Connect with us

Politik

Narasi ‘Pendukung Prabowo Islam Garis Keras’ Kembali Ciptakan Polemik

Published

on

hinca pandjaitan, prabowo, debat, nusantaranews

Prabowo Subianto. (Foto: Instagram/Sandiaga Uno)

NUSANTARANEWS.CO, JakartaPendukung Prabowo Islam garis keras, adalah narasi yang kembali digulirkan pasca Pemilu 2019. Di tengah-tengah situasi nasional yang sedang tegang, tuduhan tersebut tampaknya banyak tak mendapat dukungan dari sebagian masyarakat, khususnya pendukung Prabowo.

Adalah Mahfud MD yang baru-baru ini melontarkan tuduhan yang dianggap menarasikan ‘pendukung Prabowo Islam garis keras’ melalui sebuah video berdurasi 1 menit 21 detik yang kini tersebar di media sosial.

Kata Mahfud, Prabowo hanya menang di sejumlah provinsi yang dulunya dianggap sebagai basis garis keras dalam hal beragama. Dia menyebut di antaranya Jawa Barat, Aceh, Sulawesi Selatan, Sumatera Barat dan sebagainya.

Statemen mantan Ketua MK ini ternyata tak mendapat respon positif dari berbagai kalangan. Malah, Mahfud dituding tengah berupaya menciptakan perpecahan bangsa melalui pernyataannya tersebut.

Lebih dalam lagi, Mahfud dianggap terlalu vulgar menunjukan sikapnya yang tak menginginkan Prabowo menjadi Presiden RI. Hal ini seolah menjadi penguat dugaan publik bahwa memang banyak pihak, terutama kalangan elit, yang berusaha menjegal langkah Prabowo menjadi presiden dengan berbagai cara. Termasuk menggunakan cara tuduhan dan fitnah yang kemudian menjadi konsumsi publik.

Loading...

Tuduhan Prabowo didukung kelompok Islam garis keras sebetulnya bukan hal baru. Pasalnya, dari awal mendeklarasikan diri sebagai calon presiden, sejak saat itu tuduhan dan narasi tersebut mengemuka dengan sangat deras sehingga membentuk opini publik.

Istilah ‘Islam garis keras’ memang sudah menjadi isu seksi di berbagai belahan dunia, tak terkecuali di Indonesia, sejak beberapa tahun terakhir. Namun, narasi tersebut seolah sulit dikikis lantaran telah menjadi kampanye global, yang membuat orang-orang Muslim di seluruh dunia harus bekerja keras untuk menepis fitnah yang perlahan tapi pasti mulai menjadi stigma pandangan masyarakat. Sekali lagi, tak terkecuali di tanah air.

Karena narasi itu terbaru diucapkan oleh seorang tokoh ternama di Indonesia, Mahfud kemudian harus menerima sejumlah kritik dan protes atas pernyataannya di video tersebut.

Media sosial Twitter telah menjadi tempat cukup populer bagi kalangan elit dan tokoh menyampaikan ide, gagasan, kritik dan protes. Termasuk mengomentari terkait pernyataan mantan Ketua MK terkait soal ‘pendukung Prabowo Islam garis keras’.

Baca Juga:  PP Muhammadiyah Desak Negara Adikuasa tak Jadikan Suriah Sebagai Battlefield

Politikus Partai Gerindra, Andre Rosiade turut mengomentari pernyataan Mahfud. “Untuk Prof Mahfud yang saya hormati. Saya lahir, besar, bahkan daerah pemilihan saya adalah Sumbar. Alhamdulillah suara yang memilih saya sebagai calon anggota DPR RI pun tertinggi dalam sejarah di Sumbar. Saya dari SD sampai SMP sekolah di sekolah Khatolik di Kota Padang,” cuit Andre Rosiade.

“Kami orang Minang memang Alhamdulillah adalah penganut Islam yang taat, tapi kami bukanlah garis keras dan radikal Prof Mahfud MD. Kami adalah umat Islam yang rahmatallil alamin. Kami orang Minang sangat toleran dalam kehidupan beragama. Semua hidup rukun berdampingan,” sambungnya.

“Alasan masyarakat Minang tidak memilih Pak Jokowi adalah ekonomi. Karena kehidupan ekonomi yang sulit, cari pekerjaan susah, harga sembako di pasar tidak terjangkau, listrik mahal, pupuk mahal dan lain-lain Mudah-mudahan Prof Mahfud MD paham penjelasan saya ini. Salam hormat,” ucapnya.

Andre Rosiade adalah politikus kelahiran Padang, Sumatera Barat.

Kemudian, kritik dan protes juga datang dari politikus PBB, Ahmad Yani. Eks politikus PPPP ini juga mencuit pernyataannya melalui Twitter sebagai tanggapan atas statemen Mahfud MD.

“Ujung dari pertarungan pilpres ini tetap pada isu awal, yaitu Islam garis keras yang mendukung Pak Prabowo. Narasi ini mencerminkan pikiran kerdil yang memancing perpecahan. Kalau orang balik tanya, bagaimana dengan daerah basis Jokowi seperti di Bali, NTT, Papua, Sulut dan dan lain-lain?,” cuitnya.

“Selama ini tidak pernah saya baca tuduhan yang mengatakan bahwa Jokowi didukung oleh daerah mayoritas agama tertentu. Tetapi tiba-tiba seorang profesor bicara memetakkan basis kemenangan dengan sentimen rasis. Setelah gagal menjadi ahli IT, sekarang memancing perpecahan (provokator),” kata pria kelahiran Palembang 56 tahun silam ini.

“Umat Islam itu tengahan, yang mempertemukan antra Pancasila dan Islam dalam bingkai keindonesiaan. Dengan paradigma ini kita melihat NKRI. Kalau daerah basis Prabowo dicap sebagai Islam garis keras, maka basis Jokowi bisa dicap sebaliknya. Kalau ini diprovokasi, saya takut kita tidak lagi melihat NKRI,” lanjut dia.

Baca Juga:  Selamat Jalan Husni Kamil Manik

Buzzer kini tidak mengenal gelar dan profesi. Demi untuk suatu tujuan, dengan mudah menuduh umat Islam. Kita memang cepat percaya kepada orang, meskipun kedoknya hanya mencari aman. Setelah tuduhan ini, mungkin semua daerah kemenangan Prabowo akan disisir dengan brutal,” kata dia lagi.

“Narasi Islam garis keras itu akan dijadikan alasan untuk menyatakan ‘perang’ kepada rakyat yang ingin melawan kecurangan pemilu. Dugaan saya, akan diberlakukan penjagaan ketat terhadap basis-basis 02, mendekati pengumuman hasil pemilu. Maka dugaan kecurangan berjalan seperti yang direncanakan,” pungkasnya.

Berikutnya, kritik dan protes juga datang dari Dahnin Anzar Simanjuntak. Dia mengaku terkejut dengan pernyataan Mahfud soal ‘Prabowo didukung Islam garis keras’.

“Saya menghormati Pak Mahfud MD tapi kaget dengan tuduhannya, karena ambisinya sampai tega menggunakan narasi daerah-daerah 02 menang seperti Aceh, Sumbar, Jawa Barat dan sebagainya, sebagai daerah Islam garis keras. Narasi Pak Mahfud ini yang justru memecah belah dan penuh kebencian,” cuitnya.

“Orang yang bersikap seolah netral seperti Pak Mahfud dengan narasi tuduhan yang mendukung Prabowo adalah daerah Islam garis keras, bukan justru menjadi suluh tapi menyulut keruh. Bukan sikap seorang Pancasilais,” ucap pria kelahiran Aceh ini.

“Apakah sikap Pancasilais itu adalah sikap menuduh dan melabel kelompok lain yang tidak satu garis politik sebagai Islam garis keras seperti yang dilakukan oleh Pak Mahfud ketika menyebut daerah di mana Prabowo menang adalah daerah Islam garis keras?,” kata dia lagi.

“Bagaimana mungkin Pak Mahfud yang menyatakan dirinya menggerakkan suluh kebangsaan justru mengeluarkan pernyataan keruh kebangsaan dengan menuduh daerah seperti Aceh, Sumbar, Jawa Barat dan seterusnya yang dukung Prabowo adalah daerah Islam garis keras,” kritik Dahnil.

Lalu bagaimana Mahfud MD menanggapi kritik dan protes yang dialamatkan kepada dirinya usai video tersebut meluas di media sosial?

Di Twitter, Mahfud hanya merespon kritikan dari politisi PKS, Refrizal. Menurut Mahfud, Refrizal adalah temannya sehingga dia merasa perlu untuk memberikan penjelasan terkait isi video itu.

Baca Juga:  Pasca Pemilu 1999, Komisioner KPU Dinilai Cenderung Menjadi Kepanjangan Tangan Calon Presiden Petahana

“Pak Mahfud bilang di Jabar, Sumbar, Aceh dan Sulsel Islam garis keras seolah-olah anti kebergaman. Apakah ada di Sumbar gereka dirusak dan dibakar?,” cuit Refrizal.

Mahfud membalas cuitan Refrizal. “Pak Refrizal, karena anda teman saya maka saya jelaskan. Anda belum melihat video yang saya katakan sehingga responnya buru-buru. Anda terprovokasi oleh Said Didu. dahaha? Saya bilang, Pak Jokowi kalah di provinsi yang ‘dulunya’ adalah tempat garis keras dalam keagamaan. Makanya Pak Jokowi perlu rekonsiliasi,” sahutnya.

“Saya katakan ‘dulunya’ karena dua alasan. Pertama dulu DI/TII Kartosuwiryo di Jabar, dulu PRRI di Sumbar, dulu GAM di Aceh, dulu DI/TII Kahar Muzakkar di Sulsel. Lihat di video ada kata ‘dulu’. Puluhan tahun terakhir sudah menyatu. Maka saya usul Pak Jokowi melakukan rekonsiliasi agar merangkul mereka,” jelas Mahfud MD.

“Pak Refrizal, generasi yang lahir sejak tahun 1970-an banyak yang tidak tahu bahwa ‘dulu’ ada itu. Sekarang sih tidak. Di mana salahnya saya mengatakan itu? Itu kan sejarah? Makanya saya usul agar Pak Jokowi merangkul mereka dengan rekonsiliasi segera agar pembelahan tidak berlanjut sampai 2024,” kata dia.

“Isu tersebut menjadi panas dan digoreng ke mana-mana karena banyak yang hanya membaca pertanyaan Pak Said Didu tanpa melihat videonya. Padahal VT diposting juga di situ. Pertanyaan dalam cuitan Pak Said itu tak memuat dua kata kunci yakni kata ‘dulu dan usul ‘rekonsiliasi’. Lihat dong videonya,” ucapnya.

Refrizal sendiri membalas penjelasan Mahfud MD. “Pak Prof Mahfud MD yang terhormat, saya lahir 20 Agustus 1959, bukan tahun 1970-an. Mohon maaf Prof salah data tentang saya. Hehe,” ucapnya.

Terakhir, Refrizal meminta Mahfud MD untuk menahan diri bicara hal-hal yang kontraproduktif. “Sebagai teman saya berharap pada bapak supaya menahan diri bicara yang kontraproduktif. Bagusnya bicara yang ngademin lah,” sarannya.

(eda)

Editor: Eriec Dieda

 

Baca juga: LSI Denny JA Klaim Prabowo Tak Konsisten Perjuangkan Pancasila

Baca juga: Survei LSI: 13 Tahun Terakhir Dukungan untuk Pancasila Turun, NKRI Bersyariah Naik

Loading...

Terpopuler