Connect with us

Budaya / Seni

Pemikiran Politik Plato dan Aristoteles

Published

on

Pemikiran Politik Plato dan Aristoteles

Pemikiran Politik Plato dan Aristoteles

Pemikiran Politik Plato dan Aristoteles.

Socrates, Plato dan Aristoteles adalah tokoh-tokoh penting dalam dunia filsafat Barat terkait etika dan moral, estetika, sains hingga politik dan metafisika. Dalam perkembangan selanjutnya, Aristoteles kemudian membuat terobosan yang lebih realistis dengan metode induktif berdasarkan pada fakta empiris – tidak lagi bersifat idealis-utopis sebagai antithesis terhadap pemikiran gurunya, Plato.
Ole : Pang Muhammad Jannisyarief

 

1. Plato

Plato adalah seorang filsuf kelahiran Yunani. Plato lahir pada tahun 427 SM. Plato lahir ditengah-tengah perang yang sedang melanda tempat kelahirannya yaitu Athena. Saat itu sedang terjadi Perang Peloponnesia.[1] Di dalam Perang Peloponnesia, tempat kelahiran Plato yaitu Athena sedang diserang oleh Sparta. Alasan sederhana dari kekalahan Athena atas Sparta adalah Athena merupakan tempat yang demokratis, sedangkan Sparta merupakan tempat yang mengedepankan nilai-nilai militer. Di Sparta, lelaki dan wanita dilatih untuk bagaimana berperang dan menggunakan busur panah. Alasan inilah yang juga memengaruhi sikap dan pemikiran Plato terhadap demokrasi. Plato yang kita tahu memiliki nilai antipati terhadap demokrasi terjadi karena Athena yang saat itu menganut demokrasi, takluk atas Sparta yang lebih ke aristokratis militerisme. Plato berpendapat, pemerintahan yang bersikap tirani dapat lahir dari pemerintahan yang demokratis. Alasannya adalah karena adanya kebebasan yang membuat orang dapat semena-mena dan menganggap dirinya bebas. Ketika setiap orang saling mengkritik satu sama lain dikhawatirkan timbulnya kekacauan sosial yang lahir akibat tidak adanya stabilitas di sebuah negara. Oleh karena itu, kita sering mendengar istilah dari Plato yang berisi bahwa demokrasi itu dipenuhi oleh kebebasan dan dapat menyebabkan penggunakan hak yang terlalu jauh sehingga muncul hal-hal yang tidak diinginkan.[2]

Ajaran Socrates sangat erat berada pada diri Plato. Alasannya adalah Plato merupakan seorang murid yang sangat rajin belajar terhadap Socrates. Banyak pemahaman Socrates yang mengalir dalam diri Plato. Sebagai contoh adalah ajaran mengenai kebajikan ada pengetahuan merupakan ajaran yang diserap dari Socrates. Di dalam teori ini terdapat beberapa konsep yang diutarakan oleh Plato. Pertama, sebuah kebenaran harus bersifat obyektif agar tidak terjadi bias. Kedua, Plato menyamakan kebajikan dengan pengetahuan, oleh karena itu orang yang mengurus permasalahan publik adalah orang yang benar-benar paham. Ketiga, sebagai sebuah institusi politik, negara harus berperan aktif dalam memberikan pendidikan terhadap rakyatnya. Semakin negara memberikan pendidikan terhadap rakyatnya maka semakin bijak dan berfungsi pula masyarakatnya.[3]

Baca Juga:  Tercatat Lebih Dua Juta Penduduk Indonesia Pindah Domisili Dalam 4 Bulan Terakhir

