Connect with us

Politik

Nasib Jokowi di Pilpres 2019 Diprediksi Senasib dengan Hillary Clinton

Published

on

Presiden Jokowi (Foto Dok. Setneg)

Presiden Jokowi (Foto Dok. Setneg)

NUSANTARANEWS.CO, JakartaNasib Jokowi di Pilpres 2019 diprediksi akan sama dengan Hillary Clinton yang mengalami kekalahan pada pemilihan presiden Amerika Serikat pada 2016 silam. Hilarry keok karena rakyat AS ternyata lebih memilih Donald Trump sebagai presiden AS ke-45.

“Nasib Joko Widodo akan sama dengan Hillary Clinton, hanya menjadi terpilih oleh versi lembaga-lembaga survei bukan terpilih oleh versi KPU,” kata pengamat politik, Bin Firman Tresnadi, Jakarta, Selasa (12/3/2019).

Diketahui, sejumlah lembaga survei kenamaan di tanah air tak satu pun yang ‘memenangkan’ Prabowo Subianto menjelang Pilpres 2019. Hasil survei lembaga-lembaga survei tersebut diragukan sejumlah kalangan lantaran menemui Jokowi di Istana Negara terlebih dahulu sebelum melakukan survei dan mengumumkan hasilnya.

“Banyak jajak pendapat yang dilakukan sejumlah lembaga survei seperti LSI, Indo Barometer dan lain-lain yang bos-bosnya pada ketemu Joko Widodo di Istana sebelum pencalon presiden,” ungkapnya.

“Di mana survei yang dilakukan tingkat kecamatan, kelurahan dan desa salah atau tidak menyesuaikan bobot mereka untuk mengoreksi keterwakilan dari responden yang berlebihan dalam survei mereka. Dan hasilnya adalah terlalu tinggi perkiraan dukungan untuk Joko Widodo-Ma’ruf Amin,” sambung Bin Firman.

Dia memandang, ada besar kemungkinan beberapa responden yang berpartisipasi dalam survei pra pilpres tidak mengungkapkan diri mereka sebagai pemilih pasangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno sampai setelah pemilihan. “Dan mereka kalah jumlah oleh pemilih yang mengungkapkan memilih Joko Widodo-Ma’ruf Amin,” katanya.

“Investigasi kami ini dapat dikaitkan dengan keterlambatan responden dalam memutuskan atau salah dalam menentukan pilihan akibat responden banyak bingung dengan pertanyaan yang disajikan dalam kuisioner survei yang sifatnya menggiring untuk memilih Joko Widodo-Ma’ruf Amin,” jelasnya.

Baca Juga:  Yonif 511 DY Akhiri Masa Tugas 9 Bulan di Perbatasan Indonesia-Malaysia

Dia menambahkan, ketidak akuratan hasil survei sejumlah lembaga survei dalam melakukan survei atau jajak pendapat jelang Pilpres 2019 juga akibat Proses pengumpulan data merupakan proses yang paling berat.

“Petugas pengumpul data harus pandai-pandai merayu responden sehingga responden bisa memberikan jawaban yang benar,” katanya.

“Jawaban yang benar dari responden merupakan target utama para pengumpul data di lapangan karena akan menentukan hasil keakuratan sebuah survei,” tuturnya.

“Jadi, kita lihat nanti pada tanggal 17 April 2019 nasib lembaga-lembaga survei opini publik berbasis berbayar akan senasib dengan lembaga-lembaga survei di Amerika Serikat yang tergabung di dalam American Association for Public Opinion Research (AAPOR) yang melakukan pre president election polling 2016,” lanjut Bin Firman.

Tambahan, pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 2016 adalah peristiwa yang menggelegar untuk pemungutan suara di Amerika Serikat. Di mana Jajak pendapat sebelum pemilihan memicu prediksi profil tinggi bahwa kemungkinan Hillary Clinton untuk memenangkan kursi kepresidenan adalah sekitar 90 persen, dengan perkiraan berkisar antara 71 hingga lebih dari 99 persen.

Namun, ketika Donald Trump dinyatakan sebagai pemenang kepresidenan pada dini hari tanggal 9 November, hal itu bahkan mengejutkan bagi pengamat politik, survei dan lembaga-lembaga survei sendiri sehingga ada konsensus luas bahwa jajak pendapat yang dilakukan lembaga survei gagal total.

(eda/edd)

Editor: Eriec Dieda

Loading...

Terpopuler