Connect with us

Politik

Pengamat: Hasil Survei LSI Denny JA Soal Elektabilitas Jokowi-Ma’ruf Tak Masuk Akal alias Palsu

Published

on

jokowi-ma'ruf, tim kampanye nasional, timses jokowi, daftar tkn, nusantaranews

Pasangan Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin. (Istimewa)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Survei terbaru LSI Denny JA mendapat sorotan tajam. Survei tentang elektabilitas pasangan capres-cawapres 2019 yang dipublikasikan pada 20 Agustus 2018 tersebut dipandang sarat dengan muatan kepentingan dan pesanan.

Dengan jumlah responden 1200, LSI Denny JA menempatkan pasangan Jokowi-Ma’ruf di posisi teratas soal elektabilitasnya. Survei ini juga hendak mengatakan Jokowi-Ma’ruf bakal mudah memenangkan kontestasi Pilpres 2019 lantaran diprediksi akan meraup suara 52.2% dibandingkan Prabowo-Sandi yang hanya meraup 29.5%.

Hasil survei semakin menohok ketika LSI Denny JA menyebut Jokowi-Ma’ruf unggul dalam enam segmen di antaranya pemilih muslim, pemilih non muslim, pemilih wong cilik, pemilih emak-emak (perempuan), pemilih kaum terpelajar dan pemilih milenial. Dari semua segmen itu, pasangan Prabowo-Sandi tidak ada yang menang, menurut survei LSI Denny JA.

Baca juga: Sebanyak 18,3% Responden Survei LSI Denny JA Tidak Memilih Kedua Pasangan Capres-Cawapres

Sontak hasil survei lembaga milik Denny JA ini pun menuai kritik dan protes di lini masa dan sejumlah kalangan. Salah satu kritik datang dari Network for South East Asian Studies (NSEAS), Muchtar Effendi Harahap.

Loading...

“Hasil survei LSI Denny JA ini tak masuk akal alias palsu dan sangat mungkin berbohong secara metodologis,” kata Muchtar melalui pesan singkat, Jakarta, Kamis (23/8/2018).

Ada sejumlah alasan yang menguatkan hasil survei tersebut sangat mungkin memiliki tendensi pembohongan publik.

Pertama, waktu pengumpulan data sejak deklarasi capres-cawapres hanya 7-8 hari atau sekitar seminggu. Secara metodologis, masih ada kegiatan kompilasi data dan analisis data. Jika survei benar, masih dibutuhkan sekian hari untuk survei 20% terhadap responden terpilih untuk cheking kebenaran kerja tim surveyor di lapangan.

Baca Juga:  Presiden Jokowi Harus Berani Selamatkan Garuda Indonesia Dari Kebangkrutan

“Seminggu pasti tidak cukup waktu memenuhi syarat metodologis untuk survei opini publik atau polling nasional. Jadi, mustahil! Kecuali dikerjakan hanya di kamar komputer sendirian, alias fiksi,” kata Muchtar.

Diketahui, survei LSI Denny JA dilakukan dalam rentang waktu yang sangat singkat, 12-19 Agustus 2018. Menggunakan multistage random sampling dan margin of error sekitar 2.9 persen.

Kedua, LSI ini ngakunya waktu survei pada akhir Agustus. Padahal kini baru tanggal 20, belum akhir Agustus. Mustahil lagi,” tambah Muchtar.

Baca juga: Tingkat Keterpilihan Sandiaga Uno Naik Tajam

Ketiga, pada Mei 2018 LSI ini klaim telah survei dengan hasil elektabilitas Jokowi 46%. Lalu, Juli 2018 klaim buat lagi survei ekektabilitas Jokowi naik lagi menjadi 49,30%. Kini 20 Agustus umumkan naik lagi menjadi 52,2%. Sangat unik dan tak lazim karena kebanyakan lembaga survei klaim, selama 2018 elektabilitas Jokowi terus menurun hingga di bawah 40%.

“Sementara, Litbang Kompas klaim, elektabilitas Jokowi justru menaik (sama dengan LSI), dari 42,5% (April 2015) ke 55,9% ( April 2018),” kata dia.

Dari sejumlah survei, hanya 2 lembaga ini yang mengklaim elektabilitas Jokowi meningkat dan di atas 45% yakni LSI Denny dan Litbang Kompas. Hanya dua lembaga itu berani mengklaim elektabilitas Jokowi meningkat.

Tiba-tiba kini elektabilitas Jokowi sudah 52,2% versi LSI. Artinya, ada kontribusi Ma’ruf Amin selaku cawapres Jokowi sekitar 2%. Menurut Muchtar, padahal pengaruh Ma’ruf terhadap kenaikan elektabilitas Jokowi sangat kecil, jika tak boleh dinilai tidak ada karena jeruk makan jeruk pilih Ma’ruf jadi cawapres Jokowi.

“Hasil polling sejumlah lembaga via medsos Jokowi-Ma’ruf segera setelah deklarasi membuktikan hal itu. Lalu, dari mana datang angka 52,2% itu? Sangat mungkin dari penulis hasil survei LSI itu sendiri,” tandasnya. (eda/bya)

Baca Juga:  Pengamat: Sebagai Leader ASEAN, 2019-2020 Indonesia Berpeluang Menjadi Penjaga Perdamaian Dunia

Editor: Banyu Asqalani

Loading...

Terpopuler