Plato sebagai filsuf yang sangat dihormati juga memiliki banyak karya-karya yang terkenal diantaranya adalah Republic, Statesman, dan Laws. Karya-karya seorang filsuf terkemuka itu memberikan andil yang signifikan bahkan sampai ke era kontemporer. Contohnya adalah karyanya yang berjudul Republic yang menjelaskan teori mengenai negara-kota yang harus terdapat keadilan. Selain itu, seorang pemimpin atau raja yang filosof harus dapat menjamin keadilan itu benar-benar ada. Plato sangat menjunjung tinggi pendidikan. Plato dapat dikatakan sebagai pejuang kesetaraan gender karena Plato menempatkan posisi laki-laki dan perempuan dalam tempat yang setara di pendidikan. Laki-laki dan perempuan harus mendapatkan akses pendidikan yang setara dan peluang yang sama. Plato juga memiliki pandangan bahwa raja yang filosof merupakan seorang yang cocok memimpin sebuah negara. Plato berpendapat ketika seorang yang memimpin adalah seorang yang memiliki nilai-nilai filosof maka akan terjadinya stabilitas di negara tersebut.[4]

Plato juga menyampaikan konsep negara. Negara menurutnya muncul karena adanya saling membutuhkan diantara manusia yang hidup di dalamnya. Oleh karenanya, tujuan utama negara yang dikatakan plato adalah untuk mewujudkan kehidupan manusia untuk mendapatkan kebahagiaan yang seutuhnya. Negara harus dapat menjamin bahwa tujuannya bukan untuk kebaikan masing-masing individu, melainkan kebaikan bagi semua orang yang hidup di dalamnya dan negara yang baik adalah negara yang segala kepentingan di dalamnya ditempatkan di bawah kepentingan kontrol personal. Oleh karenanya Plato dijuluki sebagai pemikir yang idealis.[5]

2. Aristoteles

Filsuf selanjutnya yang memberikan dampak luar biasa bagi dunia adalah Aristoteles. Aristoteles lahir di Semenanjung Chalcidice pada tahun 384 SM. Aristoteles merupakan seseorang yang lahir dari keluarga yang mapan. Ketika Aristoteles beranjak remaja, ia hijrah dari tempatnya ke Athena untuk mengeyam pendidikan di Akademi Plato yang dimiliki oleh Plato, gurunya sendiri. Pada saat itu, Aristoteles juga sempat didakwa melakukan agitasi anti-Macedonia seperti yang dilakukan oleh Socrates. Aristoteles sempat melarikan diri dan tidak dihukum mati. Aristoteles banyak menyanggah pemikiran gurunya. Salah satunya adalah teori Plato tentang pengetahuan. Plato yang beraliran idealis-utopis ini berpendapat realitas dapat ditemukan dari ide-ide yang normatif. Plato merupakan filsuf yang menjunjung tinggi nilai-nilai tersebut. Namun, Aristoteles mencoba menciptakan anti tesis atas teori yang dikemukakan oleh Plato. Aristoteles berpendapat bahwa teori Plato tentang ide tidak dapat dijelaskan melalui nilai empiris. Aristoteles juga menjelaskan bahwa hal yang terpenting dari sebuah obyek diketahui oleh nalar manusia melalui sebuah hal yang abstrak. Aristoteles juga memiliki epistemologi yang berbeda di dalam teori politik mereka. Epistemologi Aristoteles berpendapat bahwa memungkinkan adanya pencarian prinsip-prinsip yang determinis dan terdapat obyek dalam obyek itu sendiri. Teori pengetahuan dari Aristoteles memiliki arti bahwa metodologi digunakan dengan dua acara yakni adanya pencarian fakta empiris dan kajiannya harus bermula dari nilai-nilai yang memperbaiki konsep secara keseluruhan[6].

Baca Juga:  Telkom Kirimkan Pelajar Indonesia ke Olimpiade Robot Terbesar Dunia

Aristoteles adalah seorang pemikir yang menggunakan metode induktif dan bergerak pada fakta empiris. Karya Aristoteles yang terkenal adalah Politics. Aristoteles membahas banyak konsep dari keilmuwan politik yang ada saat ini. Aristoteles juga menjelaskan apa itu negara. Menurutya, kemunculan negara terlahir dari watak politik manusia. Aristoteles menyebut manusia sebagai hewan politik. Ini karena manusia merupakan makhluk sosial yang harus hidup dengan saling ketergantungan satu sama lain. Oleh karena itu, negara diperlukan untuk mengagregasikan ketergantungan dan saling membutuhkan tersebut. Aristoteles memiliki silang pendapat dengan Alexander Agung yang memiliki keinginan untuk membuat negara secara imperium yang luas. Aristoteles berpendapat bahwa idealnya sebuah negara sama seperti polis atau city state. Aristoteles juga memiliki keyakinan bahwa negara harus dapat memberikan kesejahteraan bagi semua manusia yang hidup di dalamnya. Nrgara harus menjadi lembaga politik yang dapat berdaulat. Ketika manusia yang berada di dalamnya berdaulat dan sejahtera, maka kebahagiaan seperti yang diimpikan dapat terealisasi. Aristoteles juga memiliki pendapat yang berbeda dengan Plato mengenai hak milik individu dan demokrasi. Aristoteles berpendapat bahwa hak milik individu penting untuk dimiliki. Hak individu memberikan kepercayaan dan tanggung jawab kepada seorang manusia untuk bertahan hidup. Dengan adanya hak milik individu, seseorang tersebut juga akan memikirkan persoalan negara karena mereka akan memperkaya hak milik pribadinya dan kemudian akan dibagikan untuk negara dalam bentuk yang lain. Kemudian, Aristoteles juga memiliki kepercayaan bahwa bentuk negara yang paling mungkin untuk terealisasikan adalah demokrasi. Alasannya adalah bentuk monarki yang dipercayakan kepada filsuf yang arif dan bijaksana merupakan sebuah konsep yang utopis. Konsep tersebut sulit diindahkan dalam dunia yang nyata.[7]

Baca Juga:  JAGAD Tegaskan Gatot Nurmantyo adalah Jawaban #2019GantiPresiden

Aristoteles juga menyampaikan tentang teori perbudakan bahkan ia melegitimasi hal tersebut. Aristoteles mengatakan bahwa natural slavery (perbudakan alami) merupakan perbudakan yang adil dan menguntungkan. Karena antara majikan dan budak sama-sama mendapatkan keuntungan. Majikan tidak mungkin mengerjakan pekerjaan yang kasar oleh karena itu diberikan pekerjannya terhadap budak. Perbudakan alami memiliki hubungan yang saling membantu dan saling adil. Kesalahan yang dianggap oleh Aristoteles ketika ada kekuatan yang memaksa dan menekan budak karena budak juga seorang manusia. Kebenaran dari teori ini yang dianggap oleh Aristoteles adalah karena hukum dan kekuatan itu merupakan hasil dari hal yang alamiah.[8] ***

 

Penulis: M. Jannis Syarief Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Catatan Kaki
[1] Henry J. Schmandt, Filsafat Politik: Kajian Historis dari Zaman Yunani Kuno Sampai Zaman Modern (United of America: The Bruce Publishing Company, 1960), h. 51.
[2] Ahmad Suhelmi, Pemikiran Politik Barat (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2001), h.42-43.
[3] Henry J. Schmandt, Filsafat Politik: Kajian Historis dari Zaman Yunani Kuno Sampai Zaman Modern (United of America: The Bruce Publishing Company, 1960), h. 58-59.
[4] Alim Roswantoro, “Filsafat Sosial-Politik Plato Dan Aristoteles,” Refleksi, no.2 (Juli 2015): h. 125-128.
[5] Henry J. Schmandt, Filsafat Politik: Kajian Historis dari Zaman Yunani Kuno Sampai Zaman Modern (United of America: The Bruce Publishing Company, 1960), h. 62-74
[6]Ibid. H. 83-87.
[7] Ahmad Suhelmi, Pemikiran Politik Barat (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2001), h. 43-47.
[8] Alim Roswantoro, “Filsafat Sosial-Politik Plato Dan Aristoteles,” Refleksi, no.2 (Juli 2015): h. 130-132.

Loading...

Terpopuler