikan para jurnalis merupakan manipulasi dari fakta-fakta yang diperoleh dari lapangan (Shoemaker, 1996:37).

Baca Juga:  Dua Produsen Cina Siap Pindahkan Pabriknya ke Indonesia

Dengan jurnalisme damai, tentunya mendorong para jurnalis untuk lebih mengedepankan dampak konflik terhadap masyarakat. Jurnalis berupaya menyajikan berita yang dapat diterima oleh semua kalangan tanpa menimbulkan provokasi terhadap pembaca. Realitanya, jurnalisme damai sulit diterapkan. Pasalnya dalam masa reformasi ini, media memiliki kekebasan untuk bersuara demi kepentingan mereka. Untuk itu, tidak hanya jurnalis yang harus mengetahui pentingnya jurnalisme damai dalam sebuah pemberitaan. Konsumen public pun harus tahu dan lebih kritis dalam membaca dan menangkap isi berita, jangan sampai terbawa emosi dan ikut menyalahkan salah satu pihak dari suatu konflik tersebut. Di era modern saat ini, masyarakat dituntut untuk bersikap kritis terhadap berbagai macam pemberitaan oleh media massa sehingga tidak terprovokasi dengan berita yang belum tentu kebenarannya. Hal ini tentunya agar kesatuan dalam berbangasa dan bernegara dapat diciptakan tanpa adanya perpecahan yang disebabkan oleh perbedaan dalam memahami suatu peristiwa atau konflik yang terjadi.

*Latifah Isti Barokah dan Rifka Nur Annisa, Mahasiswa Manajemen dan Kebijakan Publik 2018, Fakultas Ilmu Sosisal dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Loading...

Terpopuler