Connect with us

Rubrika

Narasi Kebangsaan Dua Gus Pendakwah

Published

on

Narasi Kebangsaan Dua Gus Pendakwah Gus Muwafiq dan Gus Miftah

Narasi Kebangsaan Dua Gus Pendakwah. Dua Gus Tersebut Tak Lain Adalah Gus Muwafiq dan Gus Miftah. (Ilustrasi Nusantaranews.co)

Dunia dakwah saat ini berjalan dengan sangat dinamis. Dakwah tidak lagi hanya terfokus di mimbar-mimbar masjid. Sebaliknya, dakwah kini tumbuh di pelbagai kalangan dengan beragam media. Di platform media seperti televisi, youtobe, instagram dan facebook bertebaran ragam konten dakwah.

Di sisi lain, era digital  membuat umat Islam dapat memperoleh informasi keagamaan tanpa  terbatas ruang dan waktu. Dengan gawai di tangan, kapanpun dan dimanapun seseorang dapat mencari info tentang ajaran agama. Realitas semacam inilah yang menjadi salah satu alasan dunia dakwah perlu bertransformasi secara variatif.

Beberapa waktu terakhir dunia dakwah bertambah menarik dengan kehadiran dua pendakwah muda dari Yogyakarta. Mereka adalah K.H. Ahmad Muwafiq atau Gus Muwafiq serta K.H. Miftah Maulana Habiburrahman yang lebih dikenal dengan nama Gus Miftah. Keduanya muncul di dunia dakwah  dan mendapatkan banyak perhatian lewat gaya dakwah yang nyentrik dan unik.

Gus Muwafiq terlebih dahulu muncul dengan pembawaan ceramah yang santai tetapi mendalam. Ia lihai menuturkan materi keislaman dipadukan dangan wawasan budaya, politik, hingga sejarah. Konten dakwahnya tidak selalu bertema keagamaan semata. Materi sejarah seperti Babad Tanah Jawa, Syeh Subakir, Sejarah Wali Songo sering ia bahas dalam ceramahnya. Tema-tema tersebut dapat kita tonton di banyak media. Tentu saja ia juga menyampaikan tema kajian keislaman yang umum seperti muamalah dan ubudiyyah. Gus muwafiq juga rajin mengutip hikmah dan teladan kehidupan dari para ulama terdahulu.

Baca Juga: Dakwah di Klub Malam, Aksi Gus Miftah Tuai Decak Kagum

Sementara Gus Miftah pertama kali dikenal lewat sebuah video ceramahnya yang viral. Saat itu, video Gus Miftah saat sedang berceramah di tempat hiburan malam sempat menjadi perbincangan. Berbagai pendapat pro dan kontra bermunculan di masyarakat. Seiring dengan itu. ceramah-ceramahnya mulai menyebar di dunia maya dan ditonton banyak orang.

Baca Juga:  Syarat PDIP Jika Ahok Meminta Dukungannya

Gaya ceramah Gus Miftah  cenderung lugas dan ringan. Cerita-cerita humor menambah keunikan tersendiri. Tak jarang ia menyampaikan tema-tema yang identik dengan anak muda seperti jomblo, cinta dan pernikahan. Dalam ceramahnya, ia seringkali mengajak jamaah bersholawat bersama. Syair-syair penuh hikmah juga sering disenandungkan dengan nada kekinian.

Gus Miftah juga kerap tampil di televisi dan channel youtobe ternama.  Namanya kembali viral saat ia membimbing seorang artis terkenal, Dedi Corbuzier, masuk Islam. Nama Gus Miftah semakin populer dan ceramahnya semakin banyak tersebar di berbagai macam media.  Kini ceramah Gus Muwafiq dan Gus Miftah dapat dengan mudah disaksikan di dunia maya.  Saat ini (September 2019), pengikut keduanya  di media sosial mencapai ratusan ribu. Sementara video ceramahnya dilihat ratusan ribu hingga jutaan kali.

Mengingatkan Kesadaran Berbangsa

Sebagai pendakwah, Gus Muwafiq dan Gus Miftah memiliki sejumlah kemiripan. Pertama, keduanya sama-sama berproses di Kota Pelajar, Yogyakarta. Menurut catatan Ahmad Naufa dalam artikelnya Gus Muwafiq, Dai untuk Milenial Zaman Now, Gus Muwafiq  merupakan mantan aktifis mahasiswa di Yogyakarta. Ia tercatat pernah menjadi aktifis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia dan Sekjen Mahasiswa Islam Asia Tenggara. Gus Muwafiq memulai aktifitas dakwahnya di Yogyakarta dengan mengisi pengajian dari desa ke desa.

Sementara Gus Miftah adalah Pengasuh Pondok Pesantren Ora Aji yang terletak di Sleman, Yogyakarta. Sebelum itu, ia sempat kuliah di IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.  Gus Miftah memulai perjalanan dakwahnya dengan mengisi pengajian dari desa ke desa. Bahkan ia kerap mengisi pengajian di lokasi yang tak tersentuh seperti lokalisasi dan tempat hiburan malam.

Kedua, Gus Muwafiq dan Gus Miftah merupakan alumni pesantren. Gus Muwafiq pernah mengaji di beberapa pesantren tua di Jawa Timur. Sementara Gus Miftah pernah nyantri di Pesantren Bustanul Ulum Jayasakti Lampung Tengah dan Pesantren Nurul Huda Sragen, Jawa Tengah. Latar belakang demikian membuat keduanya tidak hanya fasih menyampaikan ayat al-Qur’an dan hadis akan tetapi juga terampil mengutip khazanah keilmuan dari kitab kuning.

Baca Juga:  Pengakuan Sri Mulyani Soal Kondisi Keuangan Indonesia di Bawah Kepemimpinan Jokowi

Ketiga, keduanya memiliki  gaya penampilan yang unik. Gus Muwafiq  sering menggunakan baju putih sederhana dan bersarung saat berceramah. Postur tubuhnya yang cukup tinggi dengan rambut panjang menjadikannya mudah dikenali. Gus miftah sendiri identik dengan blankon dan kacamata hitam saat berceramah. Tak jarang pula ia memakai pakaian yang kasual. Sama dengan Gus Muwafiq, Gus Miftah juga berambut panjang.

Dengan kekhasan tersebut, penampilan mereka berdua cenderung berbeda dengan pendakwah pada umumnya. Namun dengan penampilan tersebut justru memudahkan keduanya diterima di beragam lapisan  masyarakat termasuk kelompok masyarakat yang termarjinalkan.

Persamaan selanjutnya, keduanya sering menekankan urgensi kesadaran berbangsa dalam menyikapi realitas terkini. Semangat Hubbul Waton Minal Iman (Cinta tanah Air Adalah Bagian Dari Imam) sering disampaikan dalam ceramah mereka berdua. Pada dasarnya, hal ini merupakan kelanjutan dari semangat dan teladan para ulama terdahulu  dalam memadukan keislaman dan kebangsaan.

Di tengah munculnya kelompok yang membenturkan keislaman dan kebangsaan, pemikiran keduanya dapat menjadi mata air bagi umat Islam Indonesia. Sebab sejatinya Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan ijtihad ulama nusantara dalam menyikapi realitas Indonesia yang terdiri dari beragam suku, ras dan agama. Dengan demikian ceramah mereka berdua tidak hanya menambah pengetahuan agama akan tetapi juga menguatkan rasa kebangsaan.

Kehadiran Gus Muwafiq dan Gus Miftah melengkapi beberapa pendakwah yang sudah lebih dulu dikenal di dunia maya. Salah satu tantangan ke depan adalah semangat keberagamaan yang tinggi tanpa diimbangi pengetahuan yang memadai. Tak jarang hal ini melahirkan kebencian, caci maki bahkan aksi radikal dan terorisme. Untuk itu, kehadiran para pendakwah yang ‘alim, berwawasan luas dan memiliki rasa kebangsaan akan memberi penerang bagi umat Islam. Semoga.

Baca Juga:  "Pemotongan Anggaran Boleh Tak Diharamkan, Tapi Jangan Guru"

Oleh: Nasukha, Penulis adalah Pendidik, Peminat Kajian Pendidikan dan Sosial

Loading...

Terpopuler