Mewaspadai Perang Neocortex Amerika dan Cina

Kekuatan Militer AS vs Cina. Foto Ilustrasi/IST

Kekuatan Militer AS vs Cina. Foto Ilustrasi/IST

NUSANTARANEWS.CO – Cara Perang Neocortex (Neocortical Warfare) adalah cara perang tanpa penggunaan kekerasan. Jadi menyimpang dari definisi perang yang diberikan Von Clausewitz, dimana perang merupakan tindakan kekerasan untuk memaksa musuh tunduk kepada kehendak kita. Lebih sesuai dengan pernyataan Sun Tzu, panglima perang yang unggul adalah ia yang dapat menundukkan musuhnya tanpa menggunakan pertempuran.

Berkembangnya pemikiran ini dipicu oleh kemajuan iptek, khususnya dalam biologi dan psikologi. Orang berpikir bahwa inti perang adalah menundukkan kehendak musuh sehingga mau mengikuti kehendak penyerang, tidak melawan atau mempersulit keinginannya. Untuk menundukkan kehendak musuh yang penting adalah menundukkan kehendak pemimpin musuh tanpa harus berperang secara nyata. Kalau pemimpin mau tunduk, ia tidak akan membawa pengikutnya untuk melawan penyerang.

Bahkan ia akan mengikuti kehendak penyerang. Menundukkan kehendak pemimpin musuh tidak harus dengan tindakan kekerasan. Malahan penggunaan tindakan kekerasan mengandung risiko macam-macam, mungkin serangan dikalahkan atau mengundang pihak lain membantu yang diganggu. Selain itu tindakan kekerasan pasti perlu biaya besar yang amat berbeda kalau tanpa tindakan kekerasan.

Iptek menunjukkan bahwa kehendak orang bersumber pada otaknya, khususnya bagian otak yang namanya neocortex. Kalau otak itu dapat dipengaruhi sehingga pikiran orang itu bergerak menguntungkan , maka kehendak orang itu dapat dimanupulasi sesuai kehendak penyerang. Contoh paling sederhana adalah penyuapan yang membuat orang yang terima suap lebih dekat kepada pemberi suap. Suap tidak hanya uang, bisa juga hal lain yang menyenangkan penerima suap sehingga berubah pikirannya. Iptek kemudian menemukan bahwa tidak hanya suap saja jalan untuk mengubah cara berpikir orang. Berbagai teknik dapat dikembangkan yang dapat mencapai tujuan sama.

Cara Perang Neocortex mulai digunakan pemimpin Jerman Adolf Hitler pada tahun 1930-an ketika ia berambisi menguasai Eropa. Hitler pada tahun 1938 berhasil menundukkan Austria tanpa penggunaan kekerasan. Hitler pula yang mengembangkan tindakan penetrasi ke negara-negara Eropa Barat tanpa kekerasan dengan apa yang oleh pihak lawannya di Barat disebut kolonne kelima dan kemudian berkembang menjadi istilah subversi yang sekarang lazim digunakan.

Cara Perang Neocortex terutama tertuju kepada pimpinan pihak yang diserang. Sedangkan Kolonne Kelima dengan jalan propaganda mempengaruhi masyarakat lawan. Hanya Hitler kemudian masih menggunakan tindakan kekerasan untuk menguasai Eropa Barat, meskipun cara perang neocortex dan kolonne kelimanya sudah berhasil mempengaruhi dan melemahkan masyarakat Eropa Barat.

Keberhasilan cara berperang baru itu dibuktikan dengan runtuhnya negara-negara Eropa Barat satu persatu dalam waktu singkat, bahkan Perancis yang dalam Perang Dunia I mengalahkan Jerman dapat dikalahkan dalam kampanye yang hanya berlangsung tiga minggu. Hitler baru gagal ketika hendak merebut Inggris.

Cara Perang Neocortex dan subversi ini kemudian juga diambil Uni Soviet dan diterapkan dalam ambisi Josef Stalin dan Partai Komunis menguasai dunia setelah memenangkan Perang Dunia II. Amerika Serikat relatif lambat dalam penggunaan cara baru itu, karena cenderung terlalu menitikberatkan pada keunggulan teknologi militernya serta kekuatan pembiayaan. Baru setelah menyadari bahwa perang modern perlu pembiayaan amat besar, apalagi mengalami kegagalan seperti di Vietnam yang membuktikan bahwa keunggulan teknologi bukan segalanya, para pakar AS mulai menyadari pentingnya cara berperang tanpa kekerasan, khususnya perang neocortex.

Tidak mustahil pemimpin Uni Soviet Mikhail Gorbachev salah satu korban perang neocortex AS. Setelah memenangkan Perang Dingin AS melancarkan offensif tanpa kekerasan besar-besaran untuk menguasai dunia. Kekurangberhasilan operasi militernya di Irak dan Afghanistan, padahal sudah dikeluarkan biaya amat besar dan dikorbankan banyak pemudanya, membuat orang AS makin sadar bahwa teknologi dan kekuatan ekonomi bukan segalanya. Apalagi setelah ditimpa krisis ekonomi yang hingga kini belum teratasi.

Sebab itu dapat diperkirakan bahwa Cara Perang Neocortex akan makin digunakan AS unntuk mencapai tujuan-tujuannya dan memelihara dominasi dunia. Karena Indonesia termasuk negara yang menonjol dalam kepentingan AS maka kita harus siap dan waspada untuk tidak menjadi korban dari usaha AS itu. Kita tidak perang dengan AS tapi tanpa perang AS akan memperjuangkan kepentingannya yang banyak di Indonesia.

Kiranya keberhasilan mengubah UUD 1945 dengan 4 kali amandemen sehingga batang tubuh konstitusi itu menjadi berbeda dengan Dasar Negara, dengan bantuan orang Indonesia sendiri, merupakan salah satu usaha tanpa kekerasan AS yang merugikan NKRI dan bangsa Indonesia. Akan tetapi kita juga waspada terhadap Cina yang sedang bersaing kuat dengan AS, karena cukup banyak kepentingannya di Indonesia. Dan pasti Cina lebih mahir dan cekatan dari pada AS dalam melakukan Cara Perang Neocortex. (Sego/sayidiman.suryohadiprojo.com)

Exit mobile